BAB 6

1104 Kata
“Nggak usah merasa paling hebat mentang-mentang sudah jadi tentara, Da. Dan buat Mbaknya, terima kasih lho sudah sudi menampung curut seperti dia. Kalau dia bisa meninggalkan saya begitu saja, bukan tidak mungkin suatu saat nanti Mbak juga akan dibuang seperti sampah!” Aku menyeringai lebar. Ada kepuasan aneh yang menjalar di dadaku melihat cairan kental berwarna hijau itu menetes dari ujung hidung Huda ke seragam kebanggaannya. Rasa sakit hatiku memang belum sembuh, tapi setidaknya aku sudah memberikan kenang-kenangan yang setimpal. Jika bukan karena akal sehat yang masih tersisa sedikit, ingin rasanya aku menghantamkan gelas jumbo di tanganku ini ke kepalanya sekalian. “Mbak, tolong... apa pun masalahnya, jangan membuat keributan di sini!” Seorang staf restoran datang tergopoh-gopoh menghampiriku. Wajahnya pucat pasi, matanya melirik ngeri ke arah Huda yang keadaannya sangat mengenaskan, lalu beralih padaku dengan ragu. Dia ingin memarahiku, aku tahu itu. Tapi melihat senyuman di bibirku yang tidak selaras dengan sorot mataku yang tajam, dia mengurungkan niatnya. Siapa pun pasti bisa melihat bahwa aku sedang dalam mode siap menghancurkan apa pun yang menghalangi jalanku. Ada satu hal yang perlu diingat, jangan pernah mengusik wanita yang hatinya sedang hancur. Karena saat itu terjadi, memindahkan gunung pun terasa mungkin bagi kami. “Dia yang buat masalah! Lihat, pacar saya disiram sampai seperti ini! Usir dia dari sini, Mas!” Pekikan Yulia melengking, memecah ketegangan. Tangannya sibuk mengambil tisu, berusaha membersihkan wajah dan rambut Huda dengan gerakan panik yang sia-sia. Wibawa Huda sebagai abdi negara yang tadi ia pamerkan lenyap seketika. Kini ia hanya terlihat seperti kadal darat yang bermetamorfosis menjadi curut got. “Ya Allah, Abang... mimpi apa kita sampai ketemu perempuan barbar seperti dia? Bisa-bisanya kamu dulu pacaran dengan orang seperti ini!” keluh Yulia lagi sambil terus mengusap bahu Huda. Huda menatapku. Tatapan yang selama tujuh tahun ini selalu meneduhkanku kini berubah menjadi tajam, penuh kebencian dan permusuhan. Seolah waktu tujuh tahun itu hanyalah tumpukan sampah yang tidak ada artinya sama sekali. “Gila kamu, Dita! Kamu sudah memalukan aku di depan umum. Ternyata keputusanku untuk meninggalkanmu memang benar,” desisnya rendah. “Kamu mau dengar kata putus dariku, kan? Sekarang dengar baik-baik, aku mau putus! Kamu dengar? Putus! Putus! Putus!” Mataku mendadak panas. Ada dorongan kuat untuk menangis, tapi aku menahannya sekuat tenaga. Tidak akan kubiarkan satu tetes air mata pun jatuh di hadapan dua orang ini. Aku menarik napas panjang, berusaha mempertahankan masker senyum di wajahku. Staf restoran yang bernama Yanto itu kembali mendekat saat mendengar makian Huda. Dia tampak serba salah, suaranya lirih nyaris memohon. “Mbak... tolong pergi ya, jangan bikin suasana makin gaduh.” Aku menoleh padanya, menepuk bahu pria yang sepertinya berusia lebih muda dariku itu. “Tenang saja, Mas. Saya sendiri yang akan langsung minta maaf pada tamu yang lain.” Aku menunjukkan senyuman yang paling tenang, meyakinkannya bahwa drama ini sudah berakhir. Cukup menyulap kadal darat menjadi tikus curut, tidak perlu sampai menjadikannya daging giling seperti yang kukatakan pada Pak Abdul tadi. Aku menulikan telingaku dari rentetan kalimat menyakitkan Huda dan berbalik menghadap tamu-tamu restoran yang sedari tadi menonton aksiku. Aku membungkukkan kepala sedikit, menunjukkan rasa penyesalanku karena telah merusak waktu makan mereka. “Maafkan saya ya, Bapak, Ibu, Mas, Mbak. Maaf karena ulah saya, kalian semua jadi terganggu.” Aku sudah siap menerima cemoohan atau u*****n balik. Namun, yang terjadi justru di luar dugaanku. Seorang ibu-ibu yang duduk bersama pria pemilik jus alpukat yang kupakai tadi justru bangkit. Tanpa aba-aba, beliau memelukku erat. Aku membeku di tempat, tidak menyangka akan mendapatkan simpati sedalam ini. “Yang sabar ya, Nak. Berarti memang belum jodoh. Alhamdulillah, Allah kasih lihat aslinya sekarang sebelum semuanya terlambat,” bisiknya halus. Kalimat sederhana itu sukses meredam amarah yang tadinya mendidih di kepalaku. Aku membisikkan terima kasih dengan suara serak. Suara-suara dukungan lain mulai bermunculan dari meja-meja di sekitar. “Nggak usah merasa tidak enak sama kita, Mbak. Mantan pacar Mbak saja yang keterlaluan!” seru seorang pria dari sudut lain. “Lain kali kalau mau cari pacar lagi, yang lama diputus dulu, Mas! Bertahun-tahun gantung anak orang seenaknya, nggak ada tanggung jawabnya jadi laki-laki!” “Malu-maluin seragam saja kamu! Biasanya yang nggak berguna di kesatuan itu yang banyak tingkah seperti itu. Cih, memalukan!” “Baru pacaran udah belajar selingkuh, apalagi nanti kalau udah kawin. Mbaknya di putusin mah nggak rugi, yang rugi ya jelas yang mungut pecundang. “ Huda yang tadinya ingin melihatku diusir secara hina, kini justru ia yang tersudut. Wajahnya yang sudah hijau karena jus alpukat kini bertambah merah karena malu. Mendengar cercaan dari pengunjung resto, dia segera menarik tangan Yulia dan melangkah pergi dengan terburu-buru. Aku tersenyum tipis melihat bagaimana ia berusaha menyelamatkan harga dirinya yang sudah berceceran di lantai restoran. Bibirku mungkin bisa tersenyum saat orang-orang memberiku penguatan, tapi aku tetap manusia biasa. Hatiku masih berfungsi dengan baik, dan melihat bagaimana Huda menggenggam erat tangan Yulia saat pergi, rasanya tetap seperti diiris sembilu. Perih sekali. Ya Tuhan, kenapa harus menciptakan cinta jika hanya berakhir luka? Kenapa harus diciptakan pengkhianatan untuk sebuah penantian panjang? Aku melangkah keluar dari restoran. Matahari sudah mulai redup, menyisakan semburat jingga di langit yang mulai gelap. Kendaraan mulai ramai lalu lalang, membawa orang-orang kembali dari tempat kerja. Semua orang tampak sibuk dengan urusan masing-masing, tidak ada yang peduli pada sosok wanita yang berjalan sendirian di trotoar sambil bernyanyi lirih untuk menghibur diri sendiri. Aku justru bersyukur dengan kesendirian ini. Aku ingin meresapi luka ini sendirian, meratapi kekecewaan tanpa perlu ada yang mengasihani atau menganggap masalahku sebagai lelucon. Jarak dari restoran ke rumahku sekitar lima kilometer, dan aku memutuskan untuk berjalan kaki. Aku sama sekali tidak tertarik menggunakan aplikasi transportasi daring meski ada diskon besar-besaran. Aku butuh lelah fisik untuk mengimbangi lelah hati ini. Setiap langkah terasa berat saat bayangan masa lalu kembali muncul. Rasanya tidak adil. Apakah dunia sudah segila ini sampai Huda berpikir bahwa seorang abdi negara hanya pantas bersanding dengan tenaga kesehatan? Siapa sebenarnya yang menciptakan standar naif itu? Aku merasa sangat terhina oleh pemikiran sempitnya. Aku terus berjalan, mencoba membuang sesak di d**a lewat helaan napas yang panjang. Namun, ketenanganku terusik oleh suara klakson mobil yang berulang kali berbunyi di sampingku. Aku mencoba mengabaikannya, mengira itu hanya orang iseng atau orang gila yang kurang kerjaan. Klakson itu terus berbunyi, mendesak, dan sangat mengganggu sesi patah hatiku. Hingga akhirnya, kaca mobil itu turun dan sebuah suara yang sangat kukenal menyapa dengan nada ketus yang khas. “Ngapain kamu jalan kaki seperti orang linglung?” Aku berhenti melangkah dan menoleh. Pak Aditya. Singa Kecamatan itu sedang menatapku dari balik kemudi dengan dahi berkerut. Matanya menyelidiki wajahku yang mungkin terlihat sangat kacau setelah drama di restoran tadi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN