Revina berlari sendirian di lorong rumah sakit. Hal yang ada di pikirannya dan tak henti-hentinya ia cemaskan adalah keadaan Hans. Ini mungkin bukan pertama kalinya Revina mendengar Hans dilarikan ke rumah sakit, tapi tetap saja ... mana mungkin ia tidak khawatir? Tiba di ruang perawatan kelas naratama di mana Hans berada, Revina menarik napas sejenak. Perlahan tapi pasti wanita itu mulai membuka pintunya dan duarrrr ... sesuatu yang tak seharusnya ia lihat malah terpampang nyata. Sesuatu yang seharusnya tidak terjadi. Bagaimana tidak, Hans sedang berciuman dengan wanita yang Revina yakini adalah Abel. Ciuman yang bukan sekadar hot, tapi sangat menggebu-gebu. Saking terkejutnya, Revina kembali menutup pintunya. Jantungnya berdetak sangat cepat, nyaris tak percaya dengan yang dilihatnya.

