00-AWAL MULA
"Mama..."
"Hmm?"
"Aneh deh..."
"Kenapa?"
"Perasaan Ca kok nggak enak."
“Nganter dendeng aja kok pake perasaan.”
“Mama ih.”
“Jangan lama-lama, Ca. Mama kelabakan kalau ngurus pesanan event sendirian.”
“Iya, Ma. Ca turun dulu deh.”
“Salam buat semuanya ya?”
“Sip, Ma.”
“Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumussalam, Mama.”
Layar ponsel menggelap. Cantika mematikan mesin mobilnya dan sebelum membuka pintu ia menyapukan pandangannya ke sekitar. Suasana di halaman rumah paman dan bibinya seketika berhasil membuat Cantika lupa bahwa minggu ini terasa begitu melelahkan.
Ia turun dari mobil, melangkah santai menuju teras. Tepat saat kakinya menapak di depan pintu, aroma pizza yang baru keluar dari oven dan wangi kopi hitam menyapa ramah penciumannya.
Cantika tersenyum, pintu kemudian didorongnya hingga terbuka.
Dari dapur terdengar suara Hannah memanggil salah satu putranya, sementara tawa kecil menyusul setelahnya. Tak ada yang berubah. Rumah itu masih seramai dan sehangat yang ia ingat.
“Assalamu’alaikum... Bunda? Ayah?”
“Wa’alaikumussalam,” jawab pemilik rumah. Tak hanya Hannah-sang bibi-namun juga anak-anaknya.
Cantika membawa langkahnya langsung ke dapur.
"Bunda...."
Hannah menoleh. "Eh, anak Bunda datang. Sendirian, Ca?"
Cantika mengangguk seraya menyerahkan dua kotak food container berisi dendeng kering buatan sang ibu. "Titipan Mama nih, Bund."
"Banyak banget, Ca?"
Cantika hanya tersenyum. Pandangannya berkeliling dapur yang sejak kecil sudah terasa seperti rumahnya sendiri.
"Ayah Edo belum bangun, Bund?” tanyanya kemudian.
“Ada, lagi ngelukis di belakang. Gih samperin, sekalian bawain ini, Ca."
Cantika memperhatikan nampan yang tengah diisi oleh Hannah. Tiga buah mini pizza dan secangkir kopi pahit.
“Siap, Bunda!”
Tak lama kemudian, Cantika sudah duduk di studio kaca rumah itu. Sang paman yang dipanggilnya Ayah masih fokus menggoreskan kuas ke permukaan kanvas.
“Ayah sudah tua, Ca.”
"Tua aja masih ganteng begitu, Yah," celetuk Cantika.
Edo terkekeh. Saat mulai menikmati sarapan favoritnya, Cantika pindah duduk ke kursi lukis, berhadapan dengan kanvas yang penuh dengan warna warni akrilik.
Seperti biasa, Cantika selalu kagum dengan hasil karya pamannya.
"Ca?”
Cantika menoleh. "Iya, Yah?"
"Ca sudah ketemu Sam?"
Senyum di wajah Cantika seketika menghilang. "Sam, Yah?"
Edo menghela napas pelan. "Bunda nggak bilang ya?"
"Bilang apa, Yah?"
"Sam pulang dini hari tadi."
Hening.
Tak ada jawaban.
Cantika hanya menatap kosong ke arah kanvas di hadapannya.
Jemarinya perlahan meremas ujung blouse.
"Oh..."
Hanya itu.
Padahal enam tahun lalu, nama itu selalu berhasil membuat matanya berbinar.
Edo menatapnya prihatin. "Ca..."
Cantika buru-buru berdiri. "Ca ke kafe dulu ya Yah. Keburu siang. Ada booking-an event soalnya. Kasihan Mama repot sendiri.”
‘Tuh, benar kan!' batin Edo.
Saat Cantika meraih tangan Edo untuk berpamitan, pria itu menahannya sejenak. "Ca... mau sampai kapan nggak ngomong sama Sam? Ayah dan Bunda sedih lho."
