Pagi hari, Rainer membuka mata dengan perlahan. Ruangannya masih diterangi cahaya emergency lamp yang mulai redup, ternyata listrik belum juga menyala semalaman. Ia setengah bingung ketika melihat jam dinding menunjukkan pukul tujuh pagi. Sudah pagi, tapi listrik masih mati, desisnya dalam hati sambil bangun. Ia tersadar bahwa dirinya tertidur pulas setelah semua kekacauan semalam, padahal dengan kejadian orang asing, kucing liar, dan ketakutan yang menggelayut, seharusnya ia sulit memejamkan mata. Namun entah mengapa, setelah makan malam bersama Karan dalam cahaya temaram, ia justru terlelap nyenyak. Ketika membuka pintu kamar, aroma harum makanan langsung menyergap indranya. 'Masak apa dia ya?' pikirnya penasaran. Dengan langkah ringan, ia menuju ke dapur. Namun, ekspektasi untuk me

