Bel panjang terdengar di seantero gedung, menandakan waktu istirahat telah usai.
"Kepada seluruh peserta MOS, harap berkumpul di aula dan kembali ke kelompok masing-masing," ujar salah seorang panitia yang menggema dari unit-unit pengeras suara yang tersebar.
Mentari siang terasa sedikit lebih lembut dibanding pagi tadi, mungkin karena langit yang menaungi padat awan dan rimbun pepohonan mengurangi serangan panas langsung.
Cantika mengembuskan napas pelan sebelum berdiri dari kursinya. Perutnya memang sudah jauh lebih baik. Sup hangat yang dibawakan Sam saat istirahat pertama lumayan membantu mengurangi rasa kembung yang sejak semalam mengganggunya.
“Ca,” tegur Delia. Gadis itu lalu mendelik ke arah jendela.
Cantika mengikuti, mendapati Sam yang mencengir lebar sambil melambaikan tangan singkat.
Ia mendengus pelan.
‘Apa lagi sih?’
Sam menggerakkan jarinya. Bahasa isyarat.
Dari empat bersaudara Wisesa, hanya Sam yang bisa melakukannya. Diajari langsung oleh Dirga, belajarnya bersama Cantika.
“Perut kamu masih sakit nggak?”
Cantika menggeleng. “Better.”
“Kalau masih sakit ke UKS aja.”
“Gue mau ikut acara di aula.”
“Di aula tuh duduk di lantai terus. Perut kamu makin kembung nanti.”
“Nggak apa-apa. Aman kok.”
Sam mendengus, frustrasi. “Bilang aku kalau rasanya makin nggak enak!”
“Oke.”
Sam mengangguk, lalu bergeser beberapa meter, berdiri tak jauh dari tangga.
"Hayo..." Delia menyenggol pelan lengan Cantika.
Cantika menoleh. “Kenapa?”
“Lo berdua bisa bahasa isyarat?”
“Lo juga bisa?”
“Nggak,” tanggap Delia. “Cuma... lo berdua tuh sweet banget tau, Ca. Kayak punya kode pribadi. Pengeeen!”
“Ih, apaan sih!”
“Lo yakin sebatas sepupuan sama Kak Samudera?”
“Hmm.”
“Hamhemhamhem aja lo.”
“Kepo aja lo,” balas Cantika.
“Gemes banget gue, Ca.”
“Iya kok, gue dan Sam cuma sepupuan.”
“Tapi sepupu kan nggak apa-apa berjodoh.”
“Teorinya begitu. Tapi kita masih SMA ya, Delia. First day!”
Delia belum menyerah. “Berarti sebenarnya lo suka sama Kak Samudera?”
“Biasa aja sih,” tanggap Cantika, tak acuh.
“Yakin lo? Bisa biasa aja dengan cowok selevel dia?”
“Level apaan?” Cantika terkekeh.
“Ya ampun, Ca... kayaknya karena lo sepupuan deh, makanya lo nggak silau sama pesonanya.”
“Geli banget lo!”
Delia tergelak renyah. “Sekali lagi gue tanya. Lo yakin biasa aja ke Kak Samudera?”
“Insya Allah.”
“Kalau Kak Samudera jadian sama cewek lain?”
“Ya biarin aja.”
“Serius?”
Cantika mengangguk.
“Kalau gue jadi lo mah, biarpun sepupu, nggak bakal gue izinin cewek-cewek lain dekatin Kak Samudera.”
“Ya sudah, kalau gitu... gue nggak izinin lo dekatin Sam.”
Tawa Delia pecah, nyaris terbahak kalau saja ia tak ditegur salah satu tim tata tertib.
Cantika mengatupkan bibirnya, menahan tawa.
Tepat saat titik pandang Cantika tak sengaja bertemu dengan Sam, pemuda itu tersenyum lebar sambil memiringkan wajahnya.
Dan selalu saja hal yang sama terjadi... degup jantung Cantika meningkat, perutnya pun terasa ngilu.
***
Kegiatan kelompok dimulai. Masing-masing grup diminta membuat yel-yel, poster, sekaligus menampilkan kreativitas sederhana.
Suasana yang sejak pagi kaku, kini mulai berubah lebih mengalir dan ramai. Beberapa siswa mulai saling bercanda, tak lagi sekadar berbincang canggung. Yang lain sibuk menghias karton warna-warni. Sebagian lain memperdebatkan kreatifitas apa yang unik dan pantas untuk ditampilkan.
Cantika mendapat tugas membuat tulisan yang akan ditempel di kanvas poster. Tulisan tangannya memang paling rapi di kelompok.
Saat ia sedang menulis kalimat terakhir... sebuah bayangan berhenti menutupi kertasnya.
"Ca?”
Cantika bahkan tak perlu mendongak.
"Hmm?"
Sam menunduk, menukar tumbler kuning Cantika dengan tumbler lain berwarna merah menyala. “Air hangat.”
Akhirnya Cantika mengangkat pandangannya.
Sam memicingkan mata, memperhatikan setiap inchi wajah Cantika. “Kamu nggak kepingin pingsan kan?”
“Tatib MOS banyak ya?” balas Cantika, pelan.
“Kenapa memangnya?”
Cantika mendengus.
Namun, Sam tetap saja diam di posisinya, masih mengamati Cantika. “Kalau sakit banget, ke UKS aja.”
“Sam ih, lo awasin yang lain kek.”
“Ca....”
“Serius. Gue nggak apa-apa.” Ia meminta Sam mendekatkan wajahnya. “Orang-orang pada ngelihatin. Gue nggak nyaman,” bisiknya.
Sam spontan menyapukan pandangan.
Namun... tetap saja ekspresinya santai, seolah bukan hal yang menyebalkan ditatap seisi aula.
“Air hangatnya diminum,” ujarnya kemudian. “Sepuluh menit sekali berdiri, biar nggak pegal.”
Cantika memutar bola matanya, lalu terpaksa mengangguk daripada Sam tak pergi-pergi.
“Kamu nggak nyanyi?” tanya Sam lagi.
“Kenapa gue harus nyanyi?” balas Cantika.
“Kali aja kamu mau perform. Aku bisa nemenin, main gitar. Atau duet sekalian.”
“Lo aja nyanyi sendiri,” ketus Cantika.
Sam menahan tawa. Kalau saja bukan di sekolah, ia pasti sudah mencubit gemas pipi yang pemiliknya tengah memberengut itu.
“Sana ih, Sam.” Cantika memelas.
“Oke.”
Saat Sam beranjak, Cantika kembali menunduk, berusaha fokus ke tulisannya lagi. Ia mulai memberi hiasan-hiasan kecil di setiap rangkaian kata.
Di balik diamnya, Cantika sadar jika banyak pasang mata terus memperhatikan ia dan Sam.
"Itu Kak Samudera, kan?" bisik seorang siswi dari kelompok sebelah.
"Iya,” balas temannya. “Tadi ke kelas X-2. Gue pikir emang lagi keliling, taunya ke kelas kita nggak masuk.”
“Sampai disamperin ke kelas?”
“Ya nggak tau juga sih. Gue nggak lihat detailnya.”
"Itu pacarnya Kak Samudera ya?" tanya siswi lain.
Delia yang tadinya tengah mewarnai beberapa spot di poster, menoleh ke arah kelompok itu.
“Sayang banget kalau sudah punya pacar,” ujar salah satu dari mereka lagi.
“Naksir lo?”
“Memangnya lo nggak?”
“Jangan deh.”
“Kenapa?”
“Kak Samudera tuh gebetannya Kak Fara.”
“Serius?”
“Iya.”
“Lo tau dari mana?”
“Ada info yang bisa dipercaya pokoknya.”
Cantika pura-pura tetap fokus menghias tulisannya.
Padahal... kuping dan dadanya terasa panas.
‘Fara? Kok Sam nggak pernah bilang lagi dekat sama cewek?’
Tepat pukul empat belas, MOS hari pertama akhirnya selesai. Seorang guru menutup kegiatan dengan pengarahan singkat. "Besok semua datang tepat waktu ya. Tidak ada toleransi keterlambatan."
"Baik, Pak!"
"Yang atributnya kurang lengkap, besok dilengkapi."
"Siap, Pak!"
"Hati-hati di jalan. Silakan bubar dengan tertib."
Suasana sekolah langsung berubah riuh.
Semua siswa berhamburan menuju gerbang.
Cantika beranjak ke toilet. Sepertinya akan lebih aman jika ia mengganti tamponnya lebih dulu sebelum melangkah pulang.
Koridor sekolah mulai lengang. Sebagian besar siswa baru sudah berlarian menuju gerbang, sementara beberapa panitia OSIS masih sibuk membereskan perlengkapan MOS.
Begitu mendorong pintu toilet perempuan, hawa yang jauh lebih sejuk langsung menyambutnya.
Di depan wastafel tampak beberapa siswi kelas XI masih mengenakan rompi panitia. Mereka mencuci tangan sambil mengobrol santai. Cantika hanya mengangguk tipis sebagai salam, lalu langsung masuk ke salah satu bilik.
Tak terlalu lama.
Sekitar lima menit kemudian, ia keluar sambil merapikan rok seragamnya, lalu beranjak ke depan wastafel, memutar keran, lalu mulai mencuci tangan.
Belum sempat menutup keran, suara lembut menyapanya dari balik punggung, dari sisi dengan dinding-dinding cermin.
