Perasaan Karan campur aduk mendengar pujian yang terasa aneh di telinganya, tapi justru membuat jantungnya berdenyut tak karuan. Wajahnya memerah, entah karena malu, senang, atau bingung. “Kamu nggak sedang mengolokku, kan?” tuduhnya, masih tak percaya. “Nggak, suara kamu bagus,” ulang Rainer dengan nada serius, meski sebenarnya suara Karan tadi jelas-jelas sumbang. Mungkin cinta memang bisa membuat seseorang tuli sementara atau setidaknya, membuatnya sulit membedakan antara suara sumbang dan merdu. Tapi itulah kenyataannya, di telinga Rainer, nyanyian Karan tadi terdengar… menawan. Kejadian lucu pun terjadi. Karena masih penasaran, Karan tiba-tiba berdiri dan mendekati Rainer dengan langkah penuh curiga. “Coba ulangi, kalau kamu jujur,” tantangnya, matanya berbinar nakal. Rainer,

