“Maaf, aku terlambat,” ucap Rosie begitu dia memasuki ruangan pribadi. Dion sedang membaca berkas saat Rosie masuk. Dia mendongak dan menutup berkasnya. “Tidak masalah. Aku juga belum lama. Duduklah! Mau makan sesuatu?” “Apa saja asalkan tidak nasi,” jawab Rosie sambil meletakkan tasnya di samping. Wajahnya terlihat cerah. Pipinya bersemu merah. Matanya dipenuhi sinar kehidupan seolah dia baru bangkit dari kematian. Tidak ada yang pucat atau cekung. Semua terlihat indah. Dion mengalihkan wajahnya. “Bagaimana kalau mi? Atau kamu lebih suka makanan manis?” “Pesankan mi saja.” Dion mengangguk, lalu menuju telepon untuk memesan. Setelah itu, dia kembali duduk. “Aku tidak melihatmu di tempat Prof Suryo beberapa hari ini,” ucap Rosie penasaran. Satu alis Dion terangkat. “Kamu berharap be