Bab 8: Yang Tertunda

1378 Kata
Ketika Luna membuka mata esok harinya, matahari sudah bersinar terang dari celah tirai dan ia tak melihat Yudha berada di sampingnya. Sekelebat ingatan mulai memenuhi benaknya. Pada dini hari ketika ia terbangun, entah ada keberanian dari mana yang membuatnya mengecup bibir suaminya yang tengah terlelap yang mengakibatkan mereka melanjutkan yang sempat tertunda. Detik berikutnya Luna menggulingkan badannya ke samping hingga menelungkup. “Apa yang kau lakukan!” Luna memekik pelan dari dalam bantal. “Menciumnya lebih dulu?! Luna membenamkan wajahnya ke bantal. Tubuhnya menggeliat dari balik selimut yang kini membungkusnya seperti kepompong. Rasa malu sudah menjalar sampai ke wajahnya yang kini sudah merah padam. “Apa aku masih punya muka untuk bertemu dengannya saat ini?” Luna mendongak dan terengah karena kehabisan napas. Kemudian ia menggeleng keras. “No. No. Kita ini kan udah suami istri. Wajar dong melakukan itu?” Detik berikutnya Luna kembali menggeleng keras dan membenamkan kembali wajahnya ke bantal. Tak menyukai gagasan yang saling tumpang tindih. Kemudian terdengar pintu kamar diketuk dari luar yang sontak saja membuat Luna terdiam dan menahan napas. “Luna?” Suara Yudha terdengar. “Sudah bangun?” Bukannya menjawab, Luna malah menggigit bibir bawahnya. Kembali bergumul dengan benaknya. “Apa aku harus pura-pura tidur saja?” Luna mengerjap. “Nggak mungkin! Ini saja sudah siang.” “Aku masuk ya?” Yudha bersuara lagi. Kali ini diikuti dengan knop pintu berputar. Pria itu tidak langsung melangkah masuk, melainkan kepalanya yang menyembul dari sisi pintu yang terbuka sedikit dan detik berikutnya Yudha memanggil namanya lagi. “I-ya, Mas?” jawabnya dengan suara yang tercekat dan bangkit membetulkan posisinya untuk menghadap Yudha yang masih mengintip dari balik pintu. “Ternyata baru bangun.” Yudha tersenyum tipis. “Aku hanya mau mengecek apakah kamu sudah bangun atau belum karena mungkin kita akan ketinggalan sesi breakfast.” Luna sontak menoleh ke arah jam yang terpasang di dinding. “Benar, sudah terlalu siang untuk sarapan.” “Bersiaplah. Aku buatkan sarapan.” “Eh? Aku saja, Mas.” Luna mengerjap dan sedikit gelagapan. Ingin rasanya ia langsung bangkit jika tidak segera sadar bahwa ia masih belum berbusana dengan baik. Pada akhirnya ia hanya bisa terduduk pasrah dengan selimut yang membalut tubuhnya. “Nggak usah, take your time. Aku tunggu di depan ya.” Tanpa menunggu jawaban dari Luna, pria itu berbalik dan menutup pintu kamar dengan rapat. Meninggalkan Luna yang tampak masih memproses. Beberapa menit kemudian, wanita itu akhirnya keluar kamar mengenakan setelan baju putih gading berbahan satin dan rambut yang digelung rapi ke belakang. Semilir angin laut dan suara ombak menyambut kehadirannya. Terlihat Yudha tampak berdiri membelakanginya dengan tangan kanan menggenggam secangkir kopi hitam. Matanya tampak memandang jauh kedepan seolah tak berujung. “Mas?” Luna memanggilnya pelan seraya melangkah mendekatinya. Tapi pria itu masih bergeming. Tangan kanannya mulai bergetar tetapi ruh pria itu seolah sedang pergi meninggalkan raganya. “Mas?” Luna memanggil lagi. Kali ini tangannya terulur ke arah cangkir yang sudah mulai berguncang. Sentuhan tangannya sontak saja membuat pria itu menoleh dan terperanjat. Wajahnya tampak pias dan matanya mengerjap beberapa kali. “Kamu kenapa, Mas?” “Luna?” panggilnya. Suaranya terdengar parau. “Iya … ini aku. Aku ngagetin kamu ya? Maaf, maaf. Habis kamu melamun sambil pegang cangkir kopi sampai tanganmu bergetar gitu.” “Benarkah?” “Iya. Sini aku pegangin.” Luna mengambil cangkir kopi dan menaruhnya di atas coffee table depan televisi. Sementara itu Yudha menggelengkan kepala seolah sedang menepis pikiran dari dalam benaknya. “Kamu sudah mandinya?” lanjut pria itu seraya melangkahkan kaki menuju dapur yang letaknya persis di sebelah tempat sofa dan televisi berada. “Sudah. Kamu mau ngapain?” “Mau bikinin makanan buat kamu. Sengaja aku tungguin biar makannya masih dalam keadaan hangat,” ujar pria itu sambil mengambil wajan dari salah satu cabinet dapur. “Aku aja, Mas. Masa dari semalam kamu mulu yang masak.” Yudha menoleh dan menyunggingkan senyumnya. “Tadi malam bukan masak, Luna. Aku cuma seduh mie instan cup.” “Ya tetap saja, itu kan harusnya jadi urusanku. Meskipun aku belum bisa masak, tapi sepulang dari sini aku mau belajar masak.” “Nggak masalah. Aku nggak keberatan kok. Bukannya sudah kubilang, urusan makan itu soal gampang. Di rumah ada juru masak, kalau bosan, bisa pesan atau makan di luar. Jangan terbebani oleh statusmu sebagai seorang istri.” “Kalau begitu, apa tugasku?” Yudha terdiam. Selama beberapa saat kedua mata mereka bertemu dalam keheningan penuh arti. “Jadi istriku sudah cukup. Itu tugasmu.” Yudha membalikkan badannya lagi setelah sukses membuat Luna menutup mulut. Selama beberapa menit, Luna hanya bisa menatap Yudha yang memunggunginya telah berkutat dengan wajan dan spatula. Hingga terhidanglah dua buah scramble egg lengkap dengan roasted potato di atas piring datar. “Hanya menu sederhana buat ganjal sampai makan siang yang sebenarnya,” ujar Yudha seraya menarik kursi bar dan duduk di depannya. “Menu se-sederhana ini saja aku belum tentu bisa buat.” Luna meringis. Yudha tersenyum lembut. “Makanlah.” Luna menurut. Ia menyuapkan satu sendok scramble egg alias telur orak-arik in the fancy way itu ke dalam mulut dan mengunyahnya perlahan. “Enak, Mas. Enak banget.” “Suka?” Luna menjawab dengan anggukan antusias. Sesudahnya ia menyuapkan roasted potato dan memuji hal yang sama. “Syukurlah kalau kamu suka.” Selama beberapa menit mereka menikmati sarapan dan hanya terdengar dentingan sendok stainless bertemu dengan piring keramik. Tak pernah Luna berpikir sebelumnya bahwa hanya dengan menu sederhana ini saja bisa membuat hatinya terasa hangat. Mungkin memang bukan dari menu-nya melainkan dari siapa yang membuatnya. Momen kebersamaan mereka saat ini. Ia adalah Yudha. Suaminya. Pria yang sudah membuatnya jatuh hati sejak pertama kali bertemu. ‘Pelan-pelan, Luna. Pelan namun pasti,’ ujar Luna kepada dirinya sendiri. “Kalau kamu suka, nanti kapan-kapan aku buatkan lagi menu yang lain.” Suara Yudha memecahkan keheningan diantara mereka. “Sebenarnya kamu bisa masak belajar dari mana, Mas?” “Aku pernah tinggal sendiri selama beberapa tahun waktu kuliah di luar. Karena semua hal harus dilakukan sendiri dan keterbatasan uang saku jadilah aku harus memutar otak untuk makan hari-hariku. Meskipun nggak jago-jago banget, tapi at least perutku nggak keroncongan dan uang saku-ku aman,” tutur Yudha. “Ternyata kamu pernah juga ngalamin susahnya tinggal sendiri? “Tentu saja. Apalagi lingkungan disana apa-apa harus sendiri. Mau beli lauk jadi mahal.” “Aku salut sama kamu, Mas. Meski dari keluarga berada tapi kamu masih mau susah payah kala itu. Sementara aku masih dikasih uang jajan hanya buat beli lauk bulanan. Setelah lulus, aku sibuk kerja dan nggak berminat ngurusin dapur. Walaupun Mamah udah koar-koar katanya aku minimal harus bisa masak nasi.” “Aku percaya orang tua punya caranya sendiri mendidik anak lelaki dan anak perempuannya. Berkat didikan Papa. Kalau bukan karena beliau mungkin aku hanya jadi anak manja yang nggak tahu kerasnya kehidupan.” Yudha menunduk, menghindari tatapan mata Luna. Tangannya menyendokkan satu suapan terakhir ke mulutnya. *** Walaupun berada di daerah terpelosok dari jalan besar namun private resort pilihan ibu mertuanya itu menyimpan banyak kegiatan yang bisa dilakukan. Mulai dari menonton penampilan atraksi seni asli wilayah setempat, ada wisata air dari free diving tentunya diperuntukkan bagi yang sudah bersertifikat dan snorkeling atau hanya sekadar duduk di pantai untuk catching sunset. Selama hampir seminggu keduanya berada disana pun tak ingin menyia-nyiakan momen. Hampir setiap hari mereka keluar untuk berkegiatan dan baru kembali pada malam hari dalam keadaan lelah dan langsung terlelap. Tak mereka sadari bahwa kali terakhir mereka berhubungan adalah pada malam pertama mereka menginjakkan kaki di resort ini. Pada hari terakhir, Luna berinisiatif untuk menolak ajakan Yudha menonton atraksi seni exclusive khusus di pinggir pantai pada malam harinya. Seharian ini saja mereka sudah melakukan kegiatan di luar yang cukup melelahkan. “Aku agak lelah, Mas. Sementara besok kita sudah pulang.” Yudha bergeming. Tampak berpikir. “Kamu benar. Mungkin ada baiknya kita santai sebelum kembali ke rutinitas.” Luna mengangguk setuju dan berjalan memasuki kamar untuk berganti pakaian tidur. Sebuah gaun tidur panjang berwarna champagne lengkap dengan kimono untuk menutupi bahu dan punggungnya yang terbuka. Malam itu mereka kembali mengulang yang tertunda. Kali ini secara sadar. Penuh cinta dan saling memenuhi satu sama lain. Sampai akhirnya, sebuah kejadian penuh rahasia itu menjadi penutup kisah bulan madu mereka. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN