Sabtu sore datang bersama langit yang lebih ramah.
Matahari masih cukup tinggi, namun panasnya tak lagi menyengat. Angin bergerak pelan di antara pepohonan halaman belakang rumah keluarga Sam, membawa aroma arang, mentega, dan daging yang mulai dipanggang.
Cantika baru saja membuka pintu menuju area belakang saat suara seorang pemuda menyambutnya.
“Tenang aja, Ca.”
Ia menghentikan langkah.
Sam berdiri di depan alat pemanggang dengan penjepit makanan di tangan kanan. Kaos butter yellow-nya tertutup celemek biru gelap, sementara rambut bagian depannya kini tertahan bandana agar tak terus turun menutup mata.
Pemuda itu tersenyum lebar.
“Di sini nggak ada soang.”
Cantika menatapnya datar. “Gue pulang!”
Ia baru berbalik setengah badan saat tawa Sam langsung pecah.
“Bercanda ih, Ca!” ujar Sam sambil beranjak mendekat dan meraih lengan Cantika.
“Nggak lucu!”
“Padahal aku udah sampai ngecek kebun belakang rumah.”
“Sam!”
“Iya, iya.”
Cantika mendengus lalu menarik pelan tangannya dari genggaman Sam, kembali melangkah memasuki halaman. Di pelukannya terdapat mangkuk besar berisi jagung manis yang sudah diolesi mentega dan beberapa tusuk sate sayuran.
Hannah menyusul sesaat kemudian. Tangannya membuka meja lipat yang sebelumnya menempel ke dinding. “Taruh di sini aja, Ca.”
“Oke, Bunda.”
Cantika menghampiri, meletakkan semua bawaannya. “Saus madunya belum ya, Bund?”
“Oh iya. Ada di kulkas, Ca.”
Cantika masuk kembali ke dalam rumah, menuju dapur, membuka salah satu kulkas. Tanpa petunjuk dari Hannah.
Rumah keluarga Sam tak pernah terasa asing baginya. Ia tahu gelas kaca berada di kabinet sebelah kanan. Tahu sendok-sendok kayu ada di laci kedua. Tahu Hannah selalu menyimpan saus, selai, dan bumbu marinasi di rak tengah kulkas satu pintu agar mudah dijangkau.
Bahkan ia tahu pintu lemari pendingin itu harus sedikit diangkat sebelum ditutup agar karetnya benar-benar rapat.
Cantika mengambil dua botol saus madu, lalu menutup pintu kulkas menggunakan pinggul.
“Belum diganti juga engselnya?” gumamnya.
“Belum.”
Cantika tersentak.
Sam sudah berdiri di belakangnya sambil membawa mangkuk kosong. “Ngagetin aja sih!”
“Aku dari tadi di sini kok.”
“Bohong digedein!”
“Serius, Ca.”
Cantika menyerahkan botol-botol saus ke Sam. “Bawa.” Ia lalu bergeser sedikit, mengambil satu ubi panggang yang tersaji di meja dapur.
Sam tak langsung beranjak. “Perut kamu udah aman?”
Cantika menoleh. “Udah. Kemarin tuh masuk angin aja.”
“Beneran nggak sakit lagi?”
“Nggak.”
“Yakin?”
“Sam!”
“Hmm?”
“Ini hari Sabtu.”
“Iya.”
“Gue nggak lagi MOS.”
“Iya.”
“Berhenti meriksa kondisi gue setiap lima menit.”
Sam mengangguk seolah baru saja menerima perintah penting. “Oke.”
Ia berjalan pelan menuju pintu. Lalu menoleh lagi. “Kemarin tuh muka kamu pucat banget, Ca. Beneran cuma masuk angin?”
Cantika mengambil lap dapur dan melemparkannya.
Sam tertawa sambil menghindar.
“Lo ngarep lebih dari masuk angin?” ujar Cantika.
“Nggaklah, Ca.”
“Makanya nggak usah bawel. Jaga jarak dikit kenapa sih, lo nggak punya kerjaan lain apa selain ngawasin gue?”
“Kan biar tunjangan dari Papa Ga naik.”
“Basi!”
“Kalau dipanasin lagi enak, Ca.”
Cantika memutar bola mata. “Mana ada udah basi dipanasin lagi! Dipanasin tuh biar nggak basi!”
“Udah ganti ya?”
“Capek banget ngomong sama Samudera Razan Wisesa!” seru Cantika, meski sudut bibirnya tetap terangkat saat ia mengikuti Sam kembali ke halaman.
***
Acara barbeque seperti ini bukan sesuatu yang istimewa bagi kedua keluarga. Tak perlu menunggu ulang tahun. Tak harus menanti hari raya. Bahkan tak butuh alasan khusus.
Semua bermula saat Hannah menemukan beberapa kotak daging marinasi memenuhi freezer miliknya. Sebagai pemilik usaha catering, ia tentu hafal kapan kualitas bahan makanan mulai menurun.
Daripada menunggu pesanan berikutnya datang....
"Barbeque aja yuk."
Begitu usul Hannah beberapa hari lalu melalui grup keluarga.
Andien yang pertama menyetujui.
Dirga ikut mengiyakan.
Sisanya tinggal mengikuti.
Sore itu, halaman belakang rumah keluarga Wisesa kembali berubah menjadi tempat berkumpul paling ramai.
Di bawah kanopi kayu, Dirga dan Edo masih berkutat dengan sebuah rak kayu tua yang beberapa waktu terakhir menjadi proyek iseng mereka. Rak itu tadinya hanya lemari penyimpanan biasa. Kini perlahan berubah menjadi kabinet untuk penyimpanan botol-botol.
Dirga menghaluskan permukaan kayu menggunakan amplas, sementara Edo berdiri di sampingnya dengan kuas kecil, sibuk memberi sentuhan warna pada beberapa ukiran yang mulai terlihat.
"Lumayan juga hasilnya, Bang," gumam Edo.
Dirga menyapu serbuk kayu dengan telapak tangan. "Kalau jadinya begini, sayang kan disimpan di gudang."
Edo mengangguk. "Makanya direstorasi."
"Abis ini bikin satu lagi ya? Masih ada satu lemari lagi di gudang."
“Nggak sebesar ini tapi, Bang.”
“Nggak apa-apa. Kayunya masih bagus itu.”
"Yang ngerjain?"
"Ya kita lagi. Nggak mungkin nyuruh Bang Irgi. Bang Irgi aja nyuruh gue mulu."
Edo terkekeh.
Tak jauh dari mereka, suara blender, tawa, dan percakapan para perempuan saling bersahutan dari arah dapur terbuka.
Hannah tengah memotong selada.
Andien sibuk mengaduk saus salad.
Sementara Anne membantu menyusun piring saji bersama Sofi.
"Mami Papi beneran nggak bisa ke sini, Kak?” tanya Hannah.
“Kata Papi, kalau pun ke sini paling numpang tidur doang, Bund. Undangannya malam soalnya,” jawab Sofi.
Hannah mengangguk.
“Bund, kita nggak perlu pakai mangkuk?” tanya Anne.
“Perlu, Uni. Buat sup,” jawab Hannah. “Mangkuknya ada di lemari atas. Bunda panggil Sam dulu deh.”
"Nggak usah, Bund." Anne sudah lebih dulu meraih stepping. "Uni bisa."
"Aku yang nerima di bawah," sahut Sofi sambil berdiri di sampingnya.
Anne naik satu pijakan.
Tangannya baru saja meraih tumpukan mangkuk paling atas saat sebuah suara terdengar dari belakang.
"Turun!"
Keduanya menoleh bersamaan.
Eldra berdiri di ambang pintu sambil mengernyit.
Anne mengerjap. “Mau ngambil mangkuk sup, Bang.”
"Turun!”
Anne memberengut.
“Tinggal manggil gue apa sih susahnya?” omel Eldra lagi.
“Kan gue bisa,” balas Anne sambil turun perlahan dari tangga kecil yang dinaikinya.
“Gue tau lo bisa. Tapi nggak ada salahnya juga lo nyuruh kita-kita yang nggak perlu stepping untuk ngambil mangkuk.”
“Sombong!”
Eldra mengacak-acak puncak kepala adiknya.
Tangannya lalu teraih, mengambil setumpukan mangkuk.
“Sini,” ujar Sofi.
“Ngapain?” balas Eldra.
“Aku bawa ke sink. Kayaknya perlu dibilas dulu.”
“Kamu bantun Mama dan Bunda aja, honeybun. Aku yang urus mangkuk. Oke?” Nada suara Eldra tetap tenang, namun tak memberi ruang untuk dibantah.
“Biar cepet, El.”
“Aku doang yang ngerjain juga nggak pakai lama kok.”
Sofi mengatupkan bibirnya.
“Gih sana,” ujar Eldra lagi.
"Iya."
Eldra meletakkan satu tumpukan mangkuk ke sink, lalu kembali lagi untuk meraih tumpukan berikutnya.
“Protektif banget sih,” gumam Anne. Ia masih bersandar ke kitchen island sambil melipat kedua tangan.
"Biarin," balas Eldra. “Kalau tumpukannya goyang, terus nimpa kepala lo dan Sofi, apa nggak gue yang digantung Papa dan Papi?”
Anne terkekeh.
“Jadi karena takut digantung?” sambar Sofi.
Eldra mendengus pelan. “Karena aku nggak mau kamu terluka, honeybun.”
“Pret!” sahut Anne.
“Kok pret sih?”
“Ya masa cie? Males banget.”
Sofi tertawa geli.
“Kadang-kadang suka ketularan absurdnya Ben ya lo, dek,” timpal Eldra ke Anne.
"Untung Kak Sofi nggak alergi digombalin sama lo, Bang."
"Mana ada alergi sama cowok semanis gue?"
Saat Anne berpura-pura mual, Sofi hanya menggeleng sambil tersenyum pasrah.
"Kalau soal itu, nggak bisa bantah sih gue, Ne," ujar Sofi.
“Yassalaaam!”
Sementara itu... area pemanggang justru jauh lebih berisik. Bintang yang bertugas memanggang daging mulai kehilangan kesabaran.
"Sam!"
"Iya?"
"Urang bilang nanti!" (urang = saya)
Sam yang sejak tadi memang mondar-mandir membawa lap microfiber hanya menoleh sekilas. "Atuh, Aa... urang kan cuma ngelap dikit."
"Ngelap apanya?" sentak Bintang lagi.
"Meja... semua yang perlu dilap."
"Nanti!"
"Biar enak dilihat, A."
"Urang yang pusing lihat maneh!" (maneh = kamu)
Bintang mengangkat spatula ke udara. "Dikit-dikit ngelap. Dikit-dikit nyapu. Dikit-dikit nyalain vacuum. Musti pakai bahasa planet apa sih biar maneh ngerti kata nanti?" repetnya lagi.
“Atuhlah Aa masak aja. Nggak usah sambil nge-rap.”
Bumi yang sedang menusuk jamur ke tusukan sate spontan menunduk. Bibirnya bergetar menahan tawa.
Sam masih belum menyerah. "Kan kalau sekarang dibersihin—"
"Sam!"
"Naon sih?" (Apa sih?)
"Pergi sana!" titah Bintang.
“Embung ih.” (Nggak mau.)
Bumi akhirnya ikut angkat bicara. “Maneh bikin kopi sana, Sam.”
"Itu mah A Bumi yang paling jago,” balas Sam.
"Ya udah ajak Papa Ga."
"Papa Ga masih di sana. Masih ngerjain prakarya sama Ayah."
“Ya maneh bantuin sana, ikutan ngelukis.”
“Gerah, A.”
Bintang sampai menepuk dahinya sendiri. "Maneh tuh ya! Disuruh masak nggak mau. Disuruh diam juga nggak bisa. Yang ada malah muter-muter kayak satpam kompleks."
Bumi akhirnya benar-benar tertawa.
“Pusing urang, Sam!”
Belum selesai Bintang mengomel...
"Sam!"
Suara Cantika terdengar dari arah pintu belakang.
Gadis itu menyembulkan kepala sambil masih mengenakan celemek bermotif lemon milik Hannah.
"Sini."
"Kenapa, Ca?"
"Bantuin manggang. Bang Eldra lagi ribet di kubu ibu-ibu."
"Oke."
Jawaban itu keluar nyaris tanpa jeda.
Sam langsung meletakkan lap di atas meja.
Berbalik.
Lalu berjalan cepat menuju Cantika.
Bahkan tak sempat melihat wajah kedua abangnya.
Bintang mengikuti punggung adiknya dengan tatapan datar.
Sunyi.
Beberapa detik kemudian... ia menoleh ke Bumi. “Astaghfirullah."
Bumi sudah menutup wajah dengan kedua tangannya karena tertawa.
"Gini amat punya adik, A. Dari tadi urang usir itu bocah nggak pergi-pergi."
Bumi bertolak pinggang, tertawa hingga tak mampu bicara.
"Giliran crush-nya manggil...” Bintang menunjuk ke arah pintu yang baru saja dilewati Sam. "...langsung ngacir. Koplok emang!"
Bumi tertawa makin keras. "Padahal dia sendiri nggak sadar kalau have a crush sama Ca," timpalnya kemudian.
"Sadar, A. Tapi denial aja. Itu yang lebih parah." Bintang menggeleng pelan.
"Kasihan Cantika,” gumam Bumi di sela tawa.
“Salah, A. Yang kasihan itu Sam,” balas Bintang.
“Kebalik ya?”
Bintang mengangguk. "Udah dijagain segitunya... yang jagain malah belum sadar juga jatuh cinta."
Bumi masih tersenyum. Tatapannya lalu beralih ke arah halaman belakang, tempat Sam sudah berdiri di samping Cantika sambil menerima penjepit pemanggang dari gadis itu.
"Biarin aja."
"Kenapa, A? Nggak perlu kita bantu?"
Bumi menggeleng. "Lucu."
"Lama-lama capek juga atuh lihatnya, A. Gemes gitu!"
Bumi menaik-turunkan bahunya. "Nanti juga ada waktunya mereka ngerti."
Bintang ikut melihat ke arah yang sama.
Di kejauhan... Sam dan Cantika sudah kembali berdebat.
Entah soal bara api.
Entah soal daging yang terlalu matang.
Entah soal hal sepele lainnya.
Seperti biasa.
Dan seperti sebelum-sebelumnya... tak ada satu pun orang di rumah itu merasa ada yang aneh.
Karena bagi keluarga mereka... Sam dan Cantika memang selalu seperti itu.