“Nyonya? Anda sudah bangun?” suara Matilda terdengar dari balik pintu, suara lembut yang biasanya menenangkan, tapi sekarang malah membuat Gianna makin panik. Ia meremang, menatap bercak merah di lehernya sekali lagi. “Ya Tuhan… apa yang sebenarnya terjadi semalam…?” gumamnya ketakutan, belum berani menjawab panggilan Matilda. “Ya, Matilda… aku akan ke ruang makan setelah ini. Terima kasih sudah memberitahuku,” ucap Gianna gugup, berusaha keras menstabilkan suaranya meski jantungnya masih berdebar tak karuan. “Baik, Signora. Sebaiknya segera dimakan selagi masih hangat,” tambah Matilda sopan dari balik pintu. “Ya, Matilda,” balas Gianna cepat, hampir seperti terburu-buru ingin mengakhiri percakapan. Begitu suara langkah Matilda menjauh, Gianna menutup pintu perlahan dan bersandar pad

