Rainer kemudian tersenyum-senyum mendengar candaan Beni. “Doakan saja yang baik-baik untukku, Ben,” ucapnya dengan nada ringan. “Apakah artinya benar kamu punya pacar sekarang?” tanya Beni penuh harap. “Belum, Ben. Tapi… segera setelah ini,” jawab Rainer, wajahnya terlihat bahagia dan tak lagi malu-malu menunjukkan ekspresi itu. Beni mengerutkan kening, mencerna jawaban itu. Kalau benar, wanita seperti apa yang mau sama Rainer? Modelnya dingin, tertutup, dan jarang tersenyum. “Rain, kamu suka sama wanita kan, bukan robot atau boneka?” godanya lagi, kali ini dengan nada lebih serius. Rainer langsung tegang. “Maksud kamu apa, Ben? Aku normal, ya!” “Barangkali saja kamu nggak suka sama wanita sungguhan. Soalnya selama ini aku nggak pernah lihat kamu deketin siapa-siapa,” lanjut Beni, tan

