“Kata siapa saya tidak paham rasanya kecewa, Nandita? Menurut kamu menjadi duda dan juga single parent bukan hal yang mengecewakan untuk saya?”
Pertanyaan itu menghantamku lebih keras daripada makian warga di jalanan tadi. Aku tertegun. Bibirku sedikit terbuka, namun tak ada kata yang mampu meluncur keluar. Ada rasa tidak enak yang mendadak menyusup, menyelip di antara sisa-sisa amarah dan rasa kasihan pada diri sendiri yang sedari tadi mendominasi hatiku.
Kalimat itu tidak diucapkan dengan nada membentak atau otoriter seperti saat beliau memberikan instruksi di kantor kecamatan. Suaranya datar, nyaris tanpa emosi, namun justru karena itulah beban yang tersimpan di dalamnya terasa sangat nyata. Ada keletihan yang tersembunyi di balik bariton beratnya.
Kekecewaan. Aku tahu setiap orang pasti pernah berada di fase itu dalam hidupnya, meski kadarnya tidak pernah sama. Selama satu jam terakhir, aku merasa menjadi wanita paling malang di seluruh dunia, paling tersakiti, dan paling pantas dikasihani karena pengkhianatan Huda yang tak tahu diri itu. Tapi melihat sorot mata pria di sampingku yang tetap fokus pada kemacetan sore, aku sadar bahwa aku bukan satu-satunya orang yang sedang memikul beban berat di pundak.
Sama seperti aku yang benci saat orang menyepelekan rasa sakitku, Pak Baskara pun pasti merasakan hal yang sama jika aku dengan lancang menganggap hidupnya sempurna hanya karena dia adalah seorang Camat dengan karier cemerlang. Aku baru sadar, jabatan mentereng dan wajah tampan bukan jaminan seseorang terbebas dari rasa sesak akibat harapan yang hancur.
Untuk beberapa saat, aku memberanikan diri memandang sosoknya dari samping dengan lebih lama. Selama beberapa bulan bekerja sebagai bawahannya, aku selalu melihat Pak Baskara sebagaimana staf lain memandangnya, sosok duda mapan yang berwibawa, pekerja keras yang sangat serius, tegas, dan selalu dalam mode galak jika menyangkut urusan administrasi. Namun, di sisi lain, ia bisa berubah menjadi sangat ramah, hangat, dan sangat humanis dalam sekejap saat berurusan langsung dengan keluhan warga di lapangan.
Mungkin kepribadian ganda yang positif itulah yang membuatnya berhasil mendapatkan kepercayaan penuh dari Bupati untuk memimpin wilayah ini di usianya yang masih tergolong muda. Kinerjanya memang tidak perlu diragukan, teliti hingga ke detail terkecil. Tapi sekarang, pencapaian itu mengundang banyak tanya yang berputar-putar di kepalaku. Apakah dia terlalu sibuk mengejar karier dan pengabdian sampai melupakan kebahagiaan pribadinya? Ataukah pasangannya yang dulu memilih pergi karena tidak tahan dengan kesibukan pria ini?
Alasan itu sempat terasa masuk akal, tapi seketika kutepis saat aku melirik ke kursi belakang lewat spion tengah. Ada Mikha di sana. Gadis kecil itu masih terlelap, wajahnya begitu damai dengan headphone yang masih terpasang. Jika Pak Baskara adalah pria egois yang hanya mementingkan diri sendiri dan jabatan, tidak mungkin dia mau bersusah payah mengasuh anak perempuannya sendirian. Dia tidak menyerahkan Mikha sepenuhnya pada pengasuh, dia membawanya ke kantor, menjemputnya sekolah, dan memastikan putrinya tetap merasa aman di dekatnya meskipun jam dinasnya sedang padat-padatnya.
Mendengar getir dalam suaranya tadi, aku menebak satu hal, Pak Baskara pernah berada di posisiku yang sekarang. Pernah dikecewakan atas seluruh kepercayaan dan kasih sayang yang telah diberikan pada orang yang ia anggap tepat untuk menemani masa depannya. Bedanya, dia harus menanggungnya sambil menjaga kewibawaan di depan publik, sementara aku bisa berteriak frustrasi di pinggir jalan.
Aku ingin bertanya lebih jauh, ingin tahu bagian mana dari hidupnya yang paling membuatnya kecewa, tapi lidahku mendadak kelu. Aku tidak ingin bersikap lancang melewati batas profesionalitas. Lagi pula, sedari tadi aku sudah bersikap sangat ketus dan tidak sopan padanya. Rasanya agak aneh jika tiba-tiba aku berubah menjadi pendengar yang simpatik.
“Kenapa? Ada yang mau kamu tanyain ke saya?”
Suara berat itu kembali terdengar, memecah lamunanku dan membuatku tersentak kecil di kursi penumpang. Kadang aku merasa ngeri, Pak Baskara ini seperti punya kemampuan membaca pikiran atau radar tak kasat mata yang bisa mendeteksi kegelisahan orang di dekatnya. Dia bisa menebak dengan tepat ada sesuatu yang sedang berputar di otakku.
Sedikit malu karena ketahuan sedang memperhatikannya, aku menggeleng pelan sambil pura-pura menggaruk tengkuk yang tidak gatal. “Nggak ada, Pak. Cuma lagi mikir jalanan kenapa macet banget.”
Pak Baskara mengangguk kecil, sudut bibirnya sedikit terangkat. “Kirain mau nanya kenapa saya bisa jadi duda. Biasanya itu yang paling sering jadi bahan gosip di kantin kantor, kan?”
Deg. Tepat sasaran. Rasanya seperti baru saja tertangkap basah sedang mengintip laporan rahasia. Tapi gengsi yang tinggi membuatku tetap berusaha pada posisi bertahan, tidak mau mengakuinya begitu saja.
“Dih, percaya diri banget Bapak ini. Tolong ya, Pak, saya nggak sekepo orang lain. Lagipula menurut saya, kisah hidup Bapak nggak terlalu menarik sampai harus saya cari tahu. Saya sudah cukup pusing dengan urusan saya sendiri,” sahutku dengan nada yang diusahakan sedatar mungkin.
Tiba-tiba, suara kekeh tawa terdengar dari sosok di sebelahku. Aku menoleh cepat, menatapnya seolah pria ini baru saja berubah menjadi orang asing. Selama aku bekerja dengannya, baru kali ini aku mendengar Pak Baskara tertawa lepas seperti itu. Bukan hanya sekadar senyum tipis formalitas, tapi tawa yang terdengar jujur, geli, dan bertahan cukup lama. Tawanya memiliki nada yang menyenangkan, sangat berbeda dengan suaranya yang biasanya terdengar mengintimidasi saat memimpin rapat. Tawa itu mungkin tidak akan berhenti jika aku tidak memberikan delikan kesal penuh peringatan karena merasa sedang ditertawakan.
Pak Baskara berdeham, berusaha menghentikan tawanya meski sisa-sisa kegelian masih terlihat jelas di sudut matanya yang tajam. “Kamu benar, Dita. Hidup saya memang sama sekali nggak menarik kalau dibandingin drama sinetron yang baru saja kamu alami di jalan tadi. Saya benar-benar menghargai kejujuran kamu ini. Paling nggak, kamu nggak pura-pura baik cuma karena saya atasan kamu.”
Aku mendesis pelan, membuang muka kembali ke arah jendela. Aneh sekaligus takjub. Ternyata selain galak dan kaku, atasan satu ini juga punya sisi receh yang muncul di waktu yang tidak terduga. Karena merasa tidak ada lagi yang perlu atau aman untuk dibicarakan, aku memilih untuk kembali diam. Aku berharap perjalanan ini segera berakhir. Entah kenapa jarak empat kilometer dari kantor ke rumahku mendadak terasa seperti perjalanan lintas provinsi. Padatnya kendaraan di sore hari, asap knalpot, dan suara klakson yang bersahutan membuat mobil kami hanya merayap beberapa sentimeter setiap menitnya.
“Jadi, kamu sekarang benar-benar sudah putus dengan pacarmu yang tentara itu?”
Baru saja aku ingin memejamkan mata untuk mengistirahatkan pikiran, Pak Baskara kembali membuka suara. Kali ini tawanya sudah lenyap sepenuhnya, berganti dengan nada serius yang biasanya dia perlihatkan di meja kerja saat meninjau laporan tahunan.
“Bapak tadi nggak dengar si curut itu mutusin saya? Tiga kali lho, Pak, dia bilang putus! Suaranya keras banget, persis seperti sedang memberi laporan di depan komandannya di lapangan upacara. Bikin saya jadi pusat perhatian dan artis dadakan di restoran tadi,” jawabku ketus. Mengingat kejadian memalukan itu kembali menyulut api di dadaku. Kekesalanku pada Huda yang berimbas pada Pak Baskara membuatku tidak bisa mengerem bibir untuk tidak melontarkan kalimat sarkas.
Kembali, kekeh geli terdengar dari pria di sampingku. Sepertinya melihatku menggerutu dan meledak-ledak adalah hiburan tersendiri bagi manusia seserius dia. Entah setan apa yang merasukinya sampai suasana hatinya bisa berubah-ubah begitu cepat sore ini.
“Bapak kenapa sih ketawa terus? Senang ya lihat orang menderita? Harga diri saya ini sudah terkoyak, tercabik, tercerai-berai gara-gara dia, Pak! Bayangkan, tujuh tahun! Tujuh tahun kalau saya pakai buat ambil kredit motor, saya sudah dapat dua unit yang lunas! Ini malah saya pakai buat nungguin orang yang nggak tahu terima kasih. Memang benar kata orang, lebih baik tahu busuknya sekarang sebelum janur kuning melengkung, tapi ya nggak semengenaskan ini juga kronologinya,” ucapku berapi-api, meluapkan seluruh emosi yang menyumbat d**a.
Aku melanjutkan tanpa memberikan jeda bagi Baskara untuk menyela. “Masa alasannya karena dia merasa pasangan ideal tentara itu harus nakes? Perawat atau bidan? Capek deh! Pakai menghina saya yang cuma honorer kecamatan lagi. Dia bilang saya nggak sederajat sama dia yang sekarang sudah pakai seragam loreng. Memangnya saya mau apa gagal tes CPNS terus-menerus? Saya juga berjuang, Pak! Gedek banget rasanya. Kalau nggak ingat ini tempat umum, sudah saya cincang jadi bakso itu curut satu!”
Kalimat panjang itu kuucapkan dalam satu tarikan napas, wajahku mungkin sudah merah padam menahan dongkol. Perasaanku benar-benar seperti diremas-remas dan dijungkirbalikkan tanpa ampun hari ini. Aku ingin menangis lagi karena rasa sakit hati yang tajam, tapi nyatanya aku sudah terlalu lelah. Air mataku seolah sudah kering, menyisakan ruang hampa yang hanya ingin diisi dengan amukan.
“Tapi saya salut sama kamu,” ucap Baskara pelan, matanya tetap tenang menatap ke depan. “Saya kira kamu bakal tipe wanita yang jambak-jambakan atau minimal main fisik sama perempuan yang ada di sebelah mantan pacarmu itu. Nggak nyangka saya kamu bisa tetap terlihat elegan menghadapi mereka di depan publik. Meskipun bagian menyiram jus alpukat ke wajahnya itu... ya, sedikit di luar dugaan saya. Tapi menurut saya itu sudah bagus. Harusnya kamu lempar saja gelasnya sekalian biar dia makin sadar.”
Kali ini, giliran aku yang tertawa kecil, tawa getir yang dipaksakan. “Iya juga ya, kenapa saya nggak kepikiran buat lempar gelasnya sekalian? Biar benjol sekalian itu kepalanya. Ah, Bapak nggak usah sok menghibur saya begitu. Bapak tadi melarang saya nyamperin mereka karena takut saya berbuat nekat dan mempermalukan instansi, kan? Mengaku saja, Pak. Tapi tenang saja, walaupun saya lagi marah besar, otak saya masih bekerja dengan baik. Mana mungkin saya menghancurkan reputasi saya sendiri demi pria macam dia.”
“Saya cuma mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan, Nandita. Sebagai atasan, saya nggak mau staf saya masuk berita kriminal karena urusan asmara,” Baskara melirikku sekilas, ada kilat aneh di matanya yang tidak bisa k****a. “Tapi syukurlah kalau sekarang kamu sudah mulai bisa berpikir logis. Biar kamu nggak cuma terfokus sama pacarmu saja. Mulai sekarang, coba buka mata, lihat orang-orang yang ada di sekeliling kamu. Jangan cuma melihat ke satu arah yang salah.”
Ia menjeda kalimatnya sejenak, membuat suasana di dalam mobil terasa sedikit lebih berat. “Kecintaan kamu sama orang seperti itu selama tujuh tahun benar-benar bikin orang-orang yang jelas-jelas tertarik sama kamu jadi kelihatan buram, atau bahkan nggak terlihat sama sekali.”
Aku terdiam seribu bahasa, mencerna setiap kata dari kalimat terakhirnya yang terasa memiliki makna ganda. Apa maksudnya dengan 'orang-orang yang tertarik'? Mobil terus merayap pelan menembus sisa-sisa kemacetan sore, meninggalkan amarah yang mulai mereda dan digantikan oleh rasa penasaran yang aneh. Di sampingku, Pak Baskara kembali ke mode diamnya yang misterius, membiarkan pertanyaan-pertanyaan baru mulai tumbuh di kepalaku.