BEFORE EVERYTHING-03

2215 Kata
Begitu keluar dari gedung utama, Cantika langsung disambut riuh suara siswa yang memenuhi halaman sekolah. Hari pertama MOS akhirnya selesai. Sebagian siswa baru berjalan bergerombol sambil membahas tugas untuk esok hari. Sebagian lain sibuk mencari kendaraan masing-masing di area penjemputan. Para panitia masih mondar-mandir membereskan perlengkapan, meski beberapa di antaranya hanya berdiri santai di sekitar gerbang. Cantika merapatkan tali ransel di pundaknya. Kepalanya masih dipenuhi percakapan dengan Fara di toilet tadi. Senyum kakak kelas itu. Pertanyaannya tentang Sam. Juga perkataan siswi-siswi di aula bahwa Sam adalah gebetan Fara. Cantika sendiri tak paham kenapa semua itu harus dipikirkan. Bukankah Sam bebas dekat dengan siapa pun? Lagipula, Fara terlihat baik. Cantik pula. ‘Harusnya nggak masalah kan? Nggak ada urusannya juga sama gue.’ Namun entah kenapa, perasaannya masih tak nyaman. “Ca!” Cantika menoleh. Delia baru saja menyusul dari belakang sambil melepas papan nama MOS yang posisinya selalu miring sepanjang hari. “Lo pulang naik apa?” Cantika belum sempat menjawab saat Delia menghentikan langkah dan menahan lengannya. Tatapan gadis itu melewati bahunya. “Tuh...” Cantika menoleh, mengikuti arah pandang temannya itu. Di dekat gerbang sekolah, Sam berdiri di samping motornya. Rompi OSIS sudah berganti dengan jaket kulit yang resletingnya belum dikaitkan. Helmnya sudah terpasang, sementara helm cadangan berada di tangan. Seolah sejak awal tak pernah ada kemungkinan Cantika akan pulang dengan cara lain. Sam yang menyadari keberadaan mereka spontan mengangkat tangan tinggi-tinggi. Cantika otomatis memejamkan mata. “Astaga!” gumamnya pelan. Delia terkekeh. “Sepupu tercinta udah nunggu tuh. Sigap bener. Padahal panitia mah harusnya pulang terakhir.” Cantika mendengus keras. “Gue tinggal ya, Ca?” “Hmm.” Delia baru berjalan dua langkah, lalu berbalik dan mendekatkan wajahnya ke Cantika. “Lagian, Ca...” “Apa lagi?” “Kalau gue jadi lo, gue juga nggak bakal pulang naik ojol. Biarin sih sepupu. Nggak haram ini dimiliki.” “Musti ngajuin ke MUI dulu gue!” sahut Cantika sambil melotot. Delia makin tergelak. “See you, Ca. Baik-baik lo! Hati-hati jatuh cinta.” “Ish!” Delia berlari kecil menuju teman-teman mereka yang berkumpul di depan sebuah warung kecil. Sementara Cantika masih berdiri terpaku. Panas yang sejak tadi hanya mengganggu telinga kini merambat sampai ke wajah. Jatuh cinta ke Sam? Ia tahu benar itu sudah terjadi. Tapi.... ‘Amit-amit Sam tau!’ Cantika menarik napas panjang. Alih-alih menghampiri Sam, ia justru membelokkan langkah ke sisi kiri gerbang. Jalan raya berada sekitar lima ratus meter dari sekolah. Tak terlalu jauh. Ia bisa memesan ojek daring dari sana. Setidaknya, besok tak ada lagi yang bertanya kenapa ia datang dan pulang bersama Sam. “Ca?” Cantika pura-pura tak mendengar. Ia tetap berjalan lurus. “Ca!” Langkahnya sama sekali tak melambat. Dari belakang, terdengar suara roda motor menggelinding di atas paving. Cantika mengatupkan bibir rapat, khawatir keceplosan merespon Sam. ‘Iiih! Orang mah kalau dicuekin tuh jangan dikejar. Ini malah ngintil aja sih!’ “Cantika!” Akhirnya ia berhenti. Sam kini sudah berada tepat di sampingnya sambil menaiki motor yang mesinnya masih mati. Helm yang tadi terpasang di kepalanya, kacanya sudah dinaikkan hingga memperlihatkan seluruh wajah. “Apaan sih lo?” tanya Cantika. “Temen lo kurang banyak apa?” “Ayo pulang,” balas Sam tanpa menghiraukan keketusan lawan bicaranya. “Iya, ini gue mau pulang.” “Naik!” “Nggak mau!” Sam mengerjap. Sekali. Dua kali. “Hah? Kok nggak mau?” “Gue mau jalan aja.” “Jalan ke mana, Ca?” “Jalan raya.” “Ngapain?” “Mau naik ojol.” Sam kembali terdiam. Ekspresinya kosong, seolah otaknya membutuhkan waktu lebih lama untuk memproses jawaban Cantika. “Kenapa naik ojol?” tanyanya akhirnya. “Nggak kenapa-kenapa. Pengen aja.” “Motor aku nggak nyaman buat kamu?” “Bukan.” “Joknya terlalu miring?” “Bukan.” “Ketinggian? Kamu naiknya susah?” “Bukan!” Cantika kembali ketus. “Terus kenapa, Ca?” Cantika membuka mulut. Namun kalimat yang sejak tadi memenuhi kepalanya mendadak terasa terlalu memalukan untuk diucapkan. ‘Karena semua orang ngira kita pacaran. Nanti gue makin sayang sama lo. Ribet, Sam.’ Mana mungkin ia mengatakannya langsung kepada Sam? Apalagi setelah baru beberapa jam lalu ia bersikeras kepada Delia bahwa kedekatan mereka biasa saja. Kalau Sam memang begitu bawaan pabriknya. Perhatian pemuda itu bukan hal istimewa yang hanya tertuju ke Cantika, tapi ke semua orang-orang terdekatnya. “Gue pengin jalan aja,” jawab Cantika akhirnya. “Lumayan nyicil sepuluh ribu langkah.” Sam menatap jalan di depan mereka. Lalu menatap Cantika lagi. “Oh.” Cantika mengangguk. “Iya. Nggak apa-apa kan?” ‘Duh, urang teh ngelakuin dosa apa ya?’ batin Sam. ‘Seaneh-anehnya cewek, mana ada yang mau jalan kaki lima ratus meter panas-panas begini?’ “Bye!” ujar Cantika lagi. Sam tampak menerima jawabannya begitu saja, namun juga tak mencegahnya. Cantika nyaris mengembuskan napas lega. Ya, hanya nyaris. Karena Sam lebih dulu mendengus cepat. “Aku anter sampai jalan raya.” Cantika menghentakkan kaki. Keningnya sontak mengerut berlipat-lipat. “Sam!” “Hmm?” “Sana gih!” “Aku takut kamu kenapa-kenapa, Ca.” Cantika mendecak kesal. “Siang bolong begini mana mungkin kenapa-kenapa!” Sam diam saja. “Bakalan aman kok,” ujar Cantika lagi. Sam terus saja menatapnya. Dan ia tahu apa pun yang akan ia katakan... hasilnya percuma. Benar-benar percuma berdebat dengan perempuan batu satu ini. Beberapa siswa yang berjalan melewati mereka mulai melirik. Dua siswi baru bahkan berbisik sambil menoleh berkali-kali. Cantika semakin salah tingkah. “Sam!” “Hmm?” “Nyalain motornya.” Sam mengernyit. “Orang-orang pada lihat tuh. Lo pergi sana.” Sam menyapukan pandangan ke sekeliling. ‘Oh, Cantika risih dilihatin?’ Ia lalu mengangguk-angguk santai. Giliran Cantika yang bingung. “Biarin aja sih,” tanggap Sam. “Mereka kan punya mata, masa mau disuruh merem pas ngelewatin kita?” Cantika mengerjap tak percaya. “Gue nggak nyaman, Sam.” “Aku—” Akhirnya Sam mulai memahami maksudnya. ‘Cantika nggak nyaman deket sama urang? Kenapa ya? Ada yang ngegosip yang nggak-nggak apa?’ “Sekali lagi aku tanya... ini lagi terik-teriknya lho, Ca. Kamu yakin mau jalan kaki sendirian ke depan?” Cantika mengangguk tegas. “Ca?” “Lo bilang cuma mau nanya sekali lagi!” Cantika kembali judes. Sam menghela pelan. Ia akhirnya menyalakan mesin. Bukannya tak mau berdebat dengan Cantika. Atau memaksa gadis itu agar naik ke motornya. Masalahnya... ia baru ingat jika ia meninggalkan gitarnya. “Naik yuk? Gitar aku ketinggalan, Ca. Ngambil sebentar aja. Soalnya aku taruh di pos satpam. Takut rusak dimainin anak-anak.” “Nggak!” Sam kembali terlihat bingung. Cantika menunjuk lurus ke gerbang sekolah. “Gih! Bye!” “Nanti aku susul, jangan buru-buru jalannya.” Motor Sam akhirnya melaju meninggalkannya. Cantika diam sejenak, memastikan motor itu benar-benar semakin menjauh. Sam tak berhenti. Tak pula berbalik. Akhirnya... Cantika mengembuskan napas panjang. Ia kembali melangkah. Cantika menoleh ke belakang. Gerbang sekolah semakin jauh. Tak ada motor hitam yang menguntitinya. “Gitu kek dari tadi,” gumamnya. “Duh, panas banget lagi.” Ia melanjutkan perjalanan menyusuri jalan sempit di samping kompleks perumahan. Di sisi kiri terdapat deretan rumah dengan halaman cukup luas. Di sisi kanan, selokan kecil mengalir di bawah pepohonan yang membuat jalanan sedikit lebih teduh. Cantika mengeluarkan ponsel untuk memeriksa aplikasi chat-nya. Tak ada yang mendesak untuk dijawab. Lalu... pikirannya kembali melayang ke kejadian seharian tadi. Sam datang ke kelas. Sam membawa sup. Sam menukar air minumnya dengan air hangat. Sam berulang kali menanyakan kondisi perutnya. Cantika mendecak pelan. “Sok perhatian banget sih lo. Nyebelin!” Ujung sepatunya menyentuh kerikil kecil. Cantika menendang pelan. Tuk! Kerikil itu menggelinding beberapa sentimeter. “Orang sakit minum obat aja kalah sering dari lo nyamperin gue!” Ia menendangnya lagi. Tuk! Kerikil itu melompat di atas aspal. “Terus semua orang jadi nanya-nanya!” Satu tendangan lagi. Kali ini Cantika tak mengontrol tenaganya. “Pantes aja mereka mikir—” Kerikil itu melambung. Membentuk lengkungan kecil di udara. Cantika mengikuti arahnya dengan pandangan. Lalu.... Plok! Batu itu tepat mengenai puncak kepala seekor soang putih yang sedang berdiri di tepi selokan. Cantika membeku. Soang itu juga diam. Beberapa detik berlalu. Cantika mulai mendengar latar suara yang bisa diputar di film-film horor. Kemudian... sangat perlahan, leher panjang hewan itu berputar. Matanya menatap lurus ke arah Cantika. “Honk!” Cantika menelan ludah. “Ma... maaf?” Sunyi kembali memenuhi jalan. Lalu sayap soang itu terbuka lebar. “HONKKKKKKKKK!” Mata Cantika membelalak. “PAAA—” *** Kalimat itu bahkan belum selesai keluar dari mulut Cantika saat soang putih yang penuh angkara murka benar-benar berlari ke arahnya. Tak ada aba-aba semisal berjalan pelan tanpa suara lebih dulu, atau mengepak-ngepak kesal di tempat. Tapi... benar-benar berlari. Dengan leher menjulur ke depan. Sayap terbuka lebar. "HONKKKKK!!" Cantika membelalak. "PAPAAA!" Ia otomatis berbalik badan dan berlari sekencang mungkin. Tas ranselnya berguncang ke kanan dan kiri. Sepatu hitamnya hampir terlepas. "PAPAAA!" "HONKKKKK!!" "MA-AAAF!" "HONKKKKK!!" "CA NGGAK SENGAJA! PAPAAA, CA TAKUUUT! TOLOOONG!" Jantungnya serasa berpindah ke tenggorokan. Cantika bahkan tak berani menoleh ke belakang. Namun suara kepakan sayap dan honk yang semakin dekat membuatnya yakin... jika Soang itu belum menyerah. "MAMAAA, CA MINTA MAAF! TOLONGIN CAAA!" "HONKKKK!" "TOLOOONG!" Di saat yang sama, Sam yang baru saja membelok di ujung jalan mendadak mendengar suara teriakan yang sangat dikenalnya. "MAMAAA!" Ia spontan mengerem. "Eh?" Kaca helmnya ia naikkan, keningnya mengernyit, pendengarannya menajam. "HONKKKK!" “PAPAAA! TOLOOONG!” ‘Cantika?’ Sam menoleh ke belakang. Lalu... otaknya berhenti bekerja selama beberapa detik. Ia mendapati Cantika. Muncul dari gang yang tak lazim dilewati. Berlari... sekencang mungkin. Dan berselang kedipan mata... di belakang gadis itu... seekor soang putih yang mengepakkan sayap mengejar tanpa ampun. Sam melotot. Lalu melongo "..." "SAMMMMM!" Memang agak tak tahu diri. Tapi di tengah kejaran soang yang mengamuk, Cantika tak punya waktu melakukan refleksi sikap ketusnya ke Sam sebelumnya. Ia hanya sangat bersyukur melihat motor hitam beserta pemiliknya yang sangat ia kenali itu. "SAM!" Tanpa berpikir panjang, Sam langsung memutar motor. Ban depan berdecit di atas aspal. Motor berhenti persis di samping Cantika. "Naik!" Cantika mencoba naik. Namun karena panik, kakinya justru tersangkut di pijakan kaki. "ADUH!" "Ca! Cepetan, Ca!" "DIEM LO! GUE PANIK TAU NGGAK!" "Tau! Buruan, Ca! Nanti aja marahnya." Cantika naik, setengah melompat ke jok belakang, nyaris nyungsep ke sisi lawan. Sam juga nyaris oleng. Helm Cantika yang ia genggam hampir terlepas. Sementara... "HONKKKKK!!" Soang itu tinggal beberapa langkah lagi. "UDAH BELUM, CA?" Sam ikutan panik. “KOK LO NGEBENTAK GUE?” balas Cantika. “NGGAK! UDAH BELUM?” “BURUAN JALAN! GUE GAMPAR LO KALAU SAMPAI GUE DISOSOR!” Sam memutar gas. Tangan Cantika otomatis memeluk pinggang Sam. "SIALAN LO!" Sam langsung menarik gas. Urusan Cantika ngamuk nanti saja ia hadapi. Motor melesat meninggalkan jalan kecil itu. "HONKKKKK!!" Soang itu masih mengejar. Cantika menoleh. "Ya allah! Batu banget itu soang!" "Dia masih ngejar, Ca!" gumam Sam, mengintip dari kaca spion. Soang itu benar-benar terus mengepak sambil berlari. "Semangatnya oke banget!" Cantika memukul pelan punggung Sam. Sam tergelak renyah. Motor kembali melaju. Beberapa saat kemudian... barulah soang itu mulai tertinggal. Cantika mengembuskan napas panjang. Kepalanya bersandar ke punggung Sam. “Capek banget, ya Allah.” Sam hanya tersenyum. Motor hitam itu akhirnya memasuki jalan utama. Arus kendaraan sore mulai ramai. Suara klakson bersahutan, berpadu dengan deru mesin kendaraan yang berlalu-lalang. Sam memperlambat laju motornya hingga berhenti di bahu jalan. Cantika yang masih memejamkan mata mengernyit. "Kenapa?" "Helm." Cantika baru sadar sejak tadi ia bahkan belum sempat memakai helm, bahkan pelindung kepala itu masih berada di tangan Sam. "Oh..." Sam mematikan mesin. Lalu turun lebih dulu. Tanpa banyak bicara, ia memasangkan benda itu ke kepala Cantika. Cantika mengangkat tangan, berusaha mengaitkan penguncinya. Masalahnya, tenaganya yang terkuras dan rasa takut yang belum sepenuhnya hilang, membuat jemarinya gemetaran. Belum sempat tali itu terkunci, kedua tangan Sam gegas mengambil alih. Cantika terdiam. Sam mengaitkan tali helm itu dengan mudahnya. Klik! Penguncinya terpasang sempurna. "Sudah." Cantika menunduk. "Makasih,” gumamnya. "Oke." Sunyi sejenak. Angin sore berembus pelan. Beberapa kendaraan melintas tanpa benar-benar mereka perhatikan. Sam berdiri di samping motor, kedua tangannya dimasukkan ke saku jaket. "Ca?" "Apa?" "Maafin aku ya?" Cantika mengangkat kepala. "Apaan?" "Soalnya hari ini aku bikin kamu nggak nyaman." Cantika membeku. Sam menggaruk tengkuknya pelan. "Aku baru sadar tadi... kamu kelihatan risih." "..." "Harusnya aku nggak bolak-balik nyamperin kamu." Cantika tak langsung menjawab. Sam mengembuskan napas pendek. "Aku cuma..." Kalimatnya menggantung sejenak. "...nggak bisa pura-pura nggak peduli." Cantika menatapnya lekat. "Iya, paham kok gue. Lo pasti disuruh Papa Mama kan?" Sam spontan menggeleng. "Nggak kok." "Terus?" "Beliau berdua nggak pernah nyuruh." Sam tersenyum simpul. "Mau Papa Ga dan Mama Ndien nyuruh atau nggak..." Ia menaik-turunkan bahu. "...aku tetap bakal begitu." "Kenapa? Lo nggak risih apa jadi perhatian orang-orang. Pasti kan temen-temen lo juga kepo, Sam." Rentetan pertanyaan itu keluar begitu saja. Tanpa bisa ditahan. Sam tak langsung menjawab. Ia justru memandang lalu lintas di depan mereka. Mengambil sedikit waktu untuk benar-benar berpikir. Seolah baru kali itu ada orang yang menanyakan alasannya. "Aku juga nggak tau.” Cantika mengernyit. "Hah?" Sam mengusap tengkuknya lagi. "Pokoknya... nggak bisa aja." "Kenapa?" Sam kembali diam. Lama. Kemudian mengangkat bahu ringan. "Kalau orang lain... mungkin masih bisa." Tatapannya kembali jatuh ke wajah Cantika. "Tapi... kalau ke kamu..." Sam kembali mengangkat bahu. "Aku nggak bisa, Ca."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN