Pagi itu, Dimas bersiap berangkat karena ada rapat penting yang harus ia hadiri. Namun langkahnya terhenti ketika melihat Amira berada di halaman depan. Gadis itu sedang menyiram tanaman dengan gaun sederhana berwarna peach, sambil bersenandung pelan. Pemandangan itu terasa hangat dan menenangkan. Untuk sesaat, urusan rapat yang sejak tadi memenuhi pikirannya seperti terlupakan. Dimas mendekat perlahan. Ia berhenti beberapa langkah di belakang Amira, hanya berdiri dan mengamatinya sejenak. Gerakan Amira terlihat ringan, seolah ia menikmati apa yang sedang dilakukannya. Seakan menyadari kehadiran seseorang, Amira menoleh. Ia sempat terkejut melihat Dimas, namun ekspresinya segera berubah ceria. “Selamat pagi,” sapanya dengan senyum riang. “Pagi,” balas Dimas sambil tersenyum. Ia melang

