“Pak, Bapak selain mengurusi masalah administrasi warga, ternyata Bapak masih punya banyak waktu ya untuk mengurusi masalah percintaan pegawainya?” semprotku dengan suara yang bergetar. “Puas Bapak mengejek saya? Kalau puas, silakan senyum lebih lebar lagi, Pak. Di mata Bapak, saya memang tidak lebih dari seorang badut yang setiap masalah pribadinya hanya dianggap lelucon dan bahan tertawaan.”
Aku menghela napas panjang, mendongak kuat-kuat demi menahan air mata yang rasanya ingin kembali tumpah. Benar apa yang dikatakan para seniorku, aku sangat cengeng karena menangisi seseorang yang bahkan sudah tidak memedulikan perasaanku lagi. Mungkin bagi mereka yang sudah kenyang makan asam garam kehidupan, masalah yang sedang menghimpitku ini hanyalah sebuah drama receh yang menggelikan. Tapi, meskipun demikian, apa lantas aku tidak boleh menangis untuk mengungkapkan kesedihanku?
Apa aku harus tertawa terbahak-bahak saat menyadari bahwa tujuh tahun penantianku tidak lebih dari sekadar pengisi kekosongan bagi seseorang? Aku merasa seperti ban serep yang dilempar begitu saja ke pinggir jalan saat dia sudah menemukan kendaraan baru yang lebih mewah, tanpa aku tahu di mana letak kesalahanku.
Suasana di saung tempat kami makan mendadak hening. Semua rekan kerjaku terdiam, terhenyak mendengar kalimat pedas yang baru saja kulontarkan. Begitu juga dengan Pak Baskara. Pria itu terdiam dengan wajah datarnya yang menyebalkan, membuatku gemas ingin melempar piring sisa makan Mikha tepat ke arah wajah tampannya yang tak berdosa itu.
“Saya melakukannya demi kebaikanmu. Lebih tepatnya, demi nama baik pegawai kecamatan tempat saya memimpin,” ujar Pak Baskara tanpa nada bersalah sedikit pun.
Jawaban dingin itu membuatku semakin muak. Tidak peduli lagi dengan keberadaan para senior, aku bangkit berdiri dengan kasar. Saat mengambil tas tangan dengan terburu-buru, talinya sempat menghantam bahu Pak Baskara cukup keras. Aku tidak berhenti untuk meminta maaf. Masa bodoh. Biarlah jika besok dia ingin memarahi atau menceramahiku soal etika dan sikap profesional, itu urusan belakangan. Yang ingin kulakukan sekarang hanyalah pergi secepat mungkin dan menangis di rumah sepuasnya.
Sayangnya, seakan takdir buruk memang mengikat kakiku dengan sangat erat hari ini. Karena terlalu tergesa-gesa ingin menghindari Pak Baskara dan olok-olok para senior, aku lupa satu hal teknis, resto ini bertema saung di atas kolam ikan yang luas, dan satu-satunya jalan keluar mengharuskanku melewati saung tempat Huda tengah bermesraan dengan perawat itu.
Kecewa, sakit hati, sedih, marah, dan kesal—semuanya bercampur menjadi satu di dalam benakku saat langkahku semakin dekat ke arah mereka. Pandangan memuja Huda pada wanita itu membuatnya sama sekali tidak menyadari kehadiranku yang berjalan mendekat.
Hatiku serasa diremas kuat-kuat. Setiap inci tubuhku menggelegak dengan amarah yang kini tidak bisa lagi kukendalikan. Aku yang menemaninya di saat dia terpuruk, namun sekarang saat dia sudah sukses menjadi orang yang dia inginkan, dia merasa berhak membuangku begitu saja? Aku bukan wanita yang gila seragam, tapi aku gila karena sikapnya yang sangat pengecut ini.
Melihat bagaimana Huda menatap wanita lain dengan penuh cinta—tatapan yang dulu hanya diberikan untukku—membuat darahku mendidih. Siapa yang menyangka jika semudah itu dia menyingkirkan cinta yang katanya abadi?
Aku menggertakkan gigi, menahan amarah yang hampir meledak. Aku kemudian menyunggingkan senyum terbaikku—senyum palsu yang paling mematikan yang pernah kubuat. Di tengah jalan, aku menghampiri seorang tamu yang baru saja menerima pesanannya. Aku mengeluarkan uang dua puluh ribu rupiah, lalu menukarnya dengan jus alpukat jumbo milik pelanggan yang tampak terheran-heran dengan sikapku itu.
Mengabaikan pandangan bingung dari tamu-tamu resto yang lain, aku melangkah cepat ke arah sosok tegap yang masih duduk membelakangiku. Huda benar-benar tidak sadar bahwa aku sudah berdiri tepat di belakang punggungnya.
“Huda ...” panggilku pelan namun tajam.
Senyumanku semakin lebar saat melihat bahu tegap itu menegang seketika. Aku bisa membayangkan wajahnya kini sepucat mayat mendengar suaraku yang pasti terdengar seperti hantu di telinganya.
Namun, bukan Huda yang menoleh duluan, melainkan wanita berseragam perawat itu. Dia menoleh ke arahku dengan dahi mengerut, heran melihatku tersenyum lebar menyapa prianya. Harus kuakui, dia memang cantik. Pantas saja Huda kecantol. Dasar kadal darat, jadi tentara baru sebentar saja sudah bergaya selangit.
“Dia siapa, Bang?” tanya wanita itu. Suaranya terdengar mesra, dan kata 'Abang' itu sukses membuat telingaku panas.
Sementara yang dipanggil 'Abang' hanya menunduk, tidak berani menjawab. Wanita itu memperhatikanku dari atas ke bawah, menilai kemeja batik dan celana slim fit hitam seragam kantorku dengan tatapan meremehkan. Dia mendecih kecil, seolah menghinaku hanya dari penampilan.
Aku mengulurkan tangan kepadanya dengan wajah yang masih dipaksakan ramah. “Kenalin, aku Nandita. Pacarnya si Abang yang ada di sebelah kamu ini. Lebih tepatnya, aku pacarnya sejak kami kelas sepuluh SMA sampai beberapa detik yang lalu, karena memang tidak ada kata putus di antara kami.”
Bukannya menyambut uluran tanganku demi menjaga image di depan umum, wanita itu justru menepis tanganku dengan kasar. Reaksi yang sama sekali tidak kuduga. Aku kira sebagai tenaga kesehatan yang berpendidikan, dia akan memiliki etika yang lebih baik dariku yang bekerja di balik layar, ternyata zonk.
“Nggak usah sok sopan!” bentaknya. “Kalau memang sebelumnya Bang Huda pacarmu, lantas mau apa kamu sekarang? Mau ngelabrak aku? Mau sok jadi pahlawan kesiangan dengan bilang kalau kamu lebih berhak sama dia karena sudah nemenin dari nol? Gitu? Kalau sudah diacuhin ya sudah terima saja, ngapain pakai nyamperin sok ramah segala. Naif banget.”
Dia tersenyum sinis, lalu melanjutkan, “Oh ya, makasih lho sudah nemenin Bang Huda berjuang. Sayangnya, aku yang mau dia jadiin masa depannya.”
Aku terkekeh geli mendengar rentetan kalimat itu. Ternyata otak cantik di hadapanku ini tidak berpikir bahwa kata-katanya justru mengundang malu untuk dirinya sendiri. Awalnya aku sempat berpikir mungkin wanita ini tidak bersalah, mungkin Huda yang berbohong. Tapi melihat kelakuan 'bidadari' di hadapanku ini, aku yakin meskipun dia tahu Huda punya pacar, dia tetap tidak akan peduli.
Alih-alih menanggapi ocehan wanita itu, aku menyenggol bahu Huda yang mendadak bisu dan tuli. “Da, jantan dikit kek jadi manusia! Tega amat bikin Mbak Perawat ini jadi cibiran orang. Kamu nggak b***k, kan? Di luar sana, orang akan panggil dia pelakor. Malu sama seragam yang kamu raih dengan jungkir balik itu! Menghadapi kesalahan saja nggak berani. Pengecut. Loser!” cibirku tanpa mengerem sedikit pun. Tujuanku memang untuk memprovokasinya.
Sesuai dugaanku, Huda akhirnya berbalik. Kemarahan terlihat jelas di wajahnya mendengar setiap u*****n yang kulontarkan. Dia bangkit berdiri, menjulang di hadapanku. Sisa cinta yang pernah ada di matanya telah musnah, berganti amarah yang sama besarnya dengan apa yang kurasakan.
“Mau kamu apa, Dit? Harusnya kamu tahu, dengan putusnya kontak di antara kita, berarti putus juga hubungan kita. Kamu nggak salah apa-apa, yang salah aku. Karena aku pengen punya pacar yang sederajat sama aku,” ucapnya dengan nada dingin yang menusuk.
Dia menatapku dengan sorot mata menghina. “Mana mungkin tentara sepertiku bisa hidup sama wanita honorer gagal CPNS kayak kamu? Pasangan tentara sepertiku ya paling nggak perawat atau bidan kayak Yulia ini. Dulu aku memang sayang sama kamu, tapi tipeku berubah menyesuaikan profesiku. Sorry, Dit, tapi aku nggak mau di-eje...”
BYUUUUURRRRRRR!
Belum sempat Huda menyelesaikan kalimatnya, jus alpukat jumbo yang sedari tadi kusembunyikan di tangan kiriku kini mengguyur sempurna kepala dan seragam kebanggaannya. Cairan hijau kental itu mengalir dari rambut, turun ke hidung, dan mengotori muncung busuknya.
Tolong ingatkan aku untuk berterima kasih pada mas-mas pelanggan tadi, karena sekarang Huda terlihat lebih mirip curut yang baru saja tercebur ke dalam got daripada seorang prajurit.
“Nggak usah sok iyes mentang-mentang jadi tentara, Da,” ucapku sambil menatapnya tajam tanpa rasa takut sedikit pun. “Dan buat Mbaknya, makasih lho sudah nampung curut kayak dia. Kalau dia bisa ninggalin aku setelah tujuh tahun, bukan nggak mungkin suatu saat nanti kamu juga bakal ditinggalin kayak sampah!”
Aku membalikkan badan dengan perasaan lega yang luar biasa, meninggalkan mereka yang kini menjadi pusat perhatian seluruh pengunjung restoran. Patah hatiku belum sembuh, tapi setidaknya, harga diriku tidak ikut terkubur bersama pengkhianatannya.