“Mau kemana kamu, Dit?” tanya Pak Abdul, suaranya nyaris tenggelam di antara bunyi kunyahan rekan-rekan yang lain.
Aku tidak menjawab. Mengabaikan semua orang yang ada di saung lesehan ini, aku bangkit dengan gerakan kasar hingga ujung kain rokku tersangkut di sudut meja. Tidak akan kulewatkan kesempatan ini. Huda ada di sana, tepat di depan mataku, hanya terhalang beberapa langkah parkiran. Aku sakit hati, hancur, dan dikhianati, maka dia harus merasakan hal yang sama. Aku ingin dia melihatku, lalu aku akan memaki semua kepalsuannya di depan wanita itu.
“Mau giling kadal darat jadi bakso dulu, Pak Abdul!” jawabku dengan nada yang bergetar karena emosi.
Semua orang di hadapanku ternganga. Pak Abdul sampai urung memasukkan potongan ayam ke mulutnya. Wajahku yang memerah dengan tangan mengepal sudah cukup menunjukkan betapa meledaknya amarahku sekarang. Aku benar-benar murka pada skenario takdir yang sedang mempermainkanku.
Tidakkah takdir terlalu kejam? Dalam satu hari yang sama, dia menghantamku bertubi-tubi tanpa jeda. Tidak cukupkah aku tahu bahwa aku sudah tidak berharga lagi bagi pria yang kucintai melalui satu ceklis abu-abu itu? Sekarang, tanpa memberi waktu bagiku untuk sekadar bernapas, aku dipaksa melihat sosok yang mengecewakanku itu tertawa bahagia dengan wanita lain.
Aku tidak habis pikir bagaimana pria yang kukenal selama tujuh tahun itu bisa tertawa selebar itu, seakan dunia hanya miliknya dan wanita berseragam perawat di sampingnya. Tidak adakah secuil rasa bersalah di hatinya? Tidakkah dia memikirkan perasaanku yang dia blokir seenak jidatnya? Terlalu sampahkah aku hingga eksistensiku benar-benar dihapus dari kepalanya?
Aku baru saja hendak melangkah keluar dari area saung, namun sebuah bayangan tinggi besar mendadak menjulang di hadapanku. Pak Camat Baskara berdiri tegak, menghalangi jalanku dengan sorot mata dingin yang tidak terbantahkan.
“Duduk,” perintahnya pendek.
Aku ingin melotot, ingin memberi isyarat padanya agar jangan ikut campur dalam urusan pribadiku. Harga diriku sedang terkoyak, dan aku butuh pelampiasan. Namun, seolah mengabaikan tatapan tajam penuh peringatan dariku, Pak Baskara justru melakukan hal yang sama sekali tidak masuk akal. Dia meraih anak perempuannya, lalu mendudukkannya tepat di pangkuanku.
Aku membeku. Pak Baskara memang seorang duda dengan satu anak perempuan berusia lima tahun. Dan sekarang, anak bernama Mikha Putri Bakti itu menatapku dengan wajah sama herannya denganku. Dia tampak bingung melihat ulah absurd bapaknya yang menempatkannya di pangkuan pegawai yang sedang emosi tingkat tinggi.
“Suapin Mikha, Dit. Dia suka gurame tepung,” ucap Pak Baskara tanpa beban sedikit pun.
Aku tercengang. Bukan hanya aku, tapi seluruh rekan kantorku yang lain ikut kehilangan kata-kata. Bu Maryati dan Pak Abdul bahkan ternganga dengan mulut terbuka, urung menyuapkan makanan mereka sendiri. Aku menatap mereka dengan tatapan memelas, berharap ada yang berani menegur sikap konyol Pak Baskara yang mendadak menjadikanku babysitter. Namun, Mbak Citra yang duduk di sampingku justru menyikut lenganku dengan keras.
“Turutin saja, Dit. Jangan lihat muka bapaknya kalau kamu kesel. Lihat saja muka anaknya yang bening kayak Barbie ini. Mikha ini calon mantuku, tahu!” bisik Mbak Citra pelan.
Astaga, di sini aku sedang frustrasi karena patah hati dan menyaksikan pengkhianatan di depan mata, tapi kenapa orang-orang di sekelilingku justru terlihat tidak waras?
Aku mendengus kesal, mengalihkan pandangan dari Mbak Citra yang tiba-tiba terasa menyebalkan. Namun, saat aku menunduk dan menatap sosok kecil di pangkuanku, aku seolah dipaksa menjilat ludah sendiri. Aku terpana melihat wajah Mikha.
Anak ini benar-benar definisi boneka hidup yang bisa membuat siapa pun terpesona. Wajahnya oval dengan dagu runcing, hidungnya mancung sempurna, dan matanya bulat besar dengan bulu mata lentik. Bibir mungilnya yang merah merekah seolah menambah kesempurnaan fisiknya. Untuk beberapa saat, aku bahkan tidak berkedip. Segala hal yang dimiliki Mikha adalah standar kecantikan yang diinginkan semua wanita dewasa.
Walau aku kesal setengah mati dengan bapaknya, aku harus mengakui bahwa Mikha adalah hasil dari gen unggul seorang Baskara Putra Bakti. Entah secantik apa ibu kandungnya dulu hingga bisa melahirkan anak yang tampak seperti jelmaan bidadari kecil ini.
Rasa kesalku yang sebelumnya memuncak perlahan mulai menguap saat melihat betapa polosnya pandangan Mikha. Dia mengerjapkan matanya berulang kali ke arahku, membuat rasa simpatiku tumbuh. Kasihan sekali, batinku. Anak sesempurna dan secantik ini harus hidup hanya dengan bapaknya yang berhati batu dan terkadang gendeng seperti Pak Baskara.
“Tante, Mikha mau maem,” suara manis Mikha memecah lamunanku.
Telunjuk mungilnya yang berkulit kuning langsat menunjuk pada piring gurame tepung asam manis di depanku. Tanpa sadar, aku menuruti permintaannya. Aku meraih sendok, mencuil kecil daging ikan gurame, lalu mencampurnya dengan sedikit nasi. Aku meniupnya pelan agar tidak panas sebelum menyuapkannya ke mulut kecil yang terbuka itu.
Katakan aku gila, tapi saat tanganku terulur dan Mikha menyambut suapanku dengan lahap, ada getaran hangat yang menjalar di hatiku. Tanpa kusadari, sebuah senyuman tipis muncul di bibirku. Interaksi sederhana ini terasa seperti sihir yang menenangkan badai di dadaku.
Sebagai anak bungsu yang memiliki satu kakak laki-laki yang dinas jauh di Makassar, aku terbiasa sendiri. Aku biasanya tidak suka anak kecil. Jika sepupuku datang dan membuat rumah berantakan atau berisik, aku bisa marah-marah tidak keruan. Suara teriakan anak-anak biasanya lebih mengganggu daripada speaker musikku yang paling kencang. Tapi lihatlah sekarang, Mikha dengan segala pesonanya mampu membuat semua rasa tidak sukaku lenyap begitu saja.
“Tante, udah. Mikha kenyang,” ucap Mikha menghentikan suapanku.
Aku meletakkan sendok, lalu meraih tisu basah milik Mbak Citra. Dengan lembut, aku membersihkan sudut bibirnya dan kedua telapak tangan mungilnya.
“Makasih, Tante Dita” ucapnya tulus.
Aku terpana mendengar ucapan terima kasih itu. Sudah cantik, sopan pula. Harus kuakui, Pak Duda galak di sebelahku ini sukses besar dalam mendidik anaknya.
“Sama-sama, Sayang. Pinter banget kamu,” pujiku sambil mengusap rambut panjangnya yang lurus dan halus.
Tahu anaknya sudah kenyang, Pak Baskara meraih Mikha dari pangkuanku. Dari tas kuning bergambar lebah yang dibawanya, dia mengeluarkan sebuah headphone berwarna senada dan memakaikannya pada telinga Mikha. Aku segera menyadari alasannya, dia tidak ingin Mikha mendengar pembicaraan orang dewasa yang mungkin akan memanas setelah ini.
“Bagaimana? Sudah tenang?” tanya Pak Baskara.
Seketika, kekesalan yang sempat reda kembali melonjak. Apalagi saat kulihat wajah Pak Baskara yang seolah mengejek, matanya melirik jauh ke seberang saung, tempat di mana Huda sedang asyik bercengkerama dengan perawat itu. Senyum masih tersungging di wajah mereka, seolah-olah duniaku yang hancur bukanlah hal yang penting.
Tanpa peduli lagi pada sopan santun terhadap atasan, aku membanting gelas air minumku ke meja dengan kesal. Aku menatap Pak Baskara dengan tatapan penuh permusuhan.
“Pak, Bapak selain mengurusi masalah administrasi warga, ternyata Bapak masih punya banyak waktu ya untuk mengurusi masalah percintaan pegawainya?” semprotku dengan suara tertahan. “Puas Bapak mengejek saya? Kalau puas, senyum saja lebih lebar lagi, Pak. Di mata Bapak, saya memang tidak lebih dari seorang badut yang setiap masalah pribadinya hanya dianggap lelucon dan bahan tertawaan.”