“Tadi pagi kamu berangkat bareng Pak Baskara, Dit?” Pertanyaan dari Mbak Citra dan Bu Mar membuatku tersentak. Aku menoleh dari layar komputer, mendapati dua perempuan beda usia itu sudah berdiri di dekat kubikelku dengan wajah yang memancarkan rasa penasaran tingkat tinggi. Radar ghibah mereka sepertinya sedang menangkap sinyal yang sangat kuat pagi ini. Tentu saja, pertanyaan itu memaksa otakku memutar kembali memori yang baru saja terjadi beberapa jam lalu. Niat hati Pak Baskara mengajakku sarapan bubur ayam favoritku di pasar, tapi aku justru mendapatkan insiden tidak terduga yang nyaris membuatku trauma. Aku mengusap wajahku dengan kasar, merasa frustrasi setiap kali bayangan wajah Tante Murtini yang penuh kebencian muncul di kepala. Aku benar-benar menyesal pernah mengenal Huda da

