“Sam, jagungnya jangan gosong!” seru Hannah.
Sam yang berdiri di depan alat pemanggang spontan menoleh, seolah baru tersadar sejak tadi ada sesuatu yang harus ia kerjakan.
“Siap, Bunda!”
“Sudah dari kapan itu didiemin? Jangan-jangan sudah hitam.”
Sam mengangkat sedikit salah satu jagung, lalu buru-buru membaliknya, juga barisan selanjutnya.
“Kan!” sentak Hannah.
“Nggak gosong kok, Bund. Caramelized.”
Hannah mendengus keras.
Sam mencengir kaku.
Namun, Hannah tak bisa lama-lama memarahi 'bungsu tak jadi' itu berhubung keluarga mereka yang lain terus berdatangan menjelang sore. Datangnya pun tak dengan tangan kosong. Masing-masing membawa makanan tambahan meski Hannah sudah berkali-kali mengatakan bahwa persediaan di rumahnya lebih dari cukup.
Ada yang datang membawa puding buah. Ada yang membawa dua kotak besar risoles. Ada pula yang tetap membawa nasi bakar karena merasa acara keluarga belum lengkap tanpa karbohidrat tambahan.
Tak sampai setengah jam, meja panjang di halaman belakang rumah keluarga Wisesa sudah dipenuhi berbagai jenis makanan.
Suasana yang sejak tadi riuh menjadi semakin ramai.
Anak-anak kecil berlarian mengitari kursi taman. Para orang dewasa saling menyapa, bertukar kabar, lalu membantu menata hidangan tanpa perlu diberi arahan. Beberapa orang bahkan langsung masuk ke dapur dan membuka lemari atau kulkas sendiri, seolah rumah itu juga milik mereka.
Mungkin memang begitu.
Di keluarga mereka, batas antara rumah satu dan rumah lainnya sudah lama menjadi sesuatu yang samar.
“Urang colok juga nih mata maneh,” bisik Bintang yang mendekati sang adik. “Luntur lama-lama si Cantika gegara maneh lihatin terus.”
“Atuhlah, Aa sekalian pakai toa masjid,” balas Sam pelan. “Lagian siapa juga yang ngelihatin Ca.”
Bintang mendecak.
Ia memindahkan beberapa jagung yang dianggapnya sudah matang ke atas nampan.
“Masih banyak lho jagungnya,” ujarnya sambil melirik karung yang isinya masih setengah penuh. "Asli da, maneh ngapain aja sih?"
“Iya, A. Sabar atuh. Sam kan masak, bukan main sulap.”
“Tapi lihatin Cantikanya kayak lagi merapal mantra.”
Sam terkesiap. “Nggak ih.”
“Nggak ih,” ledek Bintang dengan bibir yang maju maksimal.
Bumi yang mendekat sambil membawa sate sayuran ikut terkekeh. “Maneh berdua tuh berantem melulu.”
“A Bintang tuh ngomel wae,” sahut Sam. (wae = aja)
“Urang ngomel aja maneh masih ngasih kita-kita makan arang. Apalagi nggak urang marahin?” balas Bintang.
“Masih bisa dimakan kok. Cakep! Tuh lihat. Mulus pisan.”
“Cakep apaan!”
Dirga yang sudah menyelesaikan proyek kabinetnya duduk santai di salah satu kursi taman. Tangannya masih memegang gelas kopi yang tadi dibuatkan Bumi.
“Kasih Cantika aja yang bakar,” ujarnya. “Lebih bisa dipercaya.”
Cantika yang baru saja menuang fruit punch ke gelasnya spontan menoleh.
“Lebih bisa dipercaya membumihanguskan maksud Papa Ga?” sahut Sam.
Dirga tergelak.
Cantika memicingkan mata menatap Sam.
Lagi-lagi, Sam mencengir singkat. Namun kali ini capit di tangannya ikut terangkat ke udara seolah sedang memberi hormat.
“Gue gini-gini bisa masak tau!” ketus Cantika.
“Percaya kok,” tanggap Sam.
“Kok nadanya gitu?”
“Soalnya Ibu Debby juga bisa masak.”
Sam merujuk pada salah satu anggota keluarga besar mereka yang memang sangat berani mengolah bahan makanan. Sayangnya... hasil akhirnya sering kali lebih aman untuk tak dikonsumsi.
“Sam!”
Kali ini Sam tergelak renyah.
“Ibu nggak merasa harus bisa masak kok.”
Sam menoleh ke balik punggungnya, lalu spontan kikuk saat mendapati Debby yang baru saja tiba bersama suaminya, Borne.
Perempuan itu justru ikut terkekeh melihat ekspresi keponakannya.
“Santai aja, Sam. Bukan rahasia lagi soal Ibu bisa ngeracunin orang serumah kalau sampai megang sutil.”
“Genre hidup langsung berubah jadi horor,” timpal Borne santai sambil mengambil celemek yang disodorkan Hannah.
Gelak tawa kembali pecah.
“Minggir, Sam. Ayah aja yang manggang. Kamu bersihin jagungnya,” ujar Borne lagi.
Sam mengangguk, bergeser, lalu duduk di kursi kecil berhadapan dengan karung jagung.
Ia lalu kembali menoleh ke Debby. “Efek Ayah Borne jago masak ya, Bu?” godanya.
“Efek dimanja suami,” jawab Debby tanpa dosa.
“Mantab, Ibu!”
“Mantab dong!”
“Malah bangga,” timpal Borne.
“Ya iyalah. Suami bisa masak, istrinya cantik. Paket lengkap.”
Borne hanya menghela napas pelan.
Sam, Bintang, dan Bumi tergelak kompak.
“Ayah nggak bisa menyanggah,” kekeh Bumi.
“Lebih tepatnya nggak berani,” sahut Edo sambil menggeleng geli. “Bisa panjang urusan dunia persilatan.”
“Yang satu hobinya ngegoda,” sahut Dirga. “Yang satu hobinya pura-pura prengat-prengut padahal aslinya pengen koprol.”
“Berarti kan pasangan sehat, Ga,” balas Debby santai.
Borne mengangguk mantap.
“Suka-suka lo berdua dah,” ujar Dirga lagi.
“Ngiri aja lo,” timpal Borne.
“Nggak ada di kamus gue ngiri, Ne. Nganan adanya.”
“Berat badan lo nganan!”
“Sialan lo!”
Tawa mereka belum mereda saat bungsu Wisesa meneriaki ketiga abangnya dari arah ayunan taman.
“AA!”
“Aa yang mana?” sahut Sam.
“Yang mana aja atuh.”
“Apa, Neng Jihan?”
“Jihan mau jagung bakarnya satu. Sudah matang belum?”
“Belum!” Bintang yang menjawab.
“Kok lama pisan?” tanya Jihan lagi. (pisan = banget)
“Tuh, dihangusin sama A Sam.”
“A Sam!”
“Nggak hangus kok. Garing-garing dikit. Enak malah.”
“Jihan mau jagung!”
“Nih!” Bumi menyodorkan salah satunya ke Sam, lalu mendelik ke arah adik mereka yang masih duduk di ayunan. Jagung yang dipilihnya adalah yang paling terbebas dari noda hangus. “Masih panas. Temenin makannya, takut perih mulut Jihan.”
“Oke bosque,” sahut Sam. "Siap laksanakan!"
Ia berdiri, mendekati sang adik, berjongkok di dekat Jihan, mengawasi si bungsu agar mulutnya tak terluka karena panas.
“Jihan bisa !” sambat Jihan yang justru risih ditempeli sang abang.
“Panas, Neng.”
“Henteu!” (Nggak.)
“Yang bener?”
“Bener. Hangat aja, nggak panas.”
Sam diam saja, masih memperhatikan Jihan.
“Aa sana, masak aja. A Bintang marah lho.”
“Aa sudah bantuin dari tadi. Aa capek kan.”
"Henteu."
"Apa yang henteu?"
"Ayah Borne masak," ujar Jihan. “Aa lihatin Teteh Ca.”
“Shht!”
“Rahasia ya.”
“Rahasia apa?” balas Sam, menahan tawa.
“A Sam sayang Teteh Ca.”
“Heh anak kecil!”
Jihan tertawa geli.
Sam bergeser, kembali ke ‘pos jaga’-nya.
Di saat yang sama, Cantika lewat membawa sepiring kentang goreng dan fruit punch-nya.
Sam spontan memanggil.
“Ca.”
“Hmm?”
“Jangan minum yang dingin atuh.”
Cantika bahkan belum sempat meneguk isi gelasnya. Ia berhenti melangkah. Menoleh. Lalu mengangkat gelas.
“Ini?”
“Iya.”
“Nggak dingin kok.”
“Nggak dingin kok pakai es.”
“Esnya dikit doang, Sam.”
“Namanya tetap es.”
Cantika memandang gelas itu sejenak Lalu kembali memandang Sam.
“Kurang kerjaan lo?”
“Apa?”
“Ngurusin hidup gue mulu. Urusin yang lain kek.”
Sam tampak berpikir sejenak. “Kan kemarin kamu masuk angin, Ca.”
“Ya kali masuk angin berhari-hari.”
“Who knows!”
Cantika mendecak, lalu mengembuskan napas pasrah. “Bawel lo.”
Namun... di luar dugaan semua orang, ia benar-benar mengambil beberapa bongkah es dari gelasnya menggunakan sendok, lalu meletakkannya ke dalam mangkuk kosong di dekat meja.
Bintang yang melihat kejadian itu hanya bisa menggeleng pelan. “Sok galak.”
Bumi mengikuti arah pandang adiknya. “Tapi nurut.”
“Makanya.” Bintang terkekeh.
“Dua-duanya sama-sama aneh.”
Sam yang sama sekali tak mendengar komentar kedua abangnya sudah kembali sibuk mengoles jagung dengan bumbu-bumbu. Sementara Cantika berjalan menjauh sambil menggerutu, sesekali masih melirik ke arah pemuda yang baru saja mengatur isi gelasnya itu.
Entah siapa yang lebih keras kepala.
Yang satu tak pernah lelah mengingatkan.
Yang satu tak pernah berhenti mengomel.
Namun, anehnya... tak satu pun dari mereka pernah benar-benar mengabaikan yang lain.