"Mau apa lagi kamu menemuiku?" Sheza menyambut kedatangan Vano dengan tak ramah. Kentara sekali raut wajahnya menampilkan ekspresi tak sukanya. "Kenapa kamu menyambut mantan kekasih terindahmu seperti itu?" Vano memegang dadanya. "Kamu menyakiti hatiku." Pria itu kemudian terkekeh, sama sekali tidak terusik dengan keketusan Sheza padanya. "Mau apa lagi, Vano?" Sheza mengulangi pertanyaan, tanpa menanggapi ucapan Vano sebelumnya. "Aku kemari untuk memberikan penawaran." Vano masuk ke dalam rumah Sheza tanpa dipersilakan oleh yang punya rumah. "Apa aku boleh duduk?" Setidaknya pria itu meminta izin lebih dulu sebelum duduk, padahal jika Sheza tidak mengizinkan pun Vano akan tetap duduk sendiri. Vano hanya berbasa-basi. "Kalau aku larang apa kamu akan pergi dari sini?" sindir Sheza, yan

