Di meja makan yang sudah sepi hanya tinggal Karan dan Rainer saja. “Kar, Bagaimana bila Hari ini aku temani kamu lagi di taman atau di mana untuk kamu cari ide rekam video atau apa?” Karan yang sebelumnya masih kesal dengan sikap Rainer yang meracuki urusannya juga merasakan kalung, mendengus kesal. “Nggak perlu. Kalau ada kamu di sana semuanya jadi berantakan. Udah cukup yang kemarin itu.” Karan yang tidak mau bicara lagi beranjak dari kursi, lagi bola dia sudah menghabiskan porsi sarapan pagi ini. Rainer yang melihat itu ikut beranjak dari duduknya lalu dia mencekal tangan Karan. Karan menarik lengannya, tapi cengkeraman Rainer terlalu kuat. "Lepas!" desisnya, mata menyala. "Kar, tunggu." Suara Rainer tiba-tiba lembut, berbeda dengan nada merendahkan beberapa hari lalu. Dia menggu

