Terdengar gemuruh langit yang mulai menggelap. Beberapa pengendara jalan sudah bersiap untuk meneduh, sedangkan sebagian memilih untuk melajukan kendaraannya dengan lebih kencang agar segera sampai di rumah.
Berbeda halnya dengan gadis yang berusia 20 tahun ini. Di dalam hatinya ia berharap agar hujan cepat turun, agar mendapatkan alasan untuk lebih berlama-lama lagi di rumah perjaka tua itu.
Uhuk...
Sabda tersedak tanpa alasan, saat mendengar gombalan maut dari mulut anak sahabatnya itu. Bisa-bisanya dia menggatal pada teman ayahnya sendiri.
"Aduh om ini minum dulu, gak apa-apa bekas Icha juga. Aku gak rabies kok, udah suntik vaksin, apalagi kalau di suntik om, bergetarlah rahimku," kekehnya sambil menyodorkan botol minumnya.
Sabda hanya bisa melongo mendengar pernyataan gadis satu ini. Apa yang Farid ajarkan pada anak gadisnya ini, sampai bisa-bisanya dia berkata tentang reproduksi pada pria matang?!
"Gak usah om gak apa-apa kok," tolak Sabda halus, namun menyakiti hati mungil Tanisha.
Tanisha mencuatkan bibirnya ke depan, ia merasa tersinggung dengan penolakan Sabda. Ia pun segera melakukan dramanya.
"Hiks... Hiks... Om takut aku penyakitan ya? Om takut kena virus ya? Sekotor itu aku di mata om?" ungkapnya dengan mata sendu seolah menahan sakit habis di selingkuhi.
Mata Sabda mengerjap, tidak menyangka respon Tanisha bisa sangat lebay, dasar kaum gen-Z. "Bukan gitu Cha, cuman—"
"Cuman apa? Iya kan begitu? Om takut?" rengek Tanisha.
Tidak mau terpojok akhirnya dengan rasa frustasi Sabda langsung meneguk botol minuman Tanisha sampai habis. Membuat senyum manis Tanisha terbit bagai sinar matahari.
"Udah om minum, gak usah nangis!" ucapnya dingin.
Tanisha mengusap air mata buayanya, "Iya om, nah terbukti kan om sehat-sehat aja?" ucapnya dengan senyum lebar.
Sabda menatap sambil mengangguk pelan, tapi di dalam hatinya Sabda berucap. "Gak tau kalau nanti malam Cha!" batinnya.
Suara petir mulai terdengar menggelegar, ke duanya menoleh ke arah pintu yang terbuka lebar, membuat angin masuk dengan leluasa, menerpa wajah mereka dengan lembut.
"Sepertinya sebentar lagi akan hujan, kamu cepat pulang!" titah Sabda.
Namun apa? Tanisha menolak untuk pulang, ia menggelengkan kepalanya pelan. "Gak om, Icha belum ketemu sama om Sabda. Kan Icha harus kasih berkas ini," tunjuknya pada berkas yang di bawa oleh Tanisha.
Sabda menoleh ke berkas yang tergeletak di atas meja. "Pulanglah biar nanti om yang kasih," ujarnya.
"Gak mau om, ini kan amanah, jadi Icha mau ketemu langsung sama om Sabda. Lagian om juga masih di sini, nungguin om Sabda juga kan?" ucapnya.
Sabda mengerutkan keningnya, anak ini benar-benar. "Nanti saya telpon papa kamu, kalau berkasnya sudah ada sama saya, jadi kamu gak perlu repot-repot nungguin Sabda," ungkapnya.
"Gak apa-apa om, lagian rumah aku tuh deket kok. Pasti om Sabda bentar lagi pulang, om coba telpon om Sabda," pintanya.
Sabda mengusap wajahnya kasar. "Pulang Cha, nanti kamu kehujanan," ucap Sabda mulai frustasi.
"Nanti om, sabar dong. Btw aku belum tahu nama om ganteng ini, nama om siapa?" tanya Tanisha.
Sabda menaikkan sebelah alisnya, sepertinya inilah saatnya Sabda memberi tahu identitas pada Tanisha. "Oh iya, saya sampai lupa memperkenalkan diri, nama saya—"
"Permisi paket..." Ucapan Sabda terpotong saat ada tukang paket yang mengantar pesanannya ke depan rumah.
"Sebentar." Sabda berdiri dari tempat duduknya, ia berjalan mendekati pagar untuk mengambil paketannya.
"Apa itu om?" tanya Tanisha penasaran, sebenernya bukan penasaran juga sih, hanya saja mencari topik pembicaraan antara mereka.
"Kamu gak perlu tahu!" jawabnya sambil meletakan paket di atas meja ruang tengah.
Saat tubuh Sabda berbalik, ia terkejut melihat Tanisha yang sudah berada di dekatnya. "Astaga! Icha!" ucapnya sambil memegang dadanya dan mundur satu langkah.
Tanisha memasang wajah full senyum, lalu matanya mengitari rumah Sabda yang bernuansa industrial minimalis.
"Rumahnya keren, siapa ya yang desain?" gumamnya sambil terus mengitari.
"Sabda!" jawabnya.
Ingin rasanya Sabda membawa keluar dari rumahnya, dan segera memulangkan Tanisha pada ayahnya. "Wah? Om Sabda? Gak nyangka dia bisa, padahal terlihat dari penampilannya, kalau om Sabda itu kolot banget, jauh dari om," paparnya.
"Oh ya?" balas Sabda sambil melipatkan ke dua tangannya di depan d**a.
"Iya tahu om, apalagi kalau udah pake kacamata bulatnya, terus rambut golfnya yang klimis, kemejanya yang selalu di kancing sampai leher, pokonya gak banget deh!" cibir Tanisha dengan mulutnya yang julid.
Sabda menghela napasnya kasar, ingin sekali rasanya menyumpal mulut Tanisha dengan kaos kaki. Dan memperlihatkan dirinya yang sekarang.
"Nahas banget ya Sabda itu, udah kolot hidup lagi," timpal Sabda, ingin tahu reaksi Tanisha selanjutnya.
"Iya, sebenarnya kasian banget om Sabda. Makanya dia gak laku-laku, coba aja penampilannya kaya om gini, aku aja pasti daftar paling depan," goda Tanisha sambil tertawa pelan.
"Dan om, yang langsung coret nama kamu di daftar calon istri om!" jawabnya tegas.
Tanisha mengerjap, ia tampak akan protes pada Sabda. "Loh kok gitu? Emang aku kurang apa om? Lihat baik-baik, badan aku montok om, depan belakang ok, gaya apapun bisa. Khusus om, Icha kasih harga special deh!" ujarnya sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Kamu belum di kasih uang jajan sama papa kamu? Sampe harus flash sale gitu?" katanya.
"Gak gitu juga sih om, kan tradisi akhir bulan. Diskon besar-besaran!" kekehnya.
"Boleh di coba dulu?" tanya Sabda asal celetuk.
"Boleh, boleh banget. Mau coba gaya apa? Kecebong tenggelam? Icha bisa semuanya," balas Icha dengan bangga.
Sabda yang hanya pria matang pada umumnya, tentu saja merasa tergoda mendengar ada gadis yang menggoda dirinya. Di tambah Tanisha seolah pasrah, dan wajahnya jangan tanya dia memang cantik paripurna, di tambah baju yang dia kenakan sekarang cukup menggoda bagi kaum adam.
"Iyakah? Kamu berpengalaman?" tanya Sabda yang berjalan sambil mendekat.
Tanisha yang awalnya pede, dan terus menggoda. Seketika sedikit panik saat melihat Sabda yang mendekat padanya.
"Waduh nih si ganteng apa bener mau nyicip gitu ya?" batin Tanisha.
"I-iya om..." jawabnya gugup.
Salah Tanisha sudah membangunkan singa yang bertahun-tahun tidur. "Kalau gitu kamu mau mulai dari mana hmm?" tanya Sabda dengan tatapan tajam namun nakal.
Terlihat mata Tanisha melihat ke kanan dan ke kiri, wajahnya tampak sekali gugup. "Euh, anu kita mulai dari anu..." ucapnya bingung.
Sebenarnya Tanisha belum pernah melakukan apa-apa, untuk hanya sekedar ciuman saja. Tanisha pernah melakukannya hanya sekali, itu juga hanya sekali kecup, karena bibir cowoknya itu bau mulut.
"Anu? Kamu suka langsung main intinya? Tanpa foreplay?" tanya Sabda yang sudah mengukung Tanisha.
Tentu saja Tanisha kebingungan, hah foreplay? Tanisha tertegun detik itu juga. "Gak gitu juga om, giman ya?" ucapnya gelapan.
"Kenapa kamu jadi gugup gitu hmm? Bukannya sudah pengalaman?" bisiknya tepat di telinga.
Tanisha meneguk salivanya kasar, jantungnya seolah berpindah ke mata kaki. "Itu anu om, eumh..."
"Anu apa cantik?" ujarnya.
Saat Sabda mulai mendekatkan wajahnya tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu. Membuat Sabda menghentikan aksinya.
"Om ada yang dateng, om Sabda kayanya," ucap Tanisha.
Sabda pun mendelik malas, bisa-bisanya ada yang menggangu lagi tanggung-tanggungnya. "Saya ke depan dulu!" Ucapnya.
Tanisha menghelakan napasnya lega, ia segera menghirup oksigen sebanyak-banyaknya. "Gila tuh om-om, main nyosor!" gumamnya pelan sambil mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajah.
Tanisha berjalan menuju ruang tamu, tampak Sabda sedang menerima pesanannya. "Atas nama pak Sabda?"
"Iya itu saya."
"Ini pesanannya pak."
"Terimakasih, ini tipnya."
"Wah, makasih banyak pak."
Tanisha langsung mengedipkanya matanya, menyelipkan rambutnya ke balik telinga, kalau dia tidak salah dengar.
"Apa Sabda?" gumamnya.
Tanisha langsung menoleh ke arah pintu luar. "Terima kasih pak Sabda," ucap sang mamang gofood.
Tanisha langsung menutup mulutnya. "Gua salah dengerkan?" batinnya panik.
Sabda membalikan badannya, ia menatap ke arah Tanisha yang sedang menatapnya. "Kamu kenapa?"
"Om, nama om, Sabda?"
Bersambung....