Gema berjalan di lorong gedung kantornya dengan perasaan kalut. Ia menatap kosong ke depan dengan kepala yang di penuhi dengan masalah akhir-akhir ini. Membawa masalah rumah ke area kantor memang tidak pernah baik. Beberapa pegawai menyapa laki-laki iu dengan hormat. Tapi Gema bahkan tidak mampu hanya untuk tersenyum formal membalas. Kira-kira apa yang dipikirkan oleh pegawai seperti mereka? Apakah mereka juga di tekan seperti yang dialami olehnya? Di tengah pikiran nya yang entah memikirkan apa itu, Gema membuka pintu ruang kerjanya dengan jenguh. Matanya membulat sempurna saat mendapati sosok yang tengah duduk di kursi yang seharusnya menjadi tempatnya. "Selamat pagi, pