Bab 9: Seperti Dispenser

1655 Kata
Setelah kepulangan mereka dari bulan madu yang cukup panjang dan kembali ke rutinitas kehidupan. Selama beberapa hari kemudian, Luna tak bisa melupakan kejadian malam dimana untuk pertama kalinya suaminya mengigau. “Kenapa Mas Yudha meminta maaf? Kepada siapa? Minta maaf karena apa?” Namun pertanyaan yang terus berulang di dalam benaknya itu tak menemukan jawaban. Pernah Luna bertanya tapi Yudha menjawabnya dengan singkat seolah mengisyaratkan bahwa ia tak ingin membahasnya. Luna pun memilih diam. Setidaknya untuk saat ini. “Luna?” Seseorang memanggilnya dari balik layar laptop. Sontak membuat Luna terperanjat dan menggelengkan kepalanya pelan. Menepis suara-suara yang masih berkeliaran di benaknya. “Sorry, Carmen. Apa yang tadi kau katakan?” Matanya kembali fokus menatap layar yang menampilkan sosok perempuan blasteran dengan rambut bergelombang yang indah. Ia mengenalnya sebagai creative workers yang memiliki kesibukan luar biasa sehingga datang kepadanya untuk konsultasi keuangan dan melakukan beberapa hal terkait keuangannya. Pasca resign dari pekerjaan lamanya yang juga masih satu lingkup dengan keuangan, tentu hal ini sudah menjadi makanan sehari-harinya. Bedanya, dulu dia melakukan pekerjaannya untuk sebuah perusahaan besar dan bekerja bersama tim. Kali ini ia melakukan untuk perorangan dan jam kerja bisa lebih fleksibel. “Apa benar kamu nggak ingin perpanjang kerja sama kita? Padahal aku sudah nyaman denganmu.” Carmen berkata dengan sendu. Luna memaksakan tersenyum. “I’m sorry, tapi aku sepertinya memang harus mengurangi beberapa pekerjaan. Tapi semuanya sudah aman ya, aku tak pergi dalam keadaan kondisi keuanganmu kacau balau.” “Tentu saja tidak. Kamu banyak membantuku, Luna. Aku akan sangat kehilangan.” “Kita masih bisa chat sesekali, di luar pekerjaan. Jangan khawatir. Aku tak kemana-mana.” “Ya … aku lupa kalau kamu sekarang sudah menikah.” “Aku sudah memberikanmu rekomendasi konsultan yang lain. Salah satunya adalah mentorku, kamu bisa mempertimbangkannya. Aku banyak belajar dari dia.” Setelah beberapa menit mereka mengobrol ringan dan berpamitan, Luna akhirnya menutup layar laptop dan mendesah pelan. Setelah menikah, meski suaminya memberikannya kebebasan untuk bekerja namun entah mengapa hatinya mengatakan bahwa ia sudah harus mengurangi beberapa pekerjaan dan itu dimulai dengan mengurangi jumlah klien-nya. “Sudah jam berapa ini?” gumamnya seraya menoleh ke arah jam dinding yang terpajang. “Seharusnya Mas Yudha pulang sebentar lagi.” Saat Luna hendak bangkit, ponselnya berbunyi. Sebuah pesan singkat masuk. Dari suaminya. Yudha: Aku mungkin akan pulang sangat terlambat. Makan dan tidurlah duluan, jangan menungguku ya. “Pulang telat lagi,” gumam Luna lirih. Bahunya terkulai. Setelah Luna membuka pembahasan tentang mengapa suaminya mengigau tempo hari lalu dan hanya dibalas jawaban singkat, pria itu kerap kali pulang malam seolah sedang menghindarinya. Padahal hubungan mereka sudah mulai semakin dekat, tapi kenapa sekarang seperti mengalami kemunduran? “Sudahlah. Setidaknya kali ini dia ngabarin aku langsung, bukannya ke Mbok Marni.” Luna bangkit dari kursi di sudut kerjanya dan menyeret langkahnya menuju kamar. *** Pada suatu pagi di akhir pekan, suaminya itu berkata bahwa mereka akan ke rumah orang tuanya untuk makan siang bersama sekaligus pengenalan dirinya ke seluruh keluarga besar yang berhalangan hadir dalam perhelatan sederhana pernikahan mereka beberapa waktu silam. Maka pada akhirnya mobil SUV hitam itu sudah memasuki pekarangan rumah megah di kawasan perumahan elit. Ini adalah pertama kalinya Luna menginjakkan kaki di rumah orang tuanya. Setelah pernikahan yang diselenggarakan secara sederhana, Luna sudah diboyong langsung ke rumah suaminya dan selama perkenalan ia belum sempat diajak ke rumah orang tuanya. Padahal mereka belum benar-benar kembali mencair seperti pada saat honeymoon trip kemarin lantaran Yudha yang kerap kali pulang telat. Dan Yudha pun juga tak mengungkit lagi kejadian hari itu dan memilih untuk bersikap seolah tak pernah terjadi apa-apa. “Apa yang datang sebanyak itu?” bisik Luna setelah ia melihat sederetan mobil yang sudah terparkir rapi di pelataran parkir rumah besar itu. Keduanya telah berdiri di depan sebuah pintu masuk yang menjulang tinggi namun belum juga melangkah masuk seolah langkahnya tertahan. “Keluarga besar Mama dan Papa. Keduanya anak pertama yang dituakan setelah para sepuh tiada.” “Kamu memberiku pressure, Mas.” Tubuh Luna menegang. Sementara Yudha malah bersikap santai dan tertawa kecil. “Aku memberikanmu info.” “Bagaimana kalau mereka tidak menyukaiku?” bisik Luna lagi. Kali ini bukan hanya tubuhnya yang menegang tapi bergetar. Yudha yang menyadari perubahan sikap Luna itu pun langsung membelai lembut tangannya. “Mereka pasti akan menyukaimu. Percayalah, pernikahanku adalah yang selalu mereka tunggu-tunggu. Tenang saja ada aku disini.” Yudha berkata mantap. Tadinya Luna ingin mencibir karena sudah beberapa hari ini ia merasa dicuekin dan dibuat bingung dengan sikap suaminya yang berubah menjadi dingin. Lalu kini, ia kembali dihadapkan dengan Yudha yang berubah menjadi hangat. ‘Sebenarnya kamu itu kenapa sih, Mas. Sikapmu berubah-ubah terus.’ Luna menghembuskan napas pelan. Berharap bahwa suaminya tak menyadari. “Sudah siap untuk masuk?” Suara Yudha mengembalikannya kepada realita. Setelah menarik napas panjang, Luna mengangguk. Yudha mengamit tangan Luna dan menyampirkannya pada lengannya lalu membimbingnya memasuki rumah. Para pelayan menyambut kedatangan mereka lengkap juga dengan puluhan pasang mata yang sudah berkumpul di ruang tengah rumah. Luna menahan napas. Mengerjap mata. Yudha tak berbohong mengenai keluarga besar keluarganya. Yang jauh berbeda dengan keluarganya. Kedua orang tuanya hanya dua bersaudara dan tidak memiliki banyak anak. “Nah, ini dia bintang utamanya datang.” Mama Ambar menyeruak kerumunan dan menghampiri Luna dengan wajahnya yang sumringah. Wanita itu kemudian berdiri di samping Luna dan merangkulnya. “Kenalkan, ini Lunara Betari, istrinya Yudha, menantuku.” Detik berikutnya Luna sudah terlepas dari genggaman Yudha lantaran harus beramah tamah di depan para Om, Tante dan Sepupu yang terlihat memandangnya dengan penuh tanda tanya. *** Sekiranya perlu usaha lebih untuk membuat Luna terlepas dari lingkaran para keluarga yang masih terus merecokinya dengan pertanyaan. “Maaf ya, Om, Tante. Saya harus bawa Luna dulu.” “Duh, mentang-mentang pengantin baru jadinya nggak mau jauh.” Tante Vero nyeletuk dan langsung disetujui oleh para saudaranya yang lain. “Maklumi lah, Yudha kan baru lagi menemukan pasangan. Jadi kali ini dijaga bener-bener,” ujar Om Farhan yang kemudian mengaduh kesakitan lantaran Tante Vero menyikut perutnya. Yudha pun mengajak Luna ke lantai dua rumah yang lebih lengang dan memasuki sebuah kamar yang terletak di ujung. “Ini kamarku.” Begitu pintu terbuka, Yudha mengajaknya masuk. Ruangan itu cukup besar dan dilengkapi dengan kamar mandi dalam. Di sisi kiri terlihat ada sebuah pintu kaca yang menghubungkan langsung ke balkon. “Ini kamar bujangan?” Yudha mengangguk. “Sejak punya rumah sendiri, aku sudah jarang kesini. Tapi Mama selalu minta pelayan buat bersihin kamar jadi bisa dijadikan untuk istirahat.” Pria itu kemudian berjalan ke sisi ruangan dan membuka tirai putih semi transparan lalu membuka pintu untuk membiarkan udara masuk. “Pintunya dibuka dulu ya, nanti baru nyalain pendingin ruangan. Biar ada sirkulasi udara.” Luna tak mempermasalahkan. Matanya masih terlalu amazed menyusuri seluruh penjuru ruangan. “Kamu pasti capek yah ngeladenin pertanyaan dari Om dan Tanteku?” “Lumayan. Tapi aku senang kok. Mereka semua terlihat baik dan hangat.” “Sudah kubilang bukan kalau mereka pasti akan menyukaimu.” Luna mengangguk. Sementara Yudha kemudian menghampirinya dan membawanya ke salah satu sudut ranjang. “Aku tinggal sebentar buat ambilin minum nggak apa-apa ya?” “Iya, nggak apa-apa.” “Istirahat dulu. Tidak ada yang bisa mengganggumu disini.” Saat Yudha hendak berbalik badan, panggilan Luna menahannya. “Ada apa? Apa kamu butuh sesuatu?” “Aku boleh lihat-lihat kamarmu?” “Tentu boleh, kamu kan istriku.” Senyum Luna merekah sempurna dan sepeninggalan pria itu, Luna pun bangkit dan melangkahkan kaki menuju sisi lain kamar. Menyusuri dan memperhatikan setiap jejak kehadiran Yudha. Mulai dari susunan buku semasa kuliah masih tertata rapi pada rak buku yang menjulang tinggi hingga ke atas. Hingga beberapa bingkai foto berbagai ukuran berderet di atas drawer samping rak buku. “Mas Yudha waktu masih sekolah.” Tangan Luna terulur. Membelai seorang anak remaja mengenakan seragam putih abu. Mudah baginya mencari sosok Yudha yang berdiri diantara teman-temannya. Matanya tampak berbinar dan senyumnya mengembang. Lalu ia pun berjalan semakin ke sisi pojok melewati drawer panjang sebelum terantuk salah satu laci yang ternyata tak menutup sempurna. Luna mengaduh kesakitan pada tulang keringnya. “Ini pasti gak sengaja kebuka waktu lagi ngebersihin kamar,” pikirnya. Luna pun menunduk dan berusaha untuk mendorongnya tapi tak bisa. Macet. Seolah ada sesuatu yang menahannya. Pun kemudian Luna mengamatinya dengan jarak yang semakin dekat. Terlihat dari celah kecil bahwa laci itu terlihat berantakan dan ada satu benda berupa bingkai foto berwarna hitam dengan posisi terbalik itu yang menjadi penghalang tertutupnya drawer. Luna kembali mengulurkan tangannya. Bermaksud untuk merubah posisi benda tersebut agar drawer bisa kembali ditutup sempurna. Namun, sebelum tangannya berhasil menyentuh. Seseorang meraih tangannya lebih dulu dan menariknya. Saking kuatnya hingga membuat tubuhnya limbung. “Mas?” pekiknya pelan. Dilihatnya sorot matanya yang membesar dan penuh ketakutan. Belum sempat Luna bertanya, pria itu menunduk dan mendorong paksa bingkai foto itu ke dalam laci dan kemudian menutupnya. Luna yang belum menguasai rasa terkejutnya hanya terdiam. Kemudian pria itu berbalik. Kedua mata saling bertemu dan saling mematung. Dengan sorot matanya, Luna bisa melihat bahwa saat ini suaminya tampak seolah sedang menahan diri. Terlihat dari garis rahangnya yang mengeras dan sesekali berkedut. “Ini minumnya,” ujar Yudha kemudian. Suaranya datar sembari mengulurkan tangan. “M-makasih, Mas.” Luna menerima gelas berisi air mineral itu dengan kaku dan memilih untuk meneguknya pelan. Yudha masih berdiri di membelakangi drawer dan sepertinya enggan untuk pergi. “Sudah?” Luna mengangguk. “Kalau begitu, hayuk.” Pria itu kembali mengulurkan tangannya. “Mau kemana, Mas? Katanya tadi mau istirahat dulu?” “Tadi Mama bilang kalau para saudara sudah mau pamit, jadi kita sekalian pulang aja biar kamu bisa istirahat di rumah dengan nyaman,” tukasnya tanpa memandangnya. Luna ingin kembali membuka mulutnya dan melontarkan pertanyaan mengapa, tapi tangan pria itu dengan cepat meraih tangannya dan menuntunnya keluar. Ketika mereka telah melewati pintu kamar, diam-diam Luna menoleh dan tatapannya tertuju pada satu titik dengan satu pertanyaan besar di benaknya. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN