BAB 7

1160 Kata
“Ngapain kamu jalan kaki kayak orang linglung?” Aku menghentikan langkah secara mendadak. Menoleh dengan malas, aku mendapati sebuah mobil SUV hitam yang sudah sangat kukenal merayap pelan di sisiku. Sebenarnya tanpa perlu melihat wajah pengemudinya pun, aku sudah hafal luar kepala siapa pemilik suara bariton yang berat itu. Bagaimana tidak? Setiap hari suara itu sukses membuat seluruh penghuni kantor kecamatan kebat-kebit. Suara yang sering kali menciptakan sesi senam jantung dadakan bagi staf honorer seperti aku karena was-was kena semprot. Dan sekarang, setelah hari yang hancur lebur karena kelakuan Huda, Pak Camat Baskara—sosok duren idaman para emak-emak pemburu menantu mapan—kembali mengusikku. Ia membunyikan klakson berkali-kali seolah jalanan protokol ini miliknya sendiri. Sangat tidak tahu aturan. “Bukan urusan Bapak!” jawabku ketus sembari membuang muka. Aku mempercepat langkah, enggan menatap wajah songong itu. Rasanya belum cukup aku harus melihat wajahnya sepanjang hari di kantor, haruskah di jam bebasku seperti ini dia tetap menampakkan diri? Aku hanya ingin sendiri, meresapi aspal jalanan dan sisa sesak di d**a tanpa gangguan. Tiiiin! Tiiiin! Suara klakson yang memekakkan telinga itu kembali terdengar, lebih panjang dan menuntut. Aku berhenti lagi, lalu berbalik dengan mata membelalak jengkel. “Bapak ngapain sih? Gangguin orang melulu!” Persetan dengan sopan santun atau hierarki jabatan. Kedua tanganku kini berkacak pinggang, memarahi atasan yang bebal dan suka sekali mengusik ketenanganku ini. Tidakkah dia bisa melihat kalau pegawainya ini sedang galau setengah mati? Baskara menurunkan kaca mobilnya lebih rendah. Ekspresi wajahnya datar, tidak menunjukkan rasa bersalah sedikit pun karena sudah membuat kebisingan. “Naik. Saya antar pulang. Jaga-jaga, siapa tahu kamu nanti gantung diri di pohon tomat gara-gara patah hati.” Aku mendengus sebal, tentu saja langsung menolak tawarannya. “Nggak perlu. Saya mau jalan kaki, Pak. Silakan Bapak pergi duluan. Mobil Bapak yang jalannya kayak keong ini mengganggu pengendara lain.” Ucapanku bukan sekadar gertakan untuk mengusir. Kenyataannya, karena Baskara melajukan mobilnya sangat pelan demi menyamai langkah kakiku, arus lalu lintas di belakangnya mulai tersendat. Klakson dari kendaraan lain mulai bersahutan, menunjukkan betapa kesalnya mereka pada ulah Pak Camat yang satu ini. Dalam sekejap, suasana sore yang riuh oleh orang-orang pulang kerja menjadi semakin kacau. Makian terdengar dari jendela kendaraan yang melintas, membuat dadaku bergemuruh karena malu sekaligus marah. “Biarin,” ucap Baskara santai, seolah tidak terganggu dengan keributan yang ia ciptakan. “Kalau kamu nggak mau naik, saya akan ikuti kamu terus seperti ini. Silakan pilih, mau naik sekarang atau sengaja bikin kemacetan panjang?” “Aaaargh!” Aku berteriak frustrasi. Kenapa di antara miliaran manusia di bumi ini, aku harus dipertemukan dengan pria-pria absurd seperti Huda dan Baskara? Jika saja di dekatku ada kursi kayu, mungkin aku sudah melemparkannya ke mobil mahal itu sampai penyok. “Wooy, Mbak! Nggak usah sok cantik pakai acara ngambek di jalan! Bikin macet saja!” teriak salah satu pengguna jalan yang melongokkan kepalanya dari jendela mobil. Wajahku memerah panas. Kepalaku mulai berdenyut nyeri karena kini aku menjadi pusat perhatian dan tersangka utama penyebab kemacetan sore ini. Ingin sekali aku berteriak bahwa aku bukan pacar Pak Camat sinting ini, tapi aku kalah cepat dengan u*****n warga yang sudah kadung emosi ingin cepat sampai di rumah. Sementara itu, tersangka utama yang menjadikanku bahan bulan-bulanan warga justru senyam-senyum tidak jelas. Dia terlihat sangat menikmati bagaimana aku dicerca orang-orang karena ulahnya. “Naiklah, Nandita. Daripada kamu digotong paksa sama pengguna jalan lain gara-gara bikin macet,” ucapnya lagi, kali ini dengan nada perintah yang tipis. Aku menghentakkan kaki, benar-benar