"Kamu Cantika, ya?"
Cantika menoleh. Salah satu siswi kelas XI yang mencuci tangan dengan teman-temannya saat ia masuk ke toilet tadi. Perempuan itu tinggi, tubuhnya proporsional, rambut hitam sebahu, kulitnya cerah dengan mata teduh dan paras ayu lembut. Kakak kelasnya itu tersenyum padanya.
Kalau bukan karena rompi OSIS yang dikenakannya, Cantika mungkin akan mengira kakak kelas itu seorang model majalah remaja.
"Iya, Kak. Saya Cantika."
"Kelas X-2?"
"Iya."
Siswi itu mengangguk pelan. Lalu mengikis jarak beberapa langkah. Ia menatap tangan Cantika yang masih lembab, lalu kembali ke wajah lawan bicaranya. “Namaku Fara."
Cantika membalas dengan anggukan. "Halo, Kak."
"Aku suka sama kreatifitas kelompok kamu."
Cantika tersenyum simpul. "Oh..."
“Capek ya, Ca?”
“Nggak lebih capek dari panitia, Kak.”
Fara terkekeh. "Tapi, hari pertama MOS memang capek kok."
“Iya sih, Kak.”
"Terus, dari kamu datang, sampai sekarang malah, kamu kelihatan pucat. Lagi sakit?"
Cantika spontan menoleh ke kaca, mengusap pipinya sendiri.
"Udah mendingan kok, Kak,” tanggapnya, kembali menatap Fara. “Haid hari pertama aja.”
"Syukurlah."
Fara menatap cermin, lalu kembali merapikan pakaiannya yang sudah rapi. Gerakannya begitu anggun dan tenang.
‘Kayak Uni Anne banget, berasa lihat kaum bangsawan.’
"By the way, Ca... aku boleh nanya sesuatu?"
Cantika mengangguk. "Boleh, Kak."
Fara kembali menatap Cantika, tersenyum simpul. “Kamu dekat sama Sam ya?”
Cantika mengerjap. Jujur saja, jika teman-temannya yang bertanya, ia tak terlalu merasa aneh. Namun saat Fara yang bertanya, ada sedikit perasaan tak nyaman hinggap di dadanya.
"Oh... iya, Kak."
"Kalian pacaran?"
“Hah? Nggak, Kak.”
“Sahabatan?”
“Mmm... kayaknya lebih tepat dibilang begitu.”
Fara mengernyit. “Maksudnya?”
“Sam anaknya tante saya.”
“Oh... kalian sepupu?”
‘Nggak gitu juga sih. Tapi nggak salah juga.’ Cantika menghela napas pelan. “Iya, Kak.”
Yang lebih aneh lagi, perempuan itu tergelak renyah. Bukan sekadar tersenyum seperti sebelumnya. Meski... tetap saja bahkan caranya tertawa begitu elegan.
"Pantas akrab."
Cantika hanya mencengir canggung.
“Sorry ya, Ca... maaf kalau aku bikin kamu nggak nyaman dengan pertanyaanku,” ujar Fara lagi.
“Oh, nggak apa-apa, Kak.”
“Soalnya... Sam kan memang orangnya perhatian sama siapa aja ya. Jadi ngelihat dia dekat sama orang baru, bikin kita-kita penasaran."
"Iya,” jawab Cantika. "Dia emang begitu, Kak."
Fara tersenyum lagi. "Iya."
Namun ‘iya’ itu dilontarkan dengan ekspresi yang membuat hati Cantika semakin terasa disentil. Entah kenapa... satu kata itu terdengar sedikit berbeda.
“Ya sudah, aku duluan ya, Ca.”
‘Dia nungguin gue di toilet cuma buat nanya gue siapanya Sam? Aneh aja atau aneh banget?’ Belum sempat Cantika memikirkan sikap Fara lebih jauh, perempuan itu sudah lebih dulu melangkah melewati pintu.
"Bye, Cantika."
"Iya, Kak."
Pintu toilet kembali tertutup.
Cantika masih berdiri sejenak di depan cermin.
Fara... nama yang masih terasa asing.
Namun entah kenapa, ia merasa pernah mendengarnya.
Baru beberapa detik kemudian, saat ia akan melangkah ke pintu, ia teringat.
"Kak Samudera tuh gebetannya Kak Fara."
Cantika mengerjap. "Oh..."
Pantas saja tadi Fara bertanya tentang Sam.
Tanpa berpikir macam-macam lagi, ia merapikan tas di bahunya, lalu berjalan keluar dari toilet.
Cantika sama sekali tidak melihat... jika sesaat setelah pintu tertutup, Fara yang seharusnya sudah pergi ternyata masih berdiri di balik dinding koridor.
Senyumnya masih ada.
Namun kali ini... tak lagi sampai ke matanya.