Pagi itu, kesadaran kembali kepada Gianna secara perlahan. Dia menggeliat di balik selimut yang lembut, merasakan kehangatan yang tidak biasa dan sebuah bantal yang besar. Kepalanya yang semalam berat, kini terasa ringan, tapi sebuah keanehan menggantung di udara. Dia membuka mata, dan seketika itu pula, jantungnya seakan berhenti berdetak. Langit-langit yang tinggi dan bergaya klasik bukanlah langit-langit kamarnya. Perabotan yang gelap dan maskulin di sekelilingnya sama sekali asing. Ini adalah kamar Jason. "APA?" pekiknya dalam hati, tubuhnya membeku. “Kenapa aku ada di sini?” Dengan gerakan gemetar, dia menatap ke bawah. Selimut sutra yang mewah hanya menutupi tubuhnya hingga da-da. Dan di sana, di kulitnya yang pucat, terpampang jelas jejak-jejak merah, seperti memar dan bekas ciu

