BAB 4 - Bayangan Om

1084 Kata
Sepanjang jalan Tanisha bertanya-tanya, syarat yang akan Sabda minta. Sampai-sampai dia hampir saja menabrak trotoar karena tidak fokus. "Sialan, gara-gara si perjaka tua itu. Otak gua jadi ngelag!" kesal Tanisha yang membenarkan motornya, dan segera menuju rumahnya. Sesampainya di rumah Tanisha segera masuk ke dalam rumah, ia mendapati ayahnya Farid sedang menonton tv. Farid menoleh ke arah anaknya yang masuk dengan jaket Hoodie berwarna hitam. "Itu jaket siapa?" tanya Farid. Tanisha mencuatkan bibirnya ke depan, ia menghentakkan kakinya menuju tempat duduk ayahnya. "Papa, kok gak bilang kalau itu om Sabda!" gerutunya sambil memaki-maki ayahnya. Farid tampak memundurkan kepalanya sedikit. "Lah, kamu gak tanya. Lagian kan itu alamat rumah om Sabda. Emang kamu kira siapa?" tanya Farid. Tanisha langsung mengacak-ngacak rambutnya frustasi. "Aku kira itu bukan om Sabda, kenapa papa gak bilang kalau om Sabda udah berubah!" ucapnya dengan frustasi. Tatapan Farid begitu heran melihat anaknya yang seperti itu. "Kamu kenapa sih? Perasaan om Sabda gak berubah dia tetap gitu-gitu aja!" ucap Farid. "Gitu-gitu aja mata papah, penampilan om Sabda udah beda banget. Dia berubah lebih hot," ungkapnya. Mata Farid auto berkedip saat anaknya bilang kalau Sabda sekarang hot. "Apa hot?" tanya Farid memastikan kalau kupingnya tidak salah dengar. "Iya hot, om Sabda sekarang lebih kaya ke sugar Daddy," ungkap Tanisha dengan memperlihatkan kalau dia sedang membayangkan Sabda. "Astaga Icha, nyebut-nyebut! Om Sabda itu bukan seumuran kamu! Dia gak akan suka cewe ingusan kaya kamu Cha!" ujar sang ayah. Tanisha mendelikkan matanya kesal, "Aku udah gak ingusan ya pah. Anak papah ini udah siap di buahi!" cibir Tanisha. Farid yang mendengarnya langsung memegang dadanya. Ia terkejut dengan jawaban Tanisha yang tanpa cap MUI. "Astaga kamu anak siapa sih? Ngomong kaya yang udah legal aja!" balas Farid menggelengkan kepalanya. Tanisha berdecak kesal, ia pun melangkahkan kakinya ke lantai dua. "Eh Cha, itu kamu pake baju siapa?" "Pake baju om Sabda ganteng!" teriak Tanisha. Tanisha membuka handle pintu kamarnya, langkah kakinya langsung tertuju pada tempat tidur single bed-nya. Tanisha langsung menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur miliknya. Tatapannya tertuju pada langit-langit kamar yang sengaja di cat biru muda dengan hiasan awan. Ia menghelakan napasnya pelan. Wajah Sabda terngiang-ngiang dalam pikirannya. Apa lagi saat Sabda memeluk tubuhnya, wangi parfumnya sampai saat ini masih berasa. Serta lekukan tubuhnya, ototnya yang kekar, itu semua membuat Tanisha frustasi. "Akh... Gua kok sampe kaya gini sih!" rengek Tanisha sambil menggerak-gerakkan tubuhnya. "Bisa-bisanya gua jelek-jelekin dia, di depan mukanya! Terus gua malah ngegoda dia! Akh sial! Berasa kagak ada muka gua kalau ketemu sama itu om-om!" sambungnya yang terus mengoceh. Tanpa sadar Tanisha belum membuka jaket Hoodie milik Sabda. Ia menatap jaket yang masih melekat di tubuhnya. Ingat sekali bagaimana Sabda memberikan jaketnya pada Tanisha. Senyum tipisnya muncul dari ke dua sudut bibirnya. Pipinya memerah mengingat adegan saat Sabda memakaikan jaket tersebut, ternyata pria matang itu act of service sekali. Lagi-lagi Tanisha tertawa pelan, senang sekali rasanya jika menjadi istrinya, pasti selalu di ratukan. "Astaga Cha inget umur kalian beda jauh!" gumamya. "Eh tapi gak masalah namanya juga jodoh siapa yang tahu!" sambungannya sambil perlahan memejamkan matanya dengan memakai jaket Sabda. --- "Hoam..." Matahari sudah masuk melalui celah-celah jendela menyinari kamar Tanisha. Ia meregangkan otot-ototnya, bangun dari tempat tidurnya dengan rambut dan wajah yang tidak berbentuk. Tanpa cuci muka atau merapihkan rambutnya, Tanisha turun ke lantai dasar dengan masih memakai jaket Sabda. Berjalan dengan setengah sadarnya, dan menguap. Tanisha berjalan menuju ruang makan dengan mata setengah melihat. Duduk di meja makan sambil menggaruk-garuk kepalanya, Tanisha mengusap matanya untuk mengembalikan penglihatannya yang masih buram. Sebelah tangannya mengambil gelas dan menuangkannya ke dalam gelas tersebut. Saat ia meneguk air minumnya, matanya sudah mulai sadar. Keningnya mengernyit saat di depannya melihat sosok pria yang ia kenal. "Hai... Pagi..." sapa Sabda. Byurr! Tanisha memuncratkan air di dalam mulutnya keluar, dan nahasnya air itu menyembur pada ayahnya. "O-om Sabda..." Sabda terkejut saat melihat Farid yang kini basah karena ulah anaknya. "I-iya..." jawabnya sambil menatap Farid dan Tanisha saling bergantian. "ICHA!!" teriak Farid menggema. Tanisha langsung menoleh ke arah ayahnya, ia segera menutup mulutnya dengan ke dua tangannya. "Astaga... Papah ngapain di situ sih? Jadinya kan kena papah!" ujarnya membela. Farid menarik napasnya dalam-dalam lalu ia keluarkan secara perlahan. Matanya menatap ke arah Tanisha yang tampak tidak berdosa. "Kamu! Dari waktu kecil sampe kamu segede ini. Tempat duduk papah itu di sini, kalau kamu lupa!" cibirnya dengan intonasi penuh penekanan. Tanisha yang melihat ayahnya naik tensi, sepertinya ia harus mengeluarkan jurus, seribu langkah. "Maafkan aku pah..." Tanisha langsung lari ke kamarnya kembali menghindar kemarahan ayahnya. "Rid, gak apa-apa?" --- "Lu kenapa sih Cha?" tanya Linda. Melihat temannya itu tidak bersemangat, sejak tadi. Biasanya Tanisha akan selalu semangat kuliah kalau pelajaran ekonomi bisnis karena dosennya duda. "Gua lemes aja, Lin," jawab Tanisha. "Lemes kenapa? Lu kurang asupan duda? Atau gimana?" Tanisha berdecak kesal, "Bukan itu yaelah, gua nemu perjaka tua ori," ungkapnya. Linda mengernyitkan keningnya, "Emangnya ada perjaka KW?" Tanisha memutar bola matanya, "Ya adalah, contohnya cowo yang kemarin deketin lu. Bilangnya ke lu belum kiwin eh ternyata suami orang anak tiga," oceh Tanisha. Linda berdecak kesal, bisa-bisanya dia tertipu dengan pria yang ngaku bujang ternyata beristri. "Berisik lu, dari pada lu! Godain duda sana sini kagak ada yang nyantol-nyantol, sekali ada yang nyantol eh mokondo!" balas Linda tertawa. "Sialan lu Linda! Sekarang gua gak akan jatuh ke lubang yang sama!" Linda mengernyitkan keningnya menatap Tanisha seolah sudah menemukan jodohnya. "Hah? Lu udah nemu cowo?" Tanisha mengangguk mantap, menjawab pertanyaan Linda. "Iya gua udah nemu cowo matang, gagah perkasa dan dia masih bujang!" ungkapnya. "Siapa?" "Om Sabda!" --- Uhuk... Uhuk... "Pelan-pelan lu kalau minum," ucap Farid yang kini sedang bersama Sabda di sebuah cafe. Sabda menepuk-nepuk dadanya, entah kenapa dia tersedak saat teringat Tanisha. "Kok tiba-tiba kesedak ya!" "Biasanya ada yang ngomongin!" balas Farid. Sabda menaikkan sebelah alisnya, "Masa tahu dari mana lu kalau gua ada yang ngomongin?" "Itu lu tadi pas kesedak ingat siapa? Biasa orang itu yang ngomongin lu!" jelas Farid. "Emang lu inget siapa sih tadi?" "Anak lu!" batin Sabda, tidak mungkin juga kan Sabda memberi tahu pada Farid. "Gua kagak inget siapa-siapa kok," jawabnya. "Berarti orang itu yang lagi inget ke elu!" timpal Farid. Sabda membeku, di dalam pikirannya, 'Ngapain juga itu bocah inget sama gua?'. Begitu mudahnya perjaka tua itu percaya ucapan Farid. "Lu kata siapa?" tanya Sabda. "Kata orang jaman dulu sih, ya gak tau juga berlaku apa kagak buat kita di jaman sekarang!" Kekehnya. "Rese lu!" Farid menatap curiga ke arah Sabda. "Lu lagi mikirin seseorang ya? Siapa?" Bersambung...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN