Dengan langkah berat, Rainer meletakkan kotak musik kayu kecil itu tepat di depan pintu kamar Karan yang tertutup rapat. Sebuah penyerahan diam-diam. Tanpa mengetuk, tanpa meninggalkan pesan. Dia kemudian masuk ke dalam kamarnya sendiri, mengunci pintu dengan pelan. Dunia di seberang pintu itu dengan suara tawa, obrolan, dan kehadiran Theo, disingkirkannya dengan sengaja. Dia tak punya tenaga lagi untuk mendengarkan, apalagi menyaksikan. "Dasar bodoh," geramnya pada dirinya sendiri, tubuhnya jatuh bersandar di balik pintu. Kepasrahan yang pahit menyelimutinya. Tangannya yang frustrasi meraih rambutnya sendiri, mengacak-acak hingga berantakan, seolah ingin menghancurkan segala kekacauan di dalam kepalanya. Hari ini, dia kalah. Malam ini, dia memilih untuk tenggelam dalam kesunyian kamar

