Bab 1: Begitu Lembut, Begitu Menggoda
Hujan gerimis mengetuk kaca jendela kamar mewah di lantai paling atas Hotel Semesta, tempat di mana kemewahan dan kekuasaan bersatu dalam satu atap. Di dalam ruangan yang beraroma wangi mawar dan kayu cendana itu, suasana justru dipenuhi ketegangan yang terasa nyata, seolah udara di sana menebal oleh hasrat dan kemarahan yang saling beradu.
Di atas tempat tidur beralaskan seprai sutra berwarna krem, terbaring seorang pria yang wajahnya bisa membuat siapa saja terpaku. Garis rahangnya tegas, hidungnya mancung, dan mata hitamnya yang tajam memancarkan wibawa seorang pemimpin besar. Ia adalah Aldino Ganntara, Direktur Utama Grup Ganntara — perusahaan konglomerasi raksasa yang namanya bergema di seluruh Indonesia. Kekayaan yang ia miliki bernilai ribuan miliar rupiah, dan setiap langkahnya selalu menjadi sorotan publik. Di usianya yang belum genap tiga puluh tahun, ia telah menjadi salah satu pria paling didambakan dan ditakuti sekaligus.
Namun saat ini, pria yang biasa dingin dan tak tergoyahkan itu tampak terdesak. Di atas dadanya, duduk seorang wanita dengan posisi yang sangat dekat dan penuh tantangan. Wanita itu adalah Maila Adhirani, staf baru di divisi pemasaran Grup Ganntara yang baru saja bergabung kurang dari seminggu.
Maila memiliki pesona yang sulit dijelaskan. Ada kesan lugu dan polos di matanya yang berbinar cerah, seolah ia belum pernah tersentuh oleh kejamnya dunia. Namun di saat yang sama, setiap lengkungan bibir dan gerak-geriknya memancarkan pesona alami yang menggoda, seolah ia lahir dengan bakat alami untuk memikat siapa saja yang ia inginkan. Rambut hitam panjangnya terurai jatuh, ujung-ujungnya menyapu leher Aldino, menimbulkan rasa geli yang menggelitik hingga ke tulang belakang.
"Kamu mau apa sebenarnya?" tanya Aldino, suaranya rendah dan bergetar menahan amarah. Wajah tampannya kini memerah karena marah, campur aduk dengan perasaan lain yang ia tolak untuk diakui.
Maila menatapnya lurus ke dalam manik mata itu, tanpa rasa takut sedikit pun. Matanya yang berair dan besar itu memandang tajam, seolah siap menelan pria di bawahnya itu bulat-bulat. Jari-jarinya yang lentik baru saja menyentuh kancing kemeja putih yang melekat rapi di d**a Aldino, namun dengan cepat, tangan pria itu menangkap kedua pergelangan tangan Maila dengan cengkeraman kuat namun tidak menyakiti.
"Maila Adhirani, beraninya kamu!" bentak Aldino, napasnya memburu.
Maila hanya tersenyum miring, lalu mencondongkan tubuhnya semakin dekat. Aroma wangi bunga melati dari rambutnya menguar, mengisi paru-paru Aldino dan membuat pertahanan pria itu perlahan runtuh. Suaranya terdengar manja namun penuh ancaman, menusuk tepat ke dalam kesadaran Aldino.
"Coba saja lihat apakah aku berani atau tidak..."
Belum sempat Aldino menjawab atau menegur lagi, Maila menundukkan wajahnya dan menempelkan bibirnya ke bibir Aldino.
Mata Aldino terbelalak lebar, kaget luar biasa. Detak jantungnya berpacu kencang hingga rasanya akan melompat keluar dari d**a. Ini... ini adalah ciuman pertamanya. Sepanjang hidupnya, Aldino selalu menempatkan pekerjaan dan nama baik keluarganya di urutan teratas. Wanita-wanita yang mendekat selalu ia singkirkan, dan tak ada satu pun yang berani melangkah sejauh ini. Namun wanita di hadapannya ini, staf rendahan yang baru ia kenal beberapa hari, berani sekali merenggut hal yang paling berharga itu darinya.
Ini keterlaluan! batin Aldino mendidih. Ia hendak membuka mulut untuk meneriakkannya, untuk mengusir wanita kurang ajar ini. Namun begitu bibirnya sedikit terbuka, Maila justru memanfaatkan celah itu. Lidahnya yang lembut dan hangat masuk menyusup, menari bersama lidah Aldino dengan gerakan yang begitu mahir, penuh gairah dan d******i. Itu adalah ciuman Perancis yang mendalam, penuh hasrat yang tertahan lama, membuat seluruh tubuh Aldino kaku seketika.
Saat kesadaran Aldino mulai kembali, ia segera mendorong tubuh Maila dan bersiap bangkit dari tempat tidur. Ia tidak boleh terjebak lebih jauh lagi. Namun, Maila kembali bertindak cepat. Dengan sisa tenaga yang ia miliki, wanita itu menekan d**a bidang Aldino hingga kembali terhempas ke bantal. Bibir Maila bergerak mendekat ke telinga Aldino, berbisik pelan namun jelas, penuh kelicikan yang membuat darah Aldino membeku.
"Di luar sana sudah dipenuhi wartawan, Pak Direktur. Kalau kamu berani bergerak sedikit saja, atau melangkah keluar dari pintu ini... aku akan langsung menanggalkan semua pakaianku, berlari ke depan mereka semua, lalu berteriak sekeras-kerasnya bahwa Bos besar Grup Ganntara ini bermuka dua dan mencoba memperkosaku di kamar hotel."
Tubuh Aldino langsung membatu. Niatnya untuk bangkit seketika lenyap begitu saja. Ia menatap tajam ke arah wajah cantik yang masih duduk di atas pinggangnya itu. Bagaimana mungkin wanita semuda dan sepolos rupa ini memiliki akal sejahat ini?
"Kamu ini anak buah pesaing bisnis yang dikirim untuk menjebakku? Atau ada niat lain yang kotor dan tersembunyi?" tanya Aldino dingin, matanya menyala penuh kemarahan yang tertahan.
Maila justru tertawa kecil, tampak sangat santai seolah sedang membicarakan hal yang paling biasa saja. Ujung jarinya berputar-putar perlahan di atas d**a Aldino yang tertutup kain kemeja, menggoreskan rasa geli yang menjalar ke seluruh saraf pria itu.
"Kamu terlalu banyak berasumsi, Pak Direktur. Aku cuma berpikir... melihat wajahmu yang begitu rupawan dan sempurna ini, tapi di sekelilingmu tak ada satu pun wanita yang berani mendekat. Pasti rasanya sepi dan sepi sekali, kan? Tubuhmu pasti sudah lama haus akan sentuhan, pasti kesepian sekali..."
Maila menunduk lagi, napas hangatnya menyapu kulit leher Aldino yang sensitif. Suaranya terdengar menggoda, seperti nyanyian siren yang memikat pelaut ke jurang.
"Aku ada di sini karena dikirimkan takdir untuk menyelamatkanmu dari kesepian itu, Aldino."
Aldino hanya bisa diam, rasa kesal bercampur bingung memenuhi kepalanya. Alasan macam apa itu? Penyelamat dari kesepian? Benar-benar omong kosong!
Namun perlahan, senyum sinis muncul di sudut bibir Aldino. Ia mulai menangkap pola pikir wanita ini.
"Jadi maksudmu," ujar Aldino dengan nada penuh cibiran dan tatapan merendahkan, "kamu ingin menaiki tempat tidurku, lalu menjadikan dirimu Nyonya Ganntara? Istri sah pewaris tunggal keluarga ini?"
Maila mengangkat wajahnya, lalu menyentuh ujung hidung Aldino dengan ujung jarinya yang lentik. Tatapannya tajam namun berbinar jenaka.
"Wah, Pak Direktur memang pintar sekali. Tepat sekali, jawabanmu benar," jawabnya santai.
"Kamu kira semudah itu?" ejek Aldino, suaranya dingin dan penuh kebanggaan. "Kamu pikir hanya dengan merayuku atau masuk ke kamarku, kamu bisa mendapatkan posisi itu? Terlalu mengada-ada. Sekalipun kamu berhasil menaiki tempat tidurku hari ini, tidak akan ada kemungkinan sedikit pun bagi wanita sepertimu untuk masuk ke dalam keluarga Ganntara. Jangan bermimpi yang bukan-bukan."
Belum selesai Aldino menyelesaikan kalimatnya, Maila kembali bertindak berani. Ia menutup mulut Aldino dengan ciuman yang jauh lebih ganas dan menuntut. Tangan kanannya bergerak lincah, membuka kancing kemeja Aldino satu per satu dengan gerakan cepat dan tegas, seolah ia telah melakukannya ribuan kali.
Aldino mengatupkan bibirnya rapat-rapat, berusaha menolak dan tidak memberi celah sedikit pun. Ia tahu betul, jika ia membuka mulutnya sedikit saja, wanita ini pasti akan menyerbu masuk lagi. Ia harus bertahan, ia tidak boleh kalah.
Melihat keteguhan hati pria itu, senyum miring muncul di bibir Maila. Ia melepaskan ciumannya, lalu duduk tegak kembali. Tangan kanannya meraih gelas berisi anggur merah yang tergeletak di meja samping tempat tidur. Cairan merah pekat itu berputar di dalam gelas kristal, memantulkan cahaya lampu kamar dan menonjolkan kilatan kewaspadaan yang tajam di mata Maila.
Aldino mengerutkan kening. Apa yang hendak dilakukan wanita itu? Apakah ia ingin meminumnya agar berani melangkah lebih jauh?
Namun dugaan itu salah. Maila menyesap sedikit anggur itu, lalu tanpa peringatan, ia kembali mencondongkan tubuhnya ke arah Aldino dan menempelkan bibirnya kembali ke bibir pria itu.
Kali ini bukan ciuman biasa. Bibir Maila sedikit terbuka, dan perlahan, cairan dingin bercampur rasa manis dan asam dari anggur itu mengalir masuk ke dalam mulut Aldino, disalurkan langsung oleh bibir dan lidah wanita itu. Aroma alkohol yang kuat bercampur dengan aroma khas diri Maila, menciptakan sensasi yang membingungkan dan memabukkan sekaligus.
Refleks tubuh Aldino menelan cairan itu. Saat ia sadar akan apa yang terjadi, separuh isi gelas sudah masuk ke kerongkongannya.
Maila mundur sedikit, jari jemarinya menyeka sisa cairan anggur yang menempel di sudut bibirnya sendiri. Senyumnya begitu memikat, matanya berbinar penuh kemenangan.
"Enak, kan?" tanyanya lembut, namun ada nada penuh kemenangan di sana.
Aldino menelan ludah, tenggorokannya terasa kering dan panas. Tatapan matanya semakin gelap, bercampur amarah dan sesuatu yang lain yang mulai sulit ia kendalikan.
"Anggur sebanyak ini belum cukup membuatku mabuk hingga mau dipermainkan sesuka hatimu," jawab Aldino tegas, meski ia mulai merasakan suhu tubuhnya sedikit meningkat.
Maila hanya mengangkat alisnya, lalu meneguk sisa anggur di gelas itu hingga tetes terakhir. Gelas kosong itu ia lempar begitu saja ke karpet tebal di lantai, menghasilkan bunyi bantingan yang pelan namun nyaring di keheningan ruangan. Sekali lagi ia menindih tubuh Aldino, wajahnya sejajar dengan wajah pria itu. Jari telunjuknya mengangkat dagu Aldino, memaksanya menatap mata wanita itu. Napasnya beraroma anggur dan sesuatu yang sangat menggoda.
"Anggur sedikit itu... sebenarnya sudah lebih dari cukup, Aldino."
Perasaan waspada langsung melonjak di d**a Aldino. Ia mulai tidak nyaman.
"Maksud kamu apa?"
Perlahan, senyum lebar terukir di bibir Maila, senyum yang terlihat polos namun menyimpan bahaya besar.
"Malam ini adalah yang pertama kali bagiku. Aku ingin kita berdua sama-sama merasakan kenikmatan yang luar biasa, makanya aku menambahkan sedikit 'bumbu' khusus ke dalam minuman tadi. Aku yakin... sebentar lagi kita akan sama-sama menikmati malam yang panjang dan indah ini sampai puas."
"Maila Adhirani! Kamu gila ya?!" seru Aldino, kemarahannya meledak seketika. Ia sama sekali tidak menyangka wanita ini akan nekat sampai sejauh itu — memberinya obat perangsang secara diam-diam.
Ketakutan hebat merayapi sekujur tubuhnya. Ia segera mengangkat tangan, berniat mendorong tubuh ramping itu menjauh. Namun efek minuman yang telah masuk ke dalam darahnya ternyata bekerja sangat cepat dan dahsyat. Panas membara mulai menjalar dari ulu hati hingga ke seluruh anggota tubuhnya, seolah ada api yang menyala di dalam urat nadinya. Otot-ototnya menegang kaku, kulitnya terasa panas dan sensitif luar biasa.
Di hadapannya, wajah Maila pun kini memerah merona, matanya berair dan berkabut oleh hasrat yang sama. Ia melingkarkan lengannya ke leher Aldino, mendekatkan wajah mereka tanpa jarak lagi. Suaranya terdengar merajuk namun penuh keganasan yang menggelora.
"Ini baru permulaan saja, Sayang... yang kugunakan adalah jenis yang paling kuat... paling ampuh..."
Maila menempelkan bibirnya tepat di telinga Aldino, berbisik dengan suara yang memburu penuh gairah.
"Nanti... tolong kamu pelan-pelan ya... Aku takut sakit..."
Begitu kata-kata itu selesai terucap, Maila mengerahkan seluruh tenaganya untuk menekan bahu Aldino kembali ke bantal. Tubuhnya yang lentik menindih penuh tubuh kekar pria itu, dan bibirnya yang panas serta basah kembali menempel, mencium dengan penuh nafsu dan keinginan yang sudah tertahan sedari tadi.
Aldino masih berusaha melawan, masih berusaha menolak. Namun perlawanannya mulai melemah. Panas yang membakar tubuhnya beradu dengan rasa dingin dan kelembutan luar biasa yang ia rasakan setiap kali bibir Maila menyentuh kulitnya. Rasa kontras itu begitu tajam, begitu memabukkan, membuat akal sehatnya perlahan mulai hilang kendali.
Lembut... bibirnya begitu lembut dan manis...
Pikiran itu melintas begitu saja di kepala Aldino, dan seketika itu juga, pertahanan terakhirnya runtuh. Tangannya yang besar dan kekar melingkar erat di pinggang ramping Maila, menariknya semakin rapat menempel pada tubuhnya sendiri. Ia membalas ciuman itu dengan ganas, mengubah posisi dominan dalam sekejap.
Ciuman mereka menjadi liar dan tak terkendali. Napas berat dan suara desahan halus berpadu memenuhi ruangan. Pakaian mereka tersingkap dan terlepas satu demi satu, menampakkan kulit yang memancarkan panas tubuh dan keringat dingin. Dalam kebingungan antara marah, terjebak, dan gairah yang meluap, malam panjang itu baru saja dimulai — malam di mana takdir mereka berdua terikat erat oleh sebuah perbuatan nekat yang dilakukan oleh seorang wanita yang berani menantang kekuasaan Grup Ganntara.
Dan di antara kekacauan itu, satu hal yang pasti: Maila Adhirani tidak sekadar ingin menjadi nyonya rumah. Ia datang untuk menaklukkan hati dan jiwa pria terkuat di negeri ini, apa pun risikonya.
​
Berkembang...