Tubuh Gianna membeku seketika, tatapannya terkunci pada sosok yang paling ingin dihindarinya. Sergio, dengan setelan jas yang sempurna dan segelas champagne di tangan, tampak begitu berkuasa di tengah kerumunan elite. Jantung Gianna berdebar kencang, bagai seekor burung yang ingin keluar dari sangkarnya. Dia cepat-cepat memalingkan muka, berusaha menyembunyikan kepanikannya. Dengan langkah tergesa, dia menuju ke sisi lain ruangan, menjauhi pusat perhatian. Di sana, sebuah meja panjang terpajang dengan berbagai hidangan mewah. Tumpukan tiram segar di atas es, piring-piring canapé dengan caviar, dan daging panggang yang dipotong tipis tersusun rapi. Berbagai botol wine dan champagne berjejak dalam ember berisi es, sementara bartender dengan cekatan menyiapkan koktail bagi para tamu. Gian

