“Astaga! Ada apa dengan dia? Dia seperti bukan Rainer yang biasanya,” desis Karan pelan sambil memegang dadanya yang masih berdetak kencang. Napasnya tersengal, dan kulitnya terasa meremang mengingat sentuhan hidung mereka yang nyaris bersentuhan tadi. Kehangatan napas Rainer, tatapannya yang gelap dan penuh intensitas—semua itu terasa asing, namun sekaligus membangkitkan gejolak aneh di dalam dirinya. Karan menjatuhkan diri ke kasur, menatap langit-langit. Perubahan sikap Rainer belakangan ini semakin tidak bisa diprediksi. Dari yang dingin dan acuh, tiba-tiba menjadi posesif, cemburu, dan bahkan… agresif. Apa yang sebenarnya terjadi pada kakak tirinya itu? Dan yang lebih membingungkan, mengapa dirinya sendiri justru merasa terguncang, bukan marah? Bahkan saat ini, jantung Karan berdeta

