Bab 26

812 Kata

Dimas mengangkat Amira dalam gendongannya, langkahnya mantap namun lembut. Setiap detik yang berlalu terasa seperti melambat, hanya ada mereka berdua di antara aroma roti panggang dan cahaya pagi yang menembus jendela. Amira menempel di dadanya, tangan menggenggam bahunya, napas mereka saling bersentuhan. Sesampainya di kamar, Dimas menutup pintu perlahan, membiarkan bunyi klik engsel itu menandai ruang kecil mereka menjadi dunia sendiri. Amira menatapnya, mata yang biasanya ceria kini menyimpan kegembiraan dan sedikit rasa malu, membuat hati Dimas bergetar. “Masih hangat,” bisik Amira, ragu-ragu, saat Dimas menurunkan tubuhnya ke kasur dan membiarkan Amira berdiri di hadapannya sejenak. Dimas tersenyum, jarinya lembut menyisir helai rambut yang jatuh di pipi Amira, menyingkirkannya di

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN