Pagi hari Shaka dibuat terbangun saat mendengar suara seseorang yang muntah-muntah dari kamar mandi. Ia membuka matanya sedikit, melihat jendela yang masih tertutup rapat yang artinya hari masih sangat pagi. Ia melirik sampingnya dimana Rania biasanya tidur, wanita itu tidak ada di sana. Suara muntah itu kini terdengar lebih jelas, Shaka segera bangkit. Mengambil kimono miliknya lalu pergi ke kamar mandi. Terlihat Rania yang berdiri di depan wastafel seraya menunduk. “Ran.” Shaka bergerak cepat, mendekat memegang tengkuk istrinya serta merapikan rambutnya yang terurai panjang. “Mual banget, ya? Masih mau muntah?” Ia bertanya dengan nada perhatian. Raut wajah jangan ditanya, harap-harap cemas karena Rania tiba-tiba muntah. Rania menggeleng, matanya sudah berair dan terasa lemas karena se