Theo sedikit terkejut dengan pertanyaan mendadak yang dilontarkan Rainer. Alisnya bergerak, meski tak marah. “Kamu bisa melihat itu? Aku nggak menyangka saja kamu begitu jeli dan langsung mengetahui bila aku memang suka pada Karan,” ujarnya justru tersenyum lebar, seolah senang ada yang menyadari perasaannya. Berbeda dengan Rainer yang hari ini terlihat kesal dan tegang. “Bukankah kamu mantan Karan yang menyebalkan? Yang dulu membuatnya sakit hati, sedih, dan terluka?” serang Rainer, suaranya rendah namun penuh tekanan. Theo mengangkat kedua alisnya, senyumnya sedikit meredup. “Aku tahu aku pernah berbuat salah, Rain. Tapi itu masa lalu. Aku sudah berubah, dan aku ingin memperbaiki semuanya.” “Memperbaiki? Atau cuma sekadar muncul lagi karena sekarang dia terlihat lebih baik?” sergah