kesal setengah mati. Manusia satu ini punya seribu akal bulus untuk mendapatkan apa yang dia mau, tidak peduli meski harus menggunakan kelicikan yang membuatku terus-menerus mengumpat dalam hati. Akhirnya, aku menyerah. Aku berjalan mendekati mobil hitam itu dengan rasa enggan yang luar biasa. Cukup sudah kegilaan hari ini, aku tidak ingin dikeroyok warga hanya karena ulah atasan sendiri. Baru saja tanganku menyentuh gagang pintu belakang, suara Baskara kembali terdengar, berbarengan dengan suara klakson keras dari sebuah truk di belakang. “Ngapain kamu buka pintu belakang?” Aku terhenti, menatapnya bingung melalui kaca. “Mikha lagi tidur di belakang. Lagian, kamu pikir saya ini sopir kamu? Kamu nggak lupa kan kalau saya ini atasan kamu?” Kesal, geram, jengkel, marah—semuanya memuncak di ulu hati. Demi Allah, hari ini kesabaranku benar-benar diuji sampai batas tertinggi. Namun, melawan pun percuma. Dengan rasa dongkol sebesar gunung, aku mengalah dan duduk di bangku depan, tepat di samping Baskara. Awalnya aku berniat membanting pintu mobil ini sekuat tenaga agar dia tahu betapa murkanya aku. Namun, niat itu urung seketika saat mataku menangkap sosok makhluk mungil yang tertidur lelap di car seat belakang dengan headphone terpasang di telinganya. Ternyata, meski Baskara sangat menyebalkan, dia adalah ayah yang sangat perhatian. Nada tinggi yang sudah siap kulepaskan terpaksa kutelan kembali. “Saya tidak berbohong soal Mikha. Dia benar-benar tidur,” ucap Baskara datar sambil mulai melajukan mobilnya dengan kecepatan normal. Aku menghela napas panjang, berusaha meredam emosi agar tidak mengganggu tidur gadis kecil di belakang. “Mikha menyelamatkan Bapak dari amukan saya. Tolong katakan terima kasih nanti ke Mikha, Pak.” Sarkasme itu terlontar begitu saja. Aku benar-benar tidak peduli lagi. Karena tidak ingin terlibat pembicaraan lebih jauh yang hanya akan memancing ledakan amarah, aku memejamkan mata dan menyandarkan kepala. Aku berharap Baskara paham bahwa aku sedang tidak ingin diganggu. Lama kesunyian menyelimuti kabin mobil. Tidak ada musik, tidak ada suara apa pun, hingga suara berat itu kembali memecah keheningan. “Saya mewakili yang lain minta maaf, Nandita. Tapi percayalah, tidak ada satu pun dari kami yang menertawakan masalah kamu. Termasuk saya. Kami hanya ingin membesarkan hatimu agar tidak larut dalam kekecewaan.” Aku membuka mata perlahan. Aku tahu niat rekan-rekanku di kantor itu baik. Tapi tetap saja, setiap orang butuh waktu untuk bersedih dan meratap sendirian agar luka itu tidak menggerogoti hati. Setiap orang punya cara sendiri untuk berdamai dengan masalahnya, dan caraku adalah dengan menjauh dari keramaian. “Tujuh tahun saya menghabiskan waktu dengan sia-sia, Pak. Dengan semua waktu yang terbuang karena alasan yang sangat tidak masuk akal, tidak bolehkah saya kecewa?” suaraku mulai bergetar lagi. “Bapak dengar sendiri tadi bagaimana dia bilang saya tidak pantas bersanding dengannya hanya karena saya seorang honorer yang gagal CPNS. Orang dengan segala kesempurnaan seperti Bapak tidak akan pernah tahu rasanya sesak karena tidak memiliki sesuatu untuk dibanggakan di depan orang lain.” Kali ini bukan aku yang menghela napas, melainkan Baskara. Dia terdiam sejenak, seolah kata-kataku baru saja menghantam ulu hatinya dengan telak. “Kata siapa saya tidak paham rasanya kecewa, Nandita?” tanyanya tanpa menoleh, matanya tetap lurus menatap jalanan di depan. “Menurut kamu, menjadi duda dan juga single parent di usia seperti saya bukan sebuah hal yang mengecewakan?” Aku tertegun, mendadak kehilangan kata-kata. Kalimat itu diucapkan dengan nada yang begitu datar, namun ada beban tersembunyi yang membuatku menyadari bahwa bukan hanya aku yang sedang memikul luka sore ini. Baskara benar, setiap orang punya kekecewaannya masing-masing, meski dibungkus dengan seragam dan jabatan yang mentereng.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN