Bab 1. ambigu

773 Kata
"Keanu Veyron! b*****t!" "Kalau mau teriak, sekalian saja pakai toa," ujar Keanu. "Dasar manusia nggak punya hati! Pagi-pagi udah bikin orang darah tinggi!" "Jam lima lewat lima belas bukan pagi, Dokter Pramesti. Itu jam olahraga." "Olahraga kepala lo!" Elara Pramesti menggeram sambil membanting pouch kosmetiknya ke atas wastafel. Suara treadmill dari rumah sebelah kembali berdengung tanpa dosa. Dinding kamar mereka memang berdempetan. Akibatnya, setiap langkah kaki Keanu di atas mesin itu terasa seperti menghantam kepalanya sendiri. "Awas aja lo. Ketemu di rumah sakit, gue bikin hidup lo nggak tenang," gerutunya sambil membuka keran shower. Sayangnya, suara air hangat sama sekali tidak mampu mengalahkan dengungan treadmill yang terus berputar. Permusuhan mereka sudah berlangsung lebih dari dua puluh tahun. Dari SD sampai menjadi dokter spesialis, tidak ada satu pun fase hidup yang berjalan damai. Dulu mereka berebut peringkat kelas. Sekarang mereka berebut... entah apa, yang jelas, setiap bertemu pasti ada perang. Pukul enam lewat tiga puluh menit. Elara keluar rumah dengan blus satin hijau zamrud dan celana kulot hitam. Rambutnya dicepol asal, tetapi tetap rapi. Belum sempat mengunci pagar, emosinya langsung naik lagi. Mobil Mazda CX-5 hitam milik Keanu berhenti serong, menutup hampir setengah akses keluar rumahnya. "Ya ampun..." Elara memijat pelipis. "Nggak pernah gagal nyebelin." Elara menghampiri mobil itu lalu mengetuk kaca pengemudi beberapa kali. Kaca perlahan turun. Keanu menoleh tanpa ekspresi. "Ada masalah?" Elara tertawa sinis. "Lo nanya ada masalah?" "Iya." "Mobil lo nutup pagar rumah gue!" ujar Elara. "Masih muat lewat." "Muat kepala lo!" Keanu melirik sekilas ke arah pagar. "Kalau memang sempit, keluar pelan-pelan." Elara menganga. "Serius lo ngomong begitu?" "Iya." "Keanu." "Hm?" "Lo sengaja, kan?" "Kalau sengaja kenapa?" "Supaya gue emosi!" "Bukti?" tantang Keanu Elara menunjuk mobil itu. "Ini buktinya!" "Bukan. Itu mobil." Elara menarik napas panjang. "Gue sumpah ya..." "Mau sumpah apa?" "Gue pengin nyoret mobil lo." "Silakan." "Hah?" Elara membulatkan mata. "Asal siap ganti satu panel." Elara mengepalkan tangan. "Gue juga pengin nyakar muka lo." "Silakan." Keanu gak peduli. "Jangan nantang!" ujar Elara berusaha menahan amarah. "Lo sendiri yang bilang." Elara mendengus keras. "Om sama Tante udah nyuruh lo pindah rumah, kan? Kenapa masih bertahan di sini?" Keanu melepas kacamata hitamnya dengan tenang. "Kenapa gue harus pindah? Ini rumah gue." "Karena tetangga lo gue!" "Itu justru alasannya gue bertahan." Elara menyipitkan mata. "Maksud lo?" "Biar ada hiburan setiap pagi," jawab Keanu santai. "Hiburan?" "Iya." "Gue hiburan?" tanya Elara lagi "Marah-marah lo lumayan lucu." "Lucu kepala lo!" Keanu hampir tersenyum, tetapi berhasil menyembunyikannya. Tatapan mereka saling bertabrakan. Bagi Elara, pria di depannya tetap menyebalkan seperti dulu. Wajahnya memang tampan, terlalu tampan malah. Namun, sikap datarnya membuat semua nilai plus itu langsung lenyap. Sedangkan bagi Keanu, perempuan itu juga tidak pernah berubah. Masih sama keras kepala, masih sama impulsif dan masih menjadi satu-satunya orang yang selalu berhasil membuat emosinya terusik. "Apa jangan-jangan..." Elara menyeringai tipis. "Lo sengaja parkir begini karena hidup lo sepi?" "Bisa jadi," jawab Keanu. "Kasihan." "Gue juga kasihan." "Sama siapa?" "Sama dokter yang tiap pagi ngomel sendiri," kekeh Keanu dan menggelengkan kepala. "Gue ngomel gara-gara lo!" tunjuk Elara. "Berarti penyebabnya jelas," lanjut Keanu. "Keanu!" teriak Elara semakin kesal. "Hm?" "Pindah rumah." "Nggak." "Pindah!" "Nggak," keukeuh Keanu. "Kenapa sih?" Keanu menyandarkan siku di pintu mobil. "Karena ini rumah gue." "Lo beneran nyebelin." "Tahu kok aku nyebelin," kekeh Keanu. "Nyolot dan songong lo jadi orang." "Gue tahu," jawab Keanu lagi. Elara benar-benar kehabisan kata-kata. Ia menendang pelan ban depan mobil Keanu. "Bisa geser nggak?" Elara mulai kehabisan kesabaran. "Bisa," angguk Keanu. "Nah! Itu bisa." "Tapi, gue males." "Lo sengaja bikin gue telat kerja?" tanya Elara. "Jam berangkat kita sama." "Itu bukan jawabannya!" Elara melanjutkan. "Kalau lo telat, berarti gue juga telat." Elara terdiam beberapa detik. "Loh..." Keanu menatap jam tangannya. "Tuh, sekarang benar-benar telat." "Ya gara-gara lo!" "Oke gue geser." Keanu menyalakan mesin lalu memajukan mobil beberapa meter. Akses pagar akhirnya terbuka. Elara mendecak. "Harusnya dari tadi!" Keanu kembali menurunkan kaca. "Udah selesai marahnya?" "Belum." "Masih ada?" tanya Keanu lagi. "Banyak." "Simpan buat nanti," ujar Keanu. Elara mengernyit. "Nanti?" "Iya." "Kenapa?" "Soalnya kita ketemu lagi di rumah sakit." Elara mendengus. "Sial." Keanu menatapnya beberapa detik. "Lagipula..." "Apa lagi?" "Dimanapun lo berada. Gue bakal beli rumah di sebelahnya." "Buat apa?" "Biar tetap bisa gangguin lo setiap hari." Elara membeku. "Apa?" Keanu hanya menatapnya sesaat. Tatapan itu terlalu tenang, terlalu sulit dibaca. Detik berikutnya, pria itu kembali mengenakan kacamata hitamnya. "Tafsirin sendiri." "Kea—" Belum sempat Elara menyelesaikan ucapannya, kaca mobil sudah tertutup. Mazda hitam itu melaju meninggalkan kompleks. Elara berdiri mematung beberapa saat. Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat, sesuatu yang sama sekali tidak bisa dijelaskan secara medis. "Sinting," gumamnya pelan. Lalu sedetik kemudian ia kembali menggerutu. "Setan lo, Keanu!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN