Rosie menatap ponselnya dengan satu sudut bibirnya terangkat saat melihat foto-foto yang dikirim ke nomornya. Itu adalah dari orang yang dia sewa untuk memata-matai Kaila dan Alan. “Bersenang-senanglah. Kalian tidak akan tahu kapan bisa berhenti,” gumamnya. Rosie menyimpan foto-foto tersebut dan juga mengirimnya ke pengacara sebagai bukti perselingkuhan. Dia memang sudah rela, tapi rasa sakit itu masih saja menyelinap. Tepat pada saat Rosie hendak menyimpan ponselnya, Mita membuka pintu perpustakaan. “Nyonya, tuan Dylan dan Nyonya Anna di sini.” Senyum Rosie merekah. Dia sudah menunggu kedatangan kakaknya sejak Anna mengetahui keadaan rumah tangganya. Kakak iparnya itu tidak akan menutup mulutnya. Dia pasti menceritakan pada Dylan apa yang terjadi waktu itu. “Aku akan menemuinya di