Bab 7: Insiden Perut Keroncongan

1082 Kata
Yudha tersenyum hangat. Tatapannya semakin intens. Selama sepersekian detik Luna hanya bergeming. Masih menahan napas dengan jarak antara dirinya dengan pria itu sedekat ini. Sekaligus tak menyadari bahwa sorot mata yang terpancar dari pria itu seolah memancarkan rasa rindu dan pahit dalam bersamaan. Perlahan pria itu mendekatkan dirinya. Matanya tertuju pada bibir Luna yang terbuka sedikit. Luna diam. Menunggu. Wajah Yudha semakin mendekat. Bisa Luna rasakan bagaimana aroma khas yang bercampur dengan wangi cologne yang memancarkan wangi maskulin itu menciptakan wangi yang memabukan. Baru kali ini dia merasakan bagaimana dia sudah begitu terobsesi dengan aroma tubuh dari seorang pria. Suaminya. Kecupan itu berlangsung selama beberapa detik. Kemudian, Yudha membimbing Luna untuk menjadikan kecupan yang hanya menempelkan dua buah bibir yang menyatu menjadi sebuah ciuman yang lembut. Yudha memperlakukannya dengan hati-hati tapi gejolak asing dari dalam dirinya sudah mulai menari-nari. Ketika Luna sudah menguasai langkah itu, ia melingkari kedua tangannya ke leher Yudha. Mereka memberi jeda. Saling menatap dengan jarak yang teramat sangat dekat. Anggukan Luna sebagai jawabannya. Yudha kembali memimpin menyesuaikan ritme Luna yang masih perlu penyesuaian. Tangan pria itu merengkuhnya perlahan dan sedikit menekan pada tubuhnya. Saat Luna sudah merasakan titik kenyamanannya oleh belaian tangan Yudha yang lembut. Pria itu benar-benar memperlakukan Luna dengan baik. Menunggu Luna memberikan izin untuknya. Di dalam laci pikirannya yang lain, Luna berpikir apakah Yudha sudah cukup pengalaman untuk melakukan ini? Dia terlihat seperti seorang yang sudah berpengalaman. Ia jadi teringat ucapan ibunya kenapa Yudha mau mengikuti perjodohan dan kencan buta yang disarankan oleh kedua orang tua menikah. Yaitu, Yudha terlihat tidak punya pacar. Tapi benaknya yang lain tidak mengizinkannya untuk mengalihkan pikirannya dari tindakan yang lebih mengutamakan perasaan daripada logika. Detik berikutnya, sebuah sumber suara lain yang membuat mereka menghentikan kegiatan mereka. Keduanya sama-sama terdiam. Kecupan mereka terlepas. Menyisakan hembusan napas yang masih memburu. Mencoba mencerna keadaan. Tiba-tiba wajah Luna memerah ketika menyadari bahwa suara perutnya yang kelaparan itu bernyanyi nyaring sekali. Benar-benar tidak tahu waktu! Yudha tersenyum lebar. Dia langsung menyadari apa yang sedang terjadi. “Sepertinya perutmu protes karena kamu tidak makan dengan benar tadi.” Yudha melebarkan senyumannya. Luna menggigit bibir bawahnya merasa menyesal dan kesal karena mengacaukan segalanya. Mengacaukan malam pertamanya. Detik berikutnya, Yudha pun menggeserkan tubuhnya dan turun dari ranjang. Sementara Luna masih berbaring kaku dengan wajah yang sudah merah padam dan matanya terpejam. Saat-saat begini, hal yang paling diinginkannya adalah mengulang waktu ke beberapa jam sebelumnya dan memaksakan makan hingga kenyang agar kejadian memalukan seperti ini tak akan pernah terjadi. “Ayo, kita keluar.” Luna membuka mata lalu mendapati suaminya tengah berdiri dan mengulurkan tangannya. “Kemana?” “Buat isi perut kamu.” “Ehm, sepertinya ini sudah malam dan nggak ada restoran yang buka deh, Mas. Kita … tidur aja.” Luna berpaling. Menghindari tatapan suaminya. “Memangnya kamu bisa tidur dalam keadaan perut lapar?” “Bisa,” jawabnya cepat. Namun, lagi-lagi perutnya kembali berbunyi mematahkan perkataan Luna sebelumnya. Melihat itu, Yudha hanya menyunggingkan senyum. Sementara Luna rasanya ingin pingsan saja. Sejurus kemudian, Luna merasa tubuhnya melayang ke atas dan belum sempat ia mencerna apa yang terjadi, wanita itu sudah berada dalam dekapan suaminya yang masih menopang tubuhnya agar tidak terjatuh. “Kita nggak perlu keluar dari kamar kok. Aku tadi melihat ada mie instan cup dan beberapa snack di mini bar yang disediakan hotel.” Tangan Yudha menggandeng tangan Luna dan membimbingnya menuju kitchen yang gabung dengan ruang santai. Udara lembab namun berangin khas suasana tepi pantai itu langsung menerpa kulitnya. Apa yang dibilang oleh pria itu ternyata benar adanya. Beberapa makanan tersedia di dalam sebuah keranjang anyaman yang diletakkan di sudut meja counter kitchen. Mulai dari yang asin hingga yang manis tersedia. Bahkan ada beberapa jenis minuman juga tersedia di dalam kulkas. “Aku baru lihat,” gumam Luna pelan. “Karena restoran sudah cukup dan aku juga ragu jika pesan makan lewat room service jam segini. Kurasa kita bisa memanfaatkan makanan penyelamat ini. Bagaimana menurutmu?” “Boleh, lebih baik begitu.” “Sip. Kalau begitu, duduklah di sofa. Biar aku yang masak.” Saat Yudha sudah hendak berbalik, Luna mencegahnya. “Aku aja yang masak, Mas. Masa kamu?” “Luna, aku cuma tinggal seduh mie instan cup aja kok. Lagian aku takut kamu tidak punya tenaga karena terlalu lapar.” Mendengar itu, mata Luna terbelalak. Tak percaya bahwa saat ini ia mendengar guyonan pertama kali dari seorang Yudha? “Jangan ngeledekin aku terus dong.” Pria itu terkekeh renyah. “Sebagai gantinya, bisa kamu pilihkan film yang bisa kita tonton berdua sambil makan?” “Baiklah.” *** Hari masih gelap ketika Luna membuka mata. Ia ingat semalam mereka berdua memakan mie instan cup sebagai pertolongan pertama pada perutnya yang kelaparan sambil menonton film box office diselingi mengobrol hingga tak sadar bahwa keduanya terlelap di atas sofa. Pada menjelang subuh, udara berubah menjadi sedikit lebih sejuk walaupun masih sedikit lembab. Luna menoleh dan mendapati Yudha yang terlelap dengan sedikit meringkuk karena terpaan angin yang langsung menerpa tubuhnya. Luna pun perlahan bangkit untuk mengambil selimut dari kamar. Namun, pergerakan kecilnya itu ternyata masih mampu membuat Yudha menggeliat. Tubuhnya pun mematung selama sesaat. Wanita itu menoleh dan mendapati Yudha merubah posisi tidur ke arahnya yang lantas membuat Luna langsung melupakan niat awalnya. Luna menggeser tubuhnya agar bisa mengagumi wajah suaminya dengan lebih leluasa. Perlahan, tangannya menyentuh helaian rambut yang menempel pada dahinya kemudian menyisirnya dengan perlahan. Tiba-tiba saja, Luna ingin mencoba sesuatu. Ia memajukan wajahnya ke arah Yudha dan membiarkan hati ini yang memimpin. Mencoba untuk tidak menghiraukan otaknya yang berkata sebaliknya. Perlahan, bibirnya menyentuh lembut bibir Yudha yang tertutup rapat. Hanya kecupan ringan. Itu yang Luna inginkan. Tapi saat Luna ingin melepasnya. Mata Yudha seketika membuka, tangannya menahan Luna agar tidak bisa menjauh. Selama sepersekian detik mereka bertatapan dari jarak sedekat ini dan bibir yang masih bertemu satu sama lain tanpa melakukan apa-apa. Pria itu memutuskan untuk membalas kecupan yang tadinya hanya bersifat sebelah pihak. Luna cukup terkejut dengan respon dari Yudha namun ia hanya diam mengikuti permainannya. “Apa kamu ingin melanjutkan yang sempat tertunda?” tanya Yudha di sela-sela mencuri nafas dan mengatur ritmenya. Luna mengerjapkan matanya. Apa yang harus kukatakan? Luna sebenarnya ingin langsung mengatakan iya, tapi ia terlalu malu untuk mengakui itu. Mereka terdiam selama beberapa detik. Yudha rupanya menunggu jawaban. Sebagai gantinya, Luna menjawab dengan anggukan kecil. Dengan perlahan, Yudha mengangkat tubuh Luna dan membawanya masuk ke dalam kamar, menutup pintu dengan rapat dan memulai kembali yang sempat tertunda. Kali ini mereka benar-benar melakukannya. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN