BAB 3 - Gagal Kabur

1317 Kata
"Icha kamu kenapa?" tanya Sabda menghampirinya. Tanisha langsung memegang kepalanya, "Aduh aku pusing om, kayanya harus pulang dulu," ucapnya sambil memasang wajah sakit. "Iya kah? Minum obat dulu, biar saya ambilkan," tawar Sabda. "Ah gak usah om, aku mau pulang aja," tolak Tanisha membuat Sabda mengernyitkan keningnya. "Kenapa buru-buru? Bukannya kamu mau ketemu dengan om Sabda," paparnya sambil menaikkan sebelah alisnya. Tanisha menelan ludahnya kasar, seolah tahu kalau Sabda sengaja berbicara seperti itu. "Gak apa-apa om, titip aja nanti sampaikan saja ke om Sabda ini berkas dari papa," ucapnya sambil memberikan berkas. "Tunggu saja dulu Icha, langit udah mendung. Nanti kamu kehujanan." Tanisha langsung menggelengkan kepalanya. "Mumpung belum hujan om, saya permisi," pamit Tanisha. Belum sempat melangkahkan kakinya keluar, Sabda memegang tangan Tanisha. "Tunggu." Tubuh Tanisha terasa kaku, saat tangan kekar Sabda memegang lengannya. "Bukannya kita mau belajar dulu?" Mata Tanisha terbelalak mendengar ucapan Sabda, 'Belajar? Belajar apa?' "Maksud om? Emang mau belajar apa?" tanyanya heran. Sabda menggaruk pelipisnya yang tidak gatal, ada rasa malu sebenarnya. Sabda menatap ke arah Tanisha, bisa-bisanya gadis kecil ini pura-pura lupa apa yang tadi mereka lakukan. Padahal adik kecil Sabda hampir saja terbangun karena ulahnya "Ck, dasar bocah. Kalau kamu bukan teman anak saya, selesailah," ujarnya ambigu. Tanisha bukannya tidak paham, tapi lebih tepatnya pura-pura tidak paham, untuk menyelamatkan dirinya dari rasa malu. "Kalau gitu Icha permisi om," pamitnya yang langsung melangkahkan kakinya. Namun terlambat, hujan datang begitu deras dan petir berbunyi begitu keras. DUAR! "Aaa..." Tanisha langsung menutup telinganya, saat mendengar suara petir tersebut. Tubuhnya terlihat gemetar, saat melihat kilatan dari langit-langit dan suara gemuruh yang memuncak. DUAR! "Aaa..." Lagi, suara petir itu menggelegar di langit. Siapapun yang mendengarnya pasti akan sangat terkejut. Kini tanpa sadar Tanisha langsung memeluk tubuh kekar Sabda. Sabda yang mendapat serangan itu, terkejut dan keseimbangan tubuhnya hampir saja goyah. "Cha... Kamu gak apa-apa?" tanyanya cemas. "Takut! Aku takut petir om!" gumamnya yang menyembunyikan wajahnya di balik d**a Sanda. Sebelah tangan Sabda pun memeluk tubuh mungil Tanisha. "Gak akan apa-apa, ada saya," ujarnya sambil menepuk-nepuk pundak Tanisha. Angin sangat kencang hingga air hujan bisa masuk ke dalam rumah. Sabda langsung melindungi tubuh Tanisha dari cipratan hujan. "Bentar om tutup dulu pintunya." Segera Sabda menutup pintunya. Angin dan air hujan pun tidak bisa masuk lagi. "Udah aman, sini duduk," ajak Sabda yang memegang lengan Tanisha yang masih tampak syok dengan suara petir tadi. "Duduk sini ya, om ambilkan air." Tanisha hanya diam sambil menundukkan kepalanya. Tidak lama Sabda datang dengan segelas air di tangannya. "Ini minum dulu." Tanisha langsung mengambil gelas yang ada di tangan Sabda dan meminumnya. "Pelan-pelan minumnya," peringat Sabda. Setelah meminum segelas air, ponsel Sabda berbunyi tampak nama Farid tertera di layar ponselnya. "Papa kamu nelpon!" Sabda segera menggeser tombol hijaunya. "Halo." "Hmm ya dia ada di sini. Cuman di luar hujan besar ." "Ok, biar dia di sini dulu. Berkas nanti aku lihat." Sabda langsung menutup ponselnya, ia menatap ke arah Tanisha yang sedang menatapnya. "Papa kamu nelpon, suruh kamu di sini dulu sampai hujan reda," ungkapnya. Tanisha tidak bersuara, ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Entah kenapa nyalinya kini menjadi ciut setelah menjelek-jelekkan Sabda di depan orangnya sendiri. "Saya abis beli makanan, ayo kita makan dulu. Lagi pula ini banyak," ucapnya pada paper bag yang ada di atas meja. "Gak usah om, aku gak laper kok," ucapnya. Krukk... Sial! Di saat seperti ini perutnya malah tidak berpihak pada dirinya. Tanisha memejamkan mata menahan malu, berharap kalau Sabda tidak mendengarnya. Tapi sayang, Sabda mendengar suara memalukan itu. "Gak laper tapi perutnya bunyi, dah ayo makan. Jangan malu-malu, perut kamu udah cukup malu-maluin kamu!" paparnya yang beranjak dari tempat duduknya. Tanisha benar-benar merutuki dirinya, "Sialan lu perut!" gerutunya sambil mencubit sedikit perutnya. Lupa kalau itu perutnya sendiri, rasa sakit yang dari cubitannya itu, tetap Tanisha yang rasakan. "Awh!" Sabda langsung menoleh. "Kenapa?" "Gak apa-apa om," balas Tanisha sambil menggaruk pelipisnya yang tidak gatal. Mereka berjalan menuju meja makan, Sabda mengambil beberapa piring dan ia letakkan dia atas meja makan. Sabda mengeluarkan bungkus makanan yang ada di dalam paperbag. Membukanya mata Tanisha sedikit membulat saat melihat menu makanan yang Sabda hidangkan—ikan bakar. Pas sekali rasanya, di luar yang hujan deras. Kita makan ikan bakar yang masih hangat. Perut Tanisha semakin meronta-ronta ingin di manjakan. Air liurnya, ia tahan agar tidak menetes. "Kamu suka ikan bakar?" "Suka om suka," jawabnya antusias. Senyum tipis dari sudut bibir tebal Sabda. "Syukurlah kalau gitu makan yang banyak, jangan sungkan kalau mau nambah. Nasi tersedia banyak," tunjuknya pada mejikom yang terisi penuh. Kali ini Tanisha tidak bisa jual mahal, di dalam otaknya yang penting perutnya kali ini terisi. "Makasih om, Icha makan..." Sabda hanya mengangguk pelan, mereka berdua pun melahap makanannya bersama. Tidak ada kata jaim saat Tanisha makan, ia makan dengan lahap, dan nambah untuk ke dua kalinya. Sudut bibir Sabda tertarik membentuk senyuman tipis, melihat Tanisha yang begitu sangat lahap makannya. Ia menyodorkan piring yang berisi satu ikan bakar pada Tanisha. "Habisin!" titah Sabda. Mata Tanisha mengerjap, "Loh kok semuanya Icha makan? Om gak?" "Saya udah kenyang, suka hot chocolate?" tawar Sabda. Tentu saja jawaban Tanisha iya, kepalanya segera mengangguk cepat. "Suka banget..." "Ok, bentar saya buatkan." Sabda beranjak dari tempat duduknya, bersiap untuk membuat hot chocolate hanya untuk mereka berdua. Dengan santainya Tanisha menghabiskan ikan bakar yang ada di atas piring. Hingga Sabda kembali dengan dua gelas hot chocolate. "Nih..." ucapnya, sambil memberikan hot chocolate. Tanisha mengerjap, mencium aromanya saja sudah membuat Tanisha segera ingin meminumnya. Tangan Tanisha langsung mengambil hot chocolate itu dan meminumnya. "Cha ma—" "Awh panas!" Dan tidak sengaja Tanisha menumbuhkan hot chocolate tersebut hingga terkena pahanya. "Awh sakit..." keluh Tanisha yang ceroboh, dan akhirnya membuat kulitnya terlihat sangat merah. "Astaga Cha, kenapa gak hati-hati?" Sabda segera mengambil tisu dan mengelap hot chocolate yang tumpah ke paha Tanisha. "Gak apa-apa om, biar Icha saja," ucapnya. "Sudah diam saja kamu!" cibir Sabda, melihat pahanya yang tampak merah, Sabda menelan salivanya kasar. Kulit putih Tanisha yang terpampang di matanya, membuat pikiran Sabda kembali kotor. Sabda menggelengkan kepalanya pelan, menjernihkan pikiran kotornya. Ini baru pahanya saja, apa lagi kalau yang lain? "Om kenapa?" "Gak apa-apa, bentar om ambilkan salep dulu ya..." Sabda segera mengambil kotak obat untuk mengobati luka bakar Tanisha. "Ini kamu bisa pakai sendiri?" tanya Sabda. Tanisha melengkungkan bibirnya ke bawah. "Gak bisa om, tanya Icha kotor, belum cuci tangan." Sabda pun menghela napasnya kasar, dengan degup jantung yang tidak karuan. Sabda mulai meng-oles area yang terkela hot chocolate. Dengan sekuat tenaga pula dia menahan nafsunya. Sesekali Tanisha merintis kesakitan, namun di pendengaran Sabda, itu berupa rintihan yang merdu. Astaga otak Sabda benar-benar. "Udah..." kata Sabda yang sesegera mungkin meng-olesnya. "Makasih om," balas Tanisha. "Baju kamu juga kotor, mau ganti pakai baju saya?" tawar Sabda. "Gak usah om," tolak Tanisha. Matanya menatap ke arah jendela yang terpampang cukup besar. Ia melihat hujan sudah berhenti. "Om hujan udah berhenti, Icha beresin dulu ini terus pulang," papar Tanisha. "Gak usah biar nanti saya bereskan, kamu pulang aja. Jangan lupa cuci tangan dulu," titah Sabda. Merasa tidak enak, Tanisha tetap membereskan meja makan. "Gak apa-apa kok om, biar Icha bantu. Lagian Icha udah numpang makan di sini." Icha segera merapikan meja makan Sabda dengan membereskan piringnya. "Ya udah simpan aja di wastafel, nanti biar om yang cuci. Mumpung hujan reda, takutnya nanti hujan lagi," ucapnya. "Iya om." Tanisha langsung segera membereskan piring tersebut. Setelah semuanya beres Tanisha ijin pulang. "Om Icha pamit pulang dulu, sekali lagi makasih dan..." ucapan Tanisha terhenti, ia menggigit bibir bawahnya ragu. "Dan apa?" tanya Sabda. "Maaf, aku gak tau. Kalau om itu om Sabda!" ucap Tanisha sambil meletakan ke dua tangannya di depan d**a seolah memohon. Sabda menaikkan sebelah alisnya, ia membasahi bibir bawahnya melihat tingkah Tanisha yang menggemaskan. "Akan om maafkan, tapi ada syaratnya!" ucap Sabda dengan tatapan licik dan juga jahilnya, kapan lagi bisa menjahili anak sahabatnya. "Sya-syarat?" "Iya." "Syarat apa om?" Bersambung...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN