“Aku senang sekali Ibu dan Om pulang hari ini. Bawaan mereka sebanyak apa ya?” celoteh Karan tak hentinya di dalam mobil. Dia duduk di samping Rain di kursi penumpang depan, sementara Rainer menyetir dengan fokus. “Aku pikir kamu rindu sama Tante, tapi perasaan kamu lebih perhatian pada oleh-olehnya,” ceplos Rainer tanpa berpikir, suaranya terdengar datar. Seketika, senyum di wajah Karan pudar, berganti dengan raut tegang dan kecewa. “Rain, aku pikir kita sudah akur selama beberapa hari ini. Tapi kamu mulai lagi hari ini,” desisnya kesal, tatapannya tajam. “Tapi itu benar kan?” Rainer membalas, masih tak menyadari betapa perkataannya menyakiti. Karan memalingkan wajah ke jendela, tak bicara lagi. Suasana di dalam mobil mendadak beku, hanya diisi oleh deru mesin dan suara lalu lintas di

