Gianna terbangun dengan jantung berdegup kencang ketika suara ketukan lembut terdengar dari pintu. Semalaman ia tertidur di kursi, tubuhnya meringkuk dalam posisi tidak nyaman. Bayangan ketakutan tentang kemungkinan Jason tiba-tiba masuk ke kamarnya membuatnya sulit memejamkan mata, namun kelelahan akhirnya menumbangkannya. “Signora, waktunya untuk sarapan,” suara Matilda terdengar dari balik pintu, hangat namun tetap formal. Gianna membuka mata perlahan, masih linglung. Saat melihat cahaya matahari menerobos tirai, ia terlonjak. “Astaga! Ini sudah pagi?” pekiknya, panik, lalu dengan cepat bangkit dari sofa. Rasa pegal menusuk seluruh tubuhnya, tapi ia abaikan. Ia buru-buru meluruskan rambutnya dengan jari lalu membuka pintu. Matilda berdiri di sana dengan senyum tipis yang sopan. “Anda

