Amira memembuka matanya perlahan, menatap pantulan Dimas di cermin, sebagai tanda bahwa dia mendengarkan. Dimas menatap balik dari cermin, ekspresinya serius tapi lembut. “Aku ingin bertanya sesuatu,” ujar Dimas. “Aku harap kamu bisa menjawab dengan jujur. Tapi kalau kamu nggak ingin memberitahunya sekarang, nggak apa-apa. Aku tidak akan memaksa.” Amira tetap diam, menunggu apa yang akan diucapkan Dimas selanjutnya. Dimas menarik napas sebentar, matanya tidak lepas dari pantulan Amira di cermin. “Waktu kamu bicara dengan Om Agus… aku nggak sengaja mendengar sedikit percakapan kalian. Aku hanya ingin mengerti hubunganmu dengan keluargamu. Om Agus bilang dia sudah lama nggak mendengar kabarmu. Amira… sebelum kita bertemu, apa yang terjadi? Kenapa kamu bisa terpisah dari Om Agus?” Amira m

