Rania yang masih mengatur napas segera mendongak menatap sang suami. Sesekali ia menelan ludah karena jantungnya masih berdegup kencang, merasa payah karena tidak bisa seperti suaminya yang kuat bertahan tanpa putus napas meski berbagai adegan panas telah dilakukan. Terkadang Rania sampai harus mencakar punggung suaminya itu atau menggigit d**a karena terlalu keras saat menyentuhnya hingga menimbulkan nyeri di perut. Tetapi terkadang Rania juga lupa akan kenikmatan dunia yang justru membuatnya memeluk Shaka erat-erat. Wajah Rania bersemu memerah saat ketika adegan itu muncul. Ia memposisikan dirinya dengan nyaman, bersandar pada bantal dengan tangan yang memeluk sang suami. “Ngomong apa, Mas?” Shaka melirik raut wajah penasaran itu kemudian tersenyum manis. Memiringkan tubuhnya, menya