Bab 2. ego

707 Kata
Suasana Rumah Sakit Medika Utama pagi itu langsung sibuk sejak pukul tujuh. Elara melangkah membelah koridor dengan langkah lebar, jas putih dokternya berkibar di belakang tubuhnya. Beberapa perawat dan dokter residen yang berpapasan dengannya langsung membungkuk hormat, "Selamat pagi, Dokter Elara." Elara hanya mengangguk singkat dengan senyum tipis. Mood-nya sudah rusak sejak di rumah tadi. Begitu sampai di meja perawat (nurse station) poli bedah, dia langsung menyambar berkas-berkas pasien yang harus divisit hari ini. "Dokter Elara, pagi-pagi udah mendung aja mukanya," goda Dokter siska, spesialis anak yang kebetulan sedang membuat kopi di dekat sana. "Biasa, Sis. Ketemu hama kompleks tadi pagi," jawab Elara ketus sambil membolak-balik kertas status pasien. Siska tertawa kecil. Sebagai sahabat Elara sejak kuliah, dia sudah tahu betul siapa yang dimaksud hama oleh dokter bedah andalan mereka ini. "Siapa lagi kalau bukan Dokter Keanu, kan? Lagian kalian berdua tuh aneh banget tau nggak. Di luar musuhan kayak Tom and Jerry, tapi di rumah sakit malah jadi dua dokter muda paling bersinar. Tahu nggak, anak-anak residen baru kemarin pada ngegosipin kalian. Katanya kalian berdua tuh serasi banget kalau lagi jalan bareng di koridor." "Serasi mata lo, Sis!" Elara mendengus kencang. "Gue sama dia? Sampai dunia runtuh dan babi bisa terbang juga nggak bakal sudi gue disama-samain sama cowok arogan itu. Inget ya, Sis, dia itu licik. Lo lupa apa gara-gara siapa beasiswa Jerman gue pas SMA dulu bisa batal? Pasti dia yang bocorin dokumen nilai gue ke komite sekolah!" Siska hanya menghela napas. Dia tahu argumen itu tidak akan pernah selesai. Elara terlanjur menanamkan stigma bahwa Keanu adalah dalang dari semua kemalangannya. Padahal, Siska sering merasa ada yang aneh dengan cara Keanu menatap Elara dari jauh, tatapan yang sama sekali tidak mencerminkan rasa benci, melainkan sesuatu yang jauh lebih dalam dan rumit. Baru saja Elara mau melangkahkan kaki menuju bangsal rawat inap, tiba-tiba alarm tanda bahaya dari arah IGD berbunyi nyaring. Suara interkom rumah sakit langsung bergema di seluruh penjuru koridor. "Code Blue, IGD. Code Blue, IGD. Korban kecelakaan lalu lintas beruntun, membutuhkan penanganan segera." Ponsel di saku jas Elara bergetar hebat. Panggilan dari kepala IGD. Tanpa membuang waktu, insting dokter bedahnya langsung mengambil alih. Elara berlari kencang memotong koridor, melupakan semua kekesalannya pada Keanu. Fokusnya kini hanya satu, menyelamatkan nyawa. Begitu pintu kaca IGD terbuka otomatis, pemandangan di dalamnya benar-benar kacau. Suara tangisan, erangan kesakitan, dan hilir mudik perawat membuat suasana terasa sangat mencekam. Di atas salah satu brankar utama, seorang pria paruh baya terbaring dengan kondisi mengenaskan. Darah segar mengalir dari pelipisnya, baju kemejanya robek dan bersimbah darah di bagian d**a dan perut. "Dokter Elara! Ini pasien paling parah dari TKP," seru dokter residen bedah yang sedang menekan luka di perut pasien dengan kasa tebal. "Terjadi trauma tumpul di abdomen, ada tanda-tanda perdarahan internal masif, tensi menurun drastis, takikardia!" Elara langsung memakai sarung tangan steril dengan cepat. "Siapkan ruang operasi sekarang! Kita harus lakukan laparotomi eksplorasi buat stop perdarahannya!" perintahnya tegas, suaranya terdengar berwibawa tanpa ada keraguan sedikit pun. Namun, belum sempat brankar itu didorong, sesosok pria dengan langkah tenang namun cepat masuk ke dalam tirai pembatas. Keanu Veyron, sudah lengkap dengan stetoskop di leher dan senter medis di tangannya. "Tunggu," tahan Keanu, suaranya menginterupsi pergerakan tim bedah. “Apa sih, halangin jalan.” Elara kesal. Keanu langsung memeriksa pupil mata pasien dan mengetuk beberapa titik refleks dengan palu refleksnya. "Pasien mengalami penurunan kesadaran yang bukan cuma karena shock hemoragik. Liat pupilnya, anisokor. Ada tanda-tanda peningkatan tekanan intrakranial. Kemungkinan besar ada Epidural Hematoma atau perdarahan di otak karena benturan keras." Elara menatap Keanu tajam. "Dokter Keanu, pasien ini bisa mati dalam hitungan menit karena perdarahan di perutnya! Saya harus buka perutnya sekarang buat nyari sumber perdarahan!" Ya begini lah mereka, mereka selalu formal dan saling menghargai di rumah sakit, padahal diluar jika hanya ada mereka berdua, mereka saling serang. "Dan, kalau kamu langsung biarin dia dibius total tanpa penanganan saraf di kepala, tekanan di otaknya bakal bikin dia mati di meja operasi sebelum kamu sempat megang pisau bedah, Dokter Elara!" balas Keanu, suaranya meninggi, menatap Elara dengan mata elangnya yang menusuk. Suasana di sekitar brankar mendadak senyap. Para perawat dan residen menahan napas, menyaksikan dua dokter spesialis terbaik mereka saling berhadapan dengan ego masing-masing di tengah situasi hidup dan mati seorang pasien.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN