Bab 11: Sesi Interogasi

1286 Kata
“Berhasil apanya, yang ada gagal total,” sungutnya kelewat kesal. Ingatan tentang bagaimana suaminya menolaknya mentah-mentah masih berlarian di dalam benaknya, yang sukses membuat wajahnya kembali merah padam menahan emosi yang kembali bergejolak. “Bisnis trip apanya? Ini bukannya hanya akal-akalannya saja kan?” gumamnya lagi dengan suara yang bergetar. Misinya gagal total lantaran suaminya melontarkan perkataan bahwa malam itu, kepulangannya yang lebih cepat dari biasanya adalah untuk mengemasi pakaian dan bersiap untuk bisnis trip mendadak. Luna sebenarnya tak begitu percaya tapi ketika melihat pria itu melihatnya dengan bersungguh-sungguh lalu pada akhirnya membuat hatinya luluh juga setelah memastikan bahwa raut wajahnya memancarkan rasa bersalah. Ia pun harus rela melepas suaminya pergi pada malam itu juga, meskipun semalaman suntuk ia tak bisa tertidur karena menahan malu melihat kenyataan bahwa dirinya diabaikan oleh suaminya sendiri. Hidungnya sudah memerah sementara air matanya sudah mulai merembes dari pelupuk mata selagi dirinya tak sadar telah merusak lembar roti pandannya. “Bu? Apa rotinya nggak enak?” Suara dari Mbok Marni sontak mengejutkannya. Luna memalingkan muka untuk menghapus air mata yang sebagian kecil sudah lolos melewati bendungan pertahanannya. “Oh, enak kok, Mbok.” “Tapi sepertinya sekarang sudah nggak layak makan lagi.” Luna mengerjap dan memandang lembar roti yang sudah tercabik-cabik. Lalu matanya berpindah ke arah tangan kanan memegang pisau roti yang menggantung di udara. “Oh, ini mungkin saya lagi nggak fokus.” “Apa mau saya buatkan makanan lain, Bu?” “Nggak usah, Mbok. Terima kasih. Ini masih bisa dimakan kok.” Luna menolak lembut. Mbok Marni-pun akhirnya pamit. Detik itu juga Luna mendesah panjang sampai bahunya terkulai. Ia menggigit lembar roti yang sudah tercabik itu dan mengunyahnya masam. Selagi mengunyah, Luna pun termenung cukup lama. “Apa mungkin harusnya aku jangan langsung agresif ya? Apa aku terlalu kaku? Jangan-jangan dia jadi ilfil sama aku?” Luna bergumul dengan spekulasinya sendiri hingga membuatnya bergidik. Teringat kembali bagaimana kata-kata Kania kemarin di telepon. Cara menyenangkan laki itu kalau nggak urusan ranjang ya urusan perutnya. “Tapi aku bahkan sama sekali nggak bisa masak.” Luna mengerang lagi. Dalam hatinya ia menyesali kenapa sejak dulu ia tidak tertarik menyentuh dapur padahal ibunya sendiri sudah sering kali mengajaknya. Yang lebih membuatnya tertekan adalah suaminya sendiri bahkan lebih jago masak daripada dirinya! Di tengah keputusasaannya, Luna bisa merasakan ada cahaya harapan dari lubuk hati yang seolah menyentilnya untuk tak menyerah. Itu semua didapatkannya berkat bekerja menjadi b***k corporate selama tahunan. Lunara Betari, si mental baja. Adalah gelar yang disematkan oleh rekan sekantornya.Namun, itu dulu. Sebelum satu orang membuatnya menjadi hancur lebur. Tak ingin terus meratapi nasib, Luna pun akhirnya bangkit dan berjalan menuju dapur. Terlihat Mbok Marni tengah merapihkan dapur bersih dari kotoran ringan yang tertinggal di atas cabinet. “Eh, Ibu.” Mbok Marni terperanjat ketika menyadari bahwa majikannya sudah berada di dapur tanpa bersuara. “Ibu butuh sesuatu?” “Nggak kok, Mbok. Saya cuma mau taruh ini aja.” Luna mengangkat tangan kanan yang sedang memegang piring kotor. “Biar saya, Bu.” Mbok Marni membungkuk seraya mengulurkan tangannya untuk mengambil alih. “Nggak usah, Mbok. Ini kan cuma pekerjaan ringan.” Luna menaruh piring kecil itu di dalam sink dan membilas tangannya menggunakan air mengalir dari keran. Lalu kemudian ia kembali membalikkan badannya menghadap Mbok Marni yang masih terpaku di tempat. “Padahal Ibu bisa memanggil saya jika sudah selesai, nanti saya pasti akan langsung bersihkan.” “Bapak maunya begitu?” Mbok Marni menggeleng. “Karena Bapak juga jarang di rumah, jadi menyiapkan makanan begini lumayan jarang, Bu. Maka dari itu, semenjak Bapak menikah dan Ibu tinggal disini, saya jadi senang karena bisa menyiapkan makanan.” “Oh gitu … Bapak emang kelihatannya sibuk terus sih ya.” Luna termenung sesaat. “Sibuk banget, Bu. Bahkan sampai nginap di kantor. Saya sebenarnya sampai khawatir dengan jam makan dan tidurnya Bapak.” Mbok Marni terus bercerita. Mendengar itu Luna mengerjap pelan. Tidur di kantor? Memangnya se-workaholic apa Mas Yudha sampai bela-belain tidur di kantor? Padahal di rumah ini kan ada kantor pribadinya juga. “Sekarang setelah menikah, Bapak udah jauh lebih sering di rumah,” lanjut Mbok Marni. “Ya walaupun kayaknya masih suka bolak-balik dinas ke luar kota ya, Mbok.” Luna menyunggingkan senyum miringnya dan terkekeh pelan. “Kalau dulu malah dinasnya suka berminggu-minggu, Bu.” “Oh ya? Kerjaannya sampai selama itu?” “Kalau soal kerjaan sih saya kurang tahu ya, Bu. Cuma ya selain suka nginep di kantor, Bapak suka dinas sampai berhari-hari.” Luna kembali terdiam. Dalam hatinya ia banyak berpikir memangnya seberat apa beban pekerjaannya sampai harus banyak menyita waktu? Luna sih waktu di kantor jabatannya memang masih levelan manager bukan bagian dari direksional seperti suami dan ayah mertuanya. “Kenapa? Ibu udah kangen Bapak ya?” tanya Mbok Marni lagi dengan nada santai. “Ehh … itu …” Luna tiba-tiba saja tergagu. “Nggak apa-apa kok, Bu kalau kangen. Namanya juga pengantin baru.” “Ah, Mbok … bisa aja.” Bisa Luna rasakan bahwa wajahnya perlahan memanas. “Apalagi kalau nikahnya karena dijodohin. Jadi waktu pacarannya sedikit, tiba-tiba dinikahin.” “Loh, Mbok tahu juga ternyata ya?” “Nyonya yang ngomong, Bu. Dan sebenarnya saya juga sudah menduganya waktu itu kok Bapak dari yang nggak keliatan pacaran tiba-tiba dah mau nikah aja.” “Oh, memangnya Bapak nggak suka gonta-ganti pacar ya?” tanya Luna yang seolah tersentil menanggapi fakta baru dari asisten rumah tangganya. “Nggak, Bu. Bapak tuh setia orangnya. Kalau udah satu, ya satu aja.” “Tapi biasanya kalau yang begitu, ketika putus galaunya lama nggak sih, Mbok.” Luna memancing lagi. “Betul itu, Bu! Bapak kalau lagi galau kelihatan banget biasanya. Jadi lebih pendiam. Apalagi—” Mbok Marni sontak menutup mulut. “Apalagi apanya maksudnya, Mbok?” “Nggak. Nggak, Bu. Saya kayaknya kebanyakan ngomong.” Sekarang, Mbok Marni tampak menggigit bibir bawahnya. Sebenarnya fakta bahwa suaminya merupakan pria yang setia sudah cukup membuatnya merasa lebih lega, tapi bagaimana jika suaminya itu ternyata belum bisa move-on dari masa lalu yang tak pernah ia ketahui itu? Sekelebat ingatan tentang kejadian pada malam pertama mereka di hotel berminggu-minggu lalu kembali muncul dan masih meninggalkan pertanyaan yang belum menemukan jawabannya. “Bu?” Suara Mbok Marni sontak saja membuyarkan lamunannya. Cepat-cepat Luna menyunggingkan senyum. “Nggak apa-apa kalau Mbok belum mau cerita.” “Bukan gitu maksudnya, Bu. Maafin saya ya, Bu. Saya kalau udah ngomong tuh begitu, suka kelepasan. Bahasa sekarang apa sih nama nya … oper … oper apa namanya susah banget.” “Oversharing, Mbok.” “Nah itu maksudnya!” Luna terkekeh pelan melihat Mbok Marni secara pelan mulai menunjukkan keterbukaan padanya. “Pokoknya, saya minta maaf ya, Bu. Apa yang saya omongin jangan langsung dimakan hati.” “Iya, nggak apa-apa, Mbok.” “Pokoknya sekarang kan Ibu udah jadi istrinya Bapak,” lanjut Mbok Marni. Luna awalnya ingin kembali mencecar dengan pertanyaan selanjutnya tapi ia urungkan kembali. Nanti. Nanti aku akan cari momen yang tepat untuk ngorek informasi lagi, pikirnya. “Kalau begitu, saya pamit dulu, Bu. Sepertinya saya mau belanja bulanan. Stok makanan sudah pada habis, nanti nggak bisa masak makanan kesukaan Bapak.” Mbok Marni membungkuk dan bersiap pergi. Namun, dengan kecepatan cahaya, Luna langsung menahan Mbok Marni. “Mbok tadi bilang apa? Makanan kesukaan Bapak?” Mbok Marni mengangguk pelan seraya menatap majikannya dengan pandangan penuh dengan tanda tanya. Sementara Luna sudah kembali menyunggingkan senyum sumringah karena mendapat pencerahan. Semua orang punya masa lalu, kan? tanya Luna mengutip kata-kata Kania pada dirinya sendiri dan menjadikannya seperti mantra bahwa ia tak seharusnya mempermasalahkan masa lalu suaminya. “Biar saya aja yang belanja. Mbok tulisin saja apa yang harus dibeli.” ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN