Dimas terdiam sejenak. Sendok di tangannya berhenti bergerak, lalu ia meletakkannya perlahan di atas piring. Wajahnya tetap tenang, tapi rahangnya mengeras. “Ma,” ucapnya akhirnya, suaranya rendah namun jelas. “Aku belum pernah bilang setuju soal pertunangan itu.” Ratna langsung menoleh tajam. “Apa maksud kamu, Dimas?” “Sejak awal aku bilang aku belum siap,” lanjut Dimas. “Aku nggak pernah menolak terang-terangan, tapi juga nggak pernah menyetujui. Jadi aku harap Mama dan Papa bisa paham.” Suasana meja makan langsung berubah kaku. Chintya menunduk pelan, jemarinya saling meremas di bawah meja. Ekspresinya sulit dibaca, antara kaget dan berusaha menahan perasaan. Sementara itu, Amira yang duduk di samping Dimas ikut terdiam. Ia tidak berkata apa-apa, tapi dadanya terasa semakin sesak

