BEFORE EVERYTHING-01

2153 Kata
Jam digital di samping tempat tidur menunjukkan pukul 06:07. Cantika menatap angka itu selama beberapa detik. "..." Lalu matanya membelalak. "Astaghfirullah!" Ia langsung menyingkirkan selimut dan berlari ke kamar mandi. Hari pertamanya di bangku SMA. Hari pertama masa orientasi. Hari pertama bertemu teman-teman baru. Dan hari pertama menstruasi. Cantika terbangun satu jam lebih lambat dari alarm yang kali ini tak ia dengar. Mungkin karena nyeri yang mengganggu tidurnya tengah malam tadi. Lima belas menit kemudian, Cantika sudah turun tangga sambil merapikan dasi seragamnya. Rambut yang biasanya tertata rapi kini hanya dikuncir seadanya. Papan nama MOS tergantung miring di leher. "Sarapan dulu, Ca," tanya Andien dari ruang makan. "Nanti telat, Ma." "Minum s**u?" "Nggak, Ma. Nanti malah muntah. Masih pagi, Ca baru bangun banget." “Papa antar ya?” timpal Dirga. “Nggak usah, Pa. Malah makin telat yang ada.” “Naik motor.” “Coba aja Papa naik motor lagi! Bannya Ca cabik-cabik pakai samurai!” omel Cantika. “Nggak kapok-kapok! Heran banget! Organ tubuh tuh nggak ada spare part-nya, Pa.” Dirga malah terkekeh. Andien menghela napas panjang. “Ca berangkat ya, Pa, Ma. Kayaknya Sam udah nunggu di lobi.” “Nanti roti sama coklat panasnya jangan lupa dimakan. Biar nggak pusing pas dijemur di lapangan,” ujar Dirga lagi. “Hah?” “Palingan dibawain Sam lagi.” Cantika menaik-turunkan bahunya lalu memasukkan kotak bekal makan siang dan tumbler ke dalam tasnya. Saat ransel itu tersampir di punggung, ponsel di sakunya terasa bergetar. Sam: 📷 Sam mengirimkan foto tubuh Hulk dengan wajahnya yang diwarnai hijau juga. Sam: Buruan atuh, Ca. Aku dah lumutan ini. Cantika tergelak lepas. “Gotta go, Pa, Ma,” ujarnya kemudian. “Gih sana, kasian yang nungguin,” timpal Dirga. “Ca nggak pernah nyuruh Sam nungguin, nyuruh jemput juga nggak pernah. Dia sendiri yang mau,” balas sang putri, sewot. “Hmm!” “Papa ih!” “Papa nggak komen apa-apa.” “Masih pagi ih Papa malah ngeledek melulu!” “Nggak, sayang. Udah sana berangkat.” Cantika menyalam kedua orangtuanya, lalu berlari kecil menuju lift. Begitu pintu lift menutup perlahan, Andien baru menoleh ke suaminya. "Kak Dirga ngabarin Sam kalau Ca kesiangan? Sam nggak mungkin datang mepet soalnya kalau buat Ca." Dirga terkekeh. “Buat Ca dan orang lain," koreksi Dirga. "Kalau sama kita-kita malah telat mulu itu bocah.” "Berarti bener ngabarin?" "Iya. Semalam Ca kebangun, nyeri perutnya. Haid hari pertama.” Dirga memang punya kebiasaan terbangun di tengah malam untuk memeriksa keadaan anak-anaknya. “Kok nggak bangunin aku?” “Aku aja diusir Ca, baby. Aku cuma bawain kompres hangat aja.” “Oh.” “Selalu begitu kan. Kalau sakit tengah malam, bangunnya pasti kesiangan,” ujar Dirga lagi. Ia menaik-turunkan bahu. "Lagian dari dulu kalau mulai sesuatu yang baru, atau mau perform, Ca emang nggak pernah sarapan. Mual katanya." Andien tersenyum simpul. "Itu dia sebabnya Sam selalu bawa sarapan lebih." *** Pintu kaca lobi terbuka lebar. Seorang pemuda berseragam putih abu-abu yang sedang duduk santai di atas motor hitam spontan menoleh. Helm cadangan tergantung di setang, sementara badge OSIS menempel rapi di rompi abu-abunya. Begitu melihat Cantika menuruni anak tangga, senyum Sam langsung mengembang. "Kirain dandan dulu." Cantika menatapnya datar. "Kapan sih gue dandan ke sekolah?" "Iya sih." Sam mengangguk. "Nggak usah lah. Biar yang lain aja." Cantika mendengus pelan. "Kita bakalan telat banget, ya?" "Insyaallah nggak." Sam melirik jam tangannya. "Paling mepet." Ia berdiri, lalu mengambil helm dari setang motornya dan, seperti sudah menjadi kebiasaan, langsung memakaikannya ke kepala Cantika. "Kan gue harus udah sampai jam enam empat lima, Sam." "Aman." "Still yakin sekali lo." "Ada aku." Cantika menaikkan sebelah alis. "Emangnya lo siapa?" Sam tersenyum lebar. "Tatib MOS." Cantika memukul pelan lengan atasnya. "Malah makin ngaco." Gelak Sam spontan pecah. "Oke, Neng Cantika peserta MOS. Silakan naik." Sam kembali duduk di motor lebih dulu. Cantika baru hendak naik saat Sam meraih sesuatu dari gantungan motornya. Sebungkus roti hangat. Masih dibungkus kertas cokelat sederhana. "Nih,” ujarnya, menyodorkan ke Cantika. Gadis itu memutar bola matanya. "Apaan lagi sih?" "Roti, Ca. Aman, halal, dibuat dengan roti, butter, dan selai yang belum kadaluarsa." "Iya, gue juga tau ini roti." "Oke!" Cantika masih memajang ekspresi datar. “Kenapa sih?” tanya Sam lagi. Cantika menatap roti di tangannya. "Gue nggak laper." "Oh." Sam mengangguk santai, seolah jawaban itu memang sudah bisa ditebak. Bukannya memaksa, ia malah mengambil kembali tas bekal mungil dari tangan Cantika, menautkannya lagi di gantungan motor. "Siapa tau nanti kamu laper." Cantika malah meratapi roti itu. Sam menoleh menatapnya. "Atau... kamu maunya nasi Padang?" Cantika mengernyit. "Pagi-pagi makan nasi Padang?" "Pakai tunjang, Ca." Cantika mengerjap. "Bayarnya pakai tunjangan dari Papa Ga." Cantika akhirnya tak kuasa menahan tawanya. Lengan Sam kembali menjadi sasaran gebukannya. "Receh banget!” "Yang penting kamu ketawa." Cantika mendecak. Sam menyusul tawa. Cantika menggeleng pelan sambil meraih tas pembungkus roti itu juga pada akhirnya. "Kalau nanti nggak kemakan gimana?" "Terserah kamu. Yang penting aku sudah bawain." "Dibuang?" "Jangan atuh, Ca." "Dikasih orang?" "Boleh. Yang penting aku nggak lihat dan jangan bilang itu roti dari aku." "Gue baru haid, Sam. Perut nggak nyaman. Beneran nggak kepingin makan apa pun." "Ya udah. Ada coklat hangat juga di lunch bag. Minum itu aja. Rotinya kalau nanti perut kamu sudah enakan." Cantika menatap wajah Sam sejenak. Cowok itu benar-benar terlihat santai. Tak membujuk. Tak memaksa. Seolah membawakan roti setiap pagi hanyalah hal biasa, dan dimakan atau tidak, bukan urusannya. "Thanks, Sam," ucap Cantika pelan sambil duduk di balik punggung Sam. Suaranya hampir tenggelam oleh deru kendaraan yang mulai memenuhi jalan utama. Meski Sam tetap mendengarnya. Ia hanya tersenyum simpul. “Pegangan, Ca,” ujar Sam sambil menarik satu tangan Cantika ke pinggangnya. “Kita jalan?” "Yuk!" Motor hitam itu pun melaju meninggalkan area lobi apartemen, membelah jalanan Jakarta yang perlahan mulai dipenuhi kesibukan pagi. *** Jalan utama masih dipenuhi orang-orang yang berangkat kerja dan anak sekolah. Sam tak memilih rute itu. Ia justru melajukan motornya melewati area kompleks-kompleks perumahan. "Eh, Sam!" Seorang bapak yang sedang menyapu halaman melambaikan tangan. "Pagi, Pak!" seru Sam. "Kesiangan bangun kamu?" "Iya, Paaak." Bapak itu tertawa. "Semangat!" Sam menaikkan kepalan tangan kirinya ke udara. Tak jauh dari situ, tukang sayur yang sedang mendorong gerobak juga menyapanya. "A Sam!" "Pagi, Bu." Sam berhenti sejenak, meminta dua plastik gendar dari sang penjual. Transaksi berlangsung cepat, lalu motor melaju lagi. Cantika yang akhirnya menyesap pelan coklat hangat buatan Sam, mengernyit memperhatikan itu semua. "Kok lo kenal mereka?" "Hah?" "Semua orang nyapa lo. Satpam The Dwellings aja kenal lo semua. Sekarang tukang taman dan tukang sayur juga." "Iya, ya?" balas Sam. Cantika mengadukan helm mereka pelan. Bahu Sam tampak berguncang. “Aneh banget ih!” ujar Cantika lagi. “Apanya yang aneh?” “Gimana bisa lo kenalan dan ngobrol sama siapa saja tanpa canggung sedikit pun?” “Iya juga sih, kok bisa ya, Ca?” “Nggak jelas ih Sam!” Karena Cantika itu... tipe orang yang mengucapkan "pagi" saja kadang sudah cukup melelahkan. Lampu merah menyala. Motor berhenti. Sam melirik kaca spion. Dan suara seruput dari tumbler coklat menyapa telinganya. "Laper apa haus?" "Hah?" "Itu coklatnya habis." Cantika baru sadar ia memang terus menyesap coklat hangat itu sejak tadi. "Nggak sadar ih." Sam kembali terkekeh. "Perut kamu nggak apa-apa, Ca?" “Hmm.” “Nggak usah jaim gitu sama aku, Ca.” Cantika memberengut. “Apaan sih!” Sam menoleh ke kaca spion lagi. Sudut bibirnya kembali terangkat. Cantika mencubit pelan lengan pelan. "Kenapa sih lo ketawa mulu?" "Lucu aja." "Apanya?" "Ya..." Sam berpikir sejenak. "Nggak tau sih." Cantika mengadukan helm mereka lagi. Nyebelin! *** Gerbang SMA mereka sudah dipenuhi siswa-siswi. Spanduk besar bertuliskan Selamat Datang Peserta Masa Orientasi terbentang di depan sekolah. Motor Sam terparkir sempurna. Cantika pun turun perlahan. Baru saja Cantika menjejakkan kaki, dua siswa laki-laki berseragam OSIS memanggil Sam lantang. "Woy, sini bentar!" Sam mengangkat tangan. "Bentar!" Ia lalu mengambil helm dari kepala Cantika begitu saja. Gerakannya begitu alami hingga Cantika baru bereaksi setelah helm itu sudah berpindah tangan. "Gue bisa sendiri.” "Iya, Ca." Cantika hanya menyipitkan mata. Belum sempat ia melangkah lebih jauh, seorang siswi berambut sebahu menghampiri sambil membawa clipboard. "Kamu anak baru! Langsung baris di bagian telat ya,” ujarnya. Sam menggeleng. “Nggak! Kamu ke UKS aja, Ca!” Windi mengernyit bingung. “Kenapa?” “Haid hari pertama,” jawab Sam. “Orang kerja aja dapat cuti, Win. Kalau pingsan, lo yang angkat dia ke UKS sendirian bisa?” Windi memperhatikan wajah Cantika. Sam benar, gadis di depannya memang terlihat lebih pucat daripada siswa baru lainnya. Bukan karena memang warna kulitnya demikian, namun karena kondisi tubuh Cantika memang kurang fit. “Oke. Ke UKS aja. Kalau nanti enakan, baru gabung.” Cantika mengangguk kaku. “Makasih, Kak.” “Kelas kamu X-2 ya, Ca. Nanti aja masuknya, sekarang langsung ke UKS,” timpal Sam. “Sam,” bisik Cantika, hendak protes agar tak diperlakukan ‘istimewa’ seperti ini. “Muka kamu pucat dari tadi, Ca,” potong Sam. “Take a rest, okay?” Windi ikut mengangguk. "Bener. Nggak usah maksain." Sam lalu menoleh ke arah salah satu temannya yang tadi memanggil. "Raf!" "Hah?" "Gantiin gue di bagian telat bentar." "Oke!" "Thanks." Sam kembali menoleh ke arah Cantika. "Ayo, Ca." Cantika mengerutkan dahi untuk kesekian kali. "Lo nggak ada kerjaan?" "Ada dong." "Gue bisa kok ke UKS sendiri." "Santai. Sekalian, Ca. Aku juga mau ke sana.” “Ngapain?” “Ngecek ada bed kosong atau nggak.” "Sam!" "Hmm?" "Gue bukan pasien." “Iya,” jawab Sam santai. “Nggak enak banget ih kalau dilihat orang lo malah ngistimewain gue.” “Biar tunjangan dari Papa Ga nambah, Ca!” "Receh banget lo!" "Tapi kamu ketawa." Cantika baru menyadari sudut bibirnya terangkat. Ia langsung mengalihkan pandangan. Nyebelin! Sam memang selalu berhasil membuatnya tertawa di saat-saat yang paling tak tepat. Pemuda itu hanya terkekeh pelan, lalu berjalan di belakang Cantika, menemaninya hingga tiba di sebuah ruangan dengan penanda UKS tergantung di atas pintu. Seolah mengantar Cantika ke sana adalah bagian dari daftar tugas panitia yang memang harus ia selesaikan pagi itu. *** Bel istirahat pertama akhirnya berbunyi. Suara riuh memenuhi koridor kelas X. Beberapa siswa baru berhamburan keluar menuju kantin, sementara yang lain memilih tetap di kelas. Cantika mengembuskan napas pelan lalu menyandarkan punggung ke kursi. Perutnya masih terasa tak nyaman, meski tak separah pagi tadi. “Lo sakit lagi?” Suara dari bangku sebelah membuat Cantika menoleh. Siswi berkacamata yang sejak tadi duduk di samping kirinya tersenyum ramah. "Gue Delia." Cantika mengangguk tipis. "Cantika." "Iya, tadi gue dengar nama lo. Cuma kita belum sempat ngobrol." Cantika hanya melempar senyum. “Tadi gue lihat lo datang bareng sama Kak Samudera,” ujar Delia lagi. Cantika mengangguk. “Oh. Iya.” “Abang lo?” "Bukan." "Saudara?" “Kenapa memangnya?” balas Cantika. Delia tampak semakin penasaran. “Atau... pacar?” "Hah?" “Soalnya Kak Samudera kelihatan perhatian banget.” “Oh. Itu....” Ia malah bingung harus menjelaskan dari mana. Cantika paham kalau ia dan Sam bersaudara karena Sam adalah putra dari paman dan bibinya. Tapi entah kenapa ia tak nyaman membeberkan silsilah keluarganya ke seorang teman sekelas yang baru ia kenal beberapa jam. Belum sempat Delia bicara lagi, seseorang masuk ke kelas mereka. “Ca!” Beberapa kepala langsung menoleh bersamaan. Sam datang bersama dua panitia OSIS lain yang memilih menunggu di depan pintu. “Jangan lama-lama, Sam!” seru salah satu temannya. “Bawel lo!” balas Sam. “Duluan aja sana!” Ia tetap mendekat ke meja Cantika. “Ngapain?” tanya Cantika, merasa canggung dengan semua pasang mata yang memperhatikan mereka. “Rotinya mana?” “Ada di loker,” jawab Cantika. Sam meletakkan mangkuk kertas tertutup di atas meja. “Makan ini aja.” “Apaan ini?” “Sop ayam sama nasi sedikit. Masih ngepul.” Cantika diam saja. Sementara Sam memperhatikan wajah Cantika. Seolah memastikan sendiri kondisi gadis itu. Baru setelahnya... ia tersenyum. “Habisin.” Tanpa berkata apa-apa lagi, Sam langsung berbalik, melangkah cepat ke pintu, merangkul kedua temannya. “Ayo!" Ketiga panitia itu kembali berjalan menyusuri koridor. Cantika membuka tutup mangkuk kertasnya. Di sampingnya, Delia masih memperhatikan punggung tiga kakak kelasnya yang semakin menjauh. "Kamu yakin nggak pacaran sama Kak Samudera?” Cantika menoleh. "Padahal sayang banget." Cantika mengernyit. “Apa yang sayang banget?” “Kak Samudera, kayaknya sayang banget sama kamu.” Cantika mengikuti arah pandang Delia. Sam tampak lepas bercanda bersama panitia lain di ujung koridor sebelum masuk ke Ruang OSIS. "Dia emang begitu kok," gumam Cantika. "Gimana?" "Perhatian dan ramah sama semua orang." “Oh!” tanggap Delia, terdengar ragu. “Kamunya kali yang nggak ngeh. Soalnya kelihatan beda banget lho, Cantika.” Cantika hanya menggeleng pelan sambil menyendok nasi sup-nya. "Nggak mungkin." “Apa yang nggak mungkin?” “Ya nggak mungkin aja.” "Karena?" Cantika menyendok supnya pelan. "Karena dari dulu gue dan Sam emang udah begini."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN