“Aku pulang,” ucap Dimas malam itu saat baru saja melangkah masuk ke rumah. Di dapur, Amira dan Wina yang sedang menyiapkan makan malam spontan menoleh. Wina menyahut lebih dulu dengan suara hangat, sementara Amira baru menoleh beberapa detik kemudian. Amira tersenyum. “Selamat datang.” Namun senyum itu hanya bertahan sesaat sebelum perlahan menghilang. Ia kembali menunduk, melanjutkan pekerjaannya. Dimas mengangguk sambil melepaskan jasnya. Ia melangkah mendekat, lalu berhenti sejenak. Ada sesuatu yang terasa berbeda, meski ia belum bisa memastikan apa. Amira masih berdiri di tempat yang sama, tapi tidak lagi menyambutnya dengan antusias dan ceria seperti biasanya. Ia bahkan langsung kembali fokus pada apa yang sedang dikerjakannya, seolah kehadiran Dimas hanya bagian dari rutinitas

