Rencana demi Rencana

1149 Kata

“Ma, apa ada yang kamu perlukan?” tanya Rosie begitu pintu tertutup. Hilda yang sempat melupakan tujuannya datang, kini teringat kembali. Dengan wajah memerah, dia menunjuk Rosie dengan sengit. “Apa yang sudah kamu lakukan? Kamu membuat undangan pernikahan berwarna hitam?? Apa kamu tidak bisa memikirkan warna lain? Seharusnya pernikahan itu diberi warna putih yang indah dan anggun, melambangkan cinta yang bersih. Bukannya warna hitam jelek seperti itu!” Hilda telah melupakan bagaimana dia berpura-pura menjadi mertua idaman bagi Rosie. Rasa kesalnya sudah menumpuk. Sejak insiden di salon, sampai sekarang dia belum mengeluarkan amarahnya pada Rosie. Alan selalu menahannya. Namun, kini dia tidak bisa lagi menekan emosinya. Dia harus bisa membuat Rosie mengubah undangannya! Rosie tersenyum

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN