Rainer masih duduk di meja makan bersama Adrian dan Sari, tangannya menyuap nasi goreng secara mekanis. Namun, pikirannya jauh melayang pada percakapan telepon Karan tadi. 'Apa yang akan dilakukan Theo nanti bila bertemu Karan?' Dari sanalah berbagai bayangan romantis dan menyakitkan mulai muncul di benaknya, Theo memegang tangan Karan di taman, mereka tertawa mesra, Theo mengajaknya makan di restoran mewah dengan lilin dan anggur, Theo mendekat dan mungkin... menciumnya. Bayangan-bayangan itu terus berputar, membuatnya semakin gusar. Tanpa sadar, ia mengembuskan napas kasar. Adrian yang duduk di seberangnya memperhatikan. “Ada apa denganmu, Rain? Ada yang membuat kamu marah?” tanyanya penuh perhatian. Rainer langsung tersadar, matanya berkedip cepat. “Nggak ada, Ayah,” jawabnya si