Cantika menunduk. "Nggak tahu, Yah."
"Apa nggak bisa kalian selesaikan? Sebenarnya ada apa sih nak?”
Tak ada jawaban.
Hanya kecupan hormat di punggung tangan Edo sebelum Cantika melangkah keluar studio lebih dulu.
Langkahnya cepat.
Ia hanya ingin pergi sebelum takdir mempermainkannya lagi.
"Bunda..."
"Ya, Nak?"
“Ca!” tegur Bintang—putra kedua Edo dan Hannah.
Cantika menoleh, mendapati tiga bersaudara Wisesa yang tengah menikmati sarapannya. Hanya Sam saja yang tak ada di sana. Mungkin karena panik, ia sampai tak menyadari keberadaan mereka.
“Hai...” balasnya kaku.
Bintang mengernyit.
Bumi—si sulung—menatapnya datar. ‘Aya naon sih? Tumben nggak cerewet nanyain Neng Yuna dan Eira. Pasti gara-gara Sam lagi ini mah.’
“A Bumi, Jihan.” Cantika menyusulkan sapaan.
“Atuh Teteh kenapa?” tanya Jihan yang hanya dijawab dengan gelengan singkat.
"Cantika pamit ya Bunda," ujar Cantika lagi, sambil memaksa meraih tangan Hannah.
"Lho, Ca? Kok buru-buru banget?"
“Ditunggu Mama, Bund.”
Genggaman di tangan Hannah dilepasnya. Ia lalu berbalik arah setelah melambaikan jemarinya singkat.
“Ca?” Hannah masih berusaha menghentikan keponakannya itu.
Namun yang dipanggil justru mempercepat langkah, terbirit-b***t.
Hingga....
Bruk!
"Aduh..."
Tangannya refleks mengusap hidung yang terasa nyeri akibat menabrak d**a seseorang.
"Ca?"
Hening.
Suara itu....
Suara yang selama enam tahun terakhir hanya hidup di dalam kenangan.
Perlahan Cantika mengangkat wajah.
Napasnya seketika berhenti.
Samudera.
Tak ada yang berubah.
Justru itu masalahnya.
Enam tahun berlalu... namun pria itu masih mampu membuat jantungnya lupa cara berdetak dengan benar.
“Ca...” lirih Samudera lagi.
Sam melangkah sedikit lebih dekat.
Namun... Cantika justru mundur, lalu memalingkan wajah sebelum mengayun langkah lagi, berusaha menjauhinya.
Jemari Sam terulur, cepat mencengkeram pergelangan tangannya.
"Lepas!" sentak Cantika.
Sam menutup matanya sejenak, mencoba mengendalikan emosinya. "Please, Ca..."
Suara Sam terdengar jauh lebih pelan daripada yang pernah Cantika ingat.
"Let's talk."
Cantika tertawa hambar. "Gue nggak punya waktu buat lo!"
Sam terhenyak. Setiap kali Cantika bicara dengan kemarahannya, seolah hati Samudera diremas tanpa ampun. Ia tak pernah paham apa yang membuat Cantika memperlakukannya seperti ini, bahkan setelah enam tahun berlalu.
"Ca..."
"LEPAS!"
Bukannya melepaskan, Sam justru mengangkat tubuh mungil itu ke pundaknya.
"Ayah!" serunya tanpa menoleh ke Edo. "Sam pinjam studio."
"LEPAS!"
Rontaan Cantika tak dihiraukannya.
Begitu pintu studio tertutup dan terkunci, Sam menurunkannya perlahan.
Cantika langsung memberi jarak.
Air matanya jatuh lebih dulu.
Sam menatapnya lekat.
Lama.
"Ca..."
Suara itu pecah.
Nyaris tak terdengar.
Cantika menggeleng keras.
Seolah satu langkah lagi Sam mendekat, benteng yang ia bangun selama enam tahun akan runtuh seketika.
“Ca?”
Cantika meremas erat tepi blouse-nya.
Lalu...
"GUE BENCI SAMA LO!"