Setelah hari itu, sikap pria itu berubah menjadi lebih dingin dari sebelumnya. Hal yang sama terulang kembali membuat Luna hanya bisa pasrah melihat perubahan sikapnya.
“Gue semakin yakin kalau sebenarnya ada yang disembunyiin dari dia.” Luna mengeluh pada satu-satunya sahabatnya lewat perbincangan telepon pada suatu siang.
“Ya mungkin aja sih.”
“Heum.” Luna mendengus dan merebahkan diri di atas kasur.
“Palingan nggak jauh-jauh dari urusan mantan,” lanjut Kania santai.
“Kalau memang benar ada urusannya sama mantan, itu mungkin akan jadi masalah yang besar.”
“Nggak juga.”
“Gimana tuh maksudnya?” Luna agaknya agak sedikit tak sabar dengan sikap acuh Kania di seberang panggilan telepon.
“Kalau dia masih berhubungan dengan mantannya, itu baru berpotensi besar. Tapi kalau cuma menyimpan kenangan sih harusnya nggak yah.”
“Itu tanda belum bisa move-on dong?” Luna memprotes.
“Mungkin saja dia memang lupa dan pas kebetulan juga lo pertama kali diajak masuk ke kamar bujangannya kan?”
Luna mengangguk lalu detik kemudian bergumam pelan.
“Nah, make sense sebenarnya. Dia sudah lama nggak tinggal di rumah orang tuanya dan setelah menikah pun, lo diboyong langsung ke rumahnya. Akan sangat wajar jika banyak hal pribadi yang tersimpan jauh sebelum kenal sama lo.”
Luan diam. Dalam hatinya ia mengakui bahwa pendapat Kania seratus persen benar dan masuk akal, tapi tidak ia utarakan.
“Giliran gue ngomong bener lo malah diem aja,” cibir Kania dari seberang.
Detik berikutnya Luna terkekeh pelan. “Omongan lo ada benernya juga sih.”
“Walaupun ini baru spekulasi liar, tapi kalau kemungkinan itu ada lo juga mesti mempersiapkan hati.”
Luna mengerang. “Sejujurnya gue nggak siap.”
“Setiap orang pernah punya masa lalu, Lun. Begitu juga elo kan. Bahkan belum lama ini.”
“Kayaknya itu nggak masuk hitungan.”
Terdengar Kania tertawa meledek dari ujung telepon. Dan Luna hanya bisa memasang wajah masam tanpa Kania harus lihat karena mereka hanya melakukan panggilan telepon bukan video.
“Sudah. Sudah. Nggak usah pikirin kesitu.”
“Ya kan bukan gue yang menyinggung duluan,” semprotnya.
Kali ini giliran Kania yang terkekeh. “Sorry babe. Sensi amat sih. Sebagai gantinya, gue bisa kasih lo saran.”
“Apa?”
Tadinya Luna ingin memperpanjang urusan ini dengan Kania tapi sejurus kemudian ia teringat bahwa ada yang lebih penting, yaitu urusan rumah tangganya.
“Kata orang, cara menyenangkan suami itu ada dua. Di ranjang atau di dapur.” Kania mulai bersuara. Kali ini terdengar lebih serius. “Beri dia service yang memuaskan ketika di ranjang dan buat perut dia kenyang sama masakan buatan lo.”
“Kalau urusan ranjang sih mungkin bisa diusahakan.”
Luna tertegun sesaat, sebelum akhirnya keluarlah cerita insiden pada malam itu. Malam dimana ia mendengar nama seorang wanita ketika suaminya tertidur setelah percintaan mereka berakhir.
“Itu masalah waktu, Lun. Percaya sama gue. Asalkan lo mau lebih agresif, dia pasti akan lupa.”
Mendengar itu sontak membuat Luna membelalakan mata.
“Gue tau lo diem pasti terkejut. Tapi, status lo ini kan seorang istri. Jadi sah-sah aja kalau lo yang lebih duluan memulai.”
Seperti malam itu, lanjut Luna hanya pada pikirannya.
Malam dimana saat Luna secara sadar ingin mencium suaminya saat sedang tertidur dan berakhir seperti yang Luna mau.
Tapi ini jelas situasi yang berbeda. Jika tempo hari yang lalu Luna menginginkannya secara refleks, tapi saat ini ia benar-benar berniat untuk menggoda suaminya.
Hal itu pun tak ayal membuat Luna bergidik.
“Tapi itu bukan hal yang mudah. Gue nggak terbiasa melakukan itu.”
“Belum.” Kania meralat. “Bukan nggak terbiasa, tapi belum. Yang harus lo lakuin cuma mulai aja dulu.”
Luna kembali mengatupkan mulutnya.
“Atau kalau lo mau coba di masakan. Buatin dia makanan kesukaannya atau kopi kesukaannya. Apapun.”
Luna kembali mengerang. “Lo kan tahu gue nggak bisa masak.”
“Ya belajar, Lun.” Kania tampak gemas menjawab dari seberang. “Pilih salah satu atau keduanya lebih baik. Kalau saran gue sih yang gampang aja.”
“Yang mana?”
“Nomor satu. Di ranjang. Nggak perlu pakai skill, cukup intuisi aja.”
Luna yakin wanita itu pasti sedang mengembangkan senyumannya. “Nggak usah jadi mikirin yang aneh-aneh ya, Kania!”
Kania pun sontak terbahak. “You know me so well, babe.”
“Baiklah, akan gue pertimbangkan.”
“Good. Pikirkan baik-baik. Ini demi kehidupan rumah tangga lo yang baru menetas itu.”
Luna pun berusaha untuk menarik senyumannya, lalu sebuah ide tiba-tiba muncul dari benaknya. “Gue heran, lo bisa kasih advice begini tapi belum juga nikah.”
“Curang! Lo mau balas dendam ya?” Kania terdengar memberengut yang langsung disambut dengan tawa puas Luna.
“Satu sama.”
Terdengar Kania memberengut sebelum kemudian menjawab. “Denger ya, gue tuh emang nggak niat nikah aja. Hidup sendiri lebih asik.”
“Yaa, ya, terserah lo aja. Lo tuh bukannya mau sendirian terus menerus, tapi memang belum ketemu cowok yang tepat.”
Kania tidak membenarkan maupun mengelak. “Sudahlah, sekarang mending lo fokus menggoda suami lo sendiri. Kalau berhasil, gue kirimin invoice-nya.”
“Jadi konsultasi tadi itu berbayar?”
“Iyalah, di dunia ini nggak ada yang gratis.”
Luna menghela napas pelan. “Oke, fine. Nanti gue traktir kopi.”
“No, bayaran kopi itu terlalu murah.”
“Jadi lo mau apa?”
“Nanti. Tunggu nanti sampai sejauh mana keberhasilannya.”
Luna menyetujui dengan pasrah. Sedetik kemudian telepon dimatikan. Ruangan mendadak menjadi sunyi hingga membuat telinganya berdengung.
Masih berbaring di ranjangnya, Luna menatap langit-langit kamar dengan pikiran yang sudah melayang. Perkataan Kania masih bercokol di dalam hati dan sedikit mengusiknya.
Terus terang saja, ia sama sekali tak punya bayangan bagaimana harus menggoda pria–meski itu adalah suaminya sendiri.
Sepanjang hidupnya, Luna tidak banyak berinteraksi dengan pria. Sekalinya berinteraksi malah harus dimanfaatkan. Pernikahannya dengan Yudha memang atas kemauannya lantaran Luna lebih dulu menyukainya, tapi ia tak menyangka kalau hati suaminya itu sedalam itu.
Ia bahkan tak bisa menebak apakah Yudha sebenarnya benar-benar menyukainya atau tidak. Kalau iya, kenapa ia kadang bersikap hangat lalu di lain waktu bersikap dingin?
Kalau ternyata tidak, kenapa ia setuju menikah dengannya? Apa alasannya?
Selagi benaknya masih berputar-putar dengan spekulasinya sendiri, Luna pun akhirnya bangkit dan berjalan menuju lemari. Menarik sebuah kotak hitam yang sebelumnya ia sembunyikan pada bagian bawah tertutupi tumpukan pakaian.
“Tidak ada salahnya mencoba kan?” gumamnya pada dirinya sendiri.
***
Lunara tak menyangka jika dirinya akan dengan suka rela mengenakan gaun tidur yang diberikan oleh ibunya pada saat hari pernikahannya.
Ibunya tidak hanya menyelipkan gaun tidur di dalam satu kopernya tapi juga koper lainnya yang sengaja ditinggalkan.
Yang dibawanya pada saat bulan madu tempo hari yang lalu, menurutnya masih masuk kategori sopan. Gaun tidur panjang berbahan satin dengan perpaduan warna lembut yang membuatnya tampak manis.
Kali ini, Lunara mengenakan yang lebih berani.
Warna merah menyala itu memberikan kontras yang menawan pada kulitnya yang putih dan rambut hitamnya yang ia biarkan tergerai.
Gaun itu tidak lagi panjang hingga semata kaki, melainkan hanya sampai sebatas paha. Kimono-nya pun tidak serta merta menutupi bagian tubuhnya yang lain.
“Apa aku harus sampai sebegininya?” tanya Luna yang seketika saja mendadak kehilangan kepercayaan dirinya.
Terbesit dalam benaknya ingin langsung mengganti pakaiannya. Namun, suara mobil suaminya terdengar memasuki garasi.
Luna berjalan menuju jendela dan mengintip dari balik tirai, meski ia tahu bahwa itu adalah suaminya.
“Tumben, jam segini sudah pulang?” gumamnya sambil melirik jam yang masih menunjukkan pukul delapan malam. Sebelumnya, Yudha bisa pulang lebih larut dari ini.
Terlihat Yudha keluar dari mobil dan mulai melangkah masuk ke dalam rumah.
Dan itu artinya tidak ada waktu untuk mengganti rencana.
Luna menggigit bibirnya dan detik berikutnya menggeleng pelan.
“Tidak ada salahnya mencoba, Lun. Lagipula dia suamimu kan?” Luna berkata pada dirinya sendiri.
Luna mematikan lampu utama dan membiarkan lampu di atas nakas hingga menjadikan nuansa kamar menjadi temaram.
Satu langkah terakhir, Luna menyalakan lilin aromatherapy untuk memberikan nuansa hangat dan dengan harapan bisa meredakan kegugupannya.
Tak sampai lima menit, pintu kamar terbuka dan Yudha perlahan memasuki kamar dengan wajah kebingungan.
“Luna?” panggilnya. “Kenapa gelap-gelapan?”
Luna tak menjawab. Ia masih mematung di samping ranjang dengan degup jantung yang sudah berdebar. Menunggu suaminya yang tengah berjalan menghampirinya.
***