“Ibu setuju sama kamu, Dit. Bilang sama Baskara, Mikha besok suruh ke sini saja. Biar Ibu yang asuh sama Mbok Mah. Daripada diasuh sama dua perempuan tidak waras itu, bisa ketularan nanti cucunya si Ambar,” ujar Ibu tegas. Matanya menyiratkan tekad yang tidak bisa diganggu gugat. Benar seperti dugaanku sebelumnya. Saat aku bercerita panjang lebar pada Ibu dan Bapak mengenai masalah pelik yang dihadapi Baskara terkait Mbok Jum dan Ajeng, Ibu langsung menyetujui usulanku. Terlepas dari rasa keberatan Ibu mengenai status Baskara yang tiba-tiba datang melamar—dan kekhawatiran bahwa lamaran itu hanya demi memenuhi keinginan Mikha yang terlanjur nyaman denganku—Ibu memang sudah menyukai Mikha sejak pertama kali bocah itu menginjakkan kaki di rumah kami. “Ini Ibu tidak terpaksa, kan?” tanyaku s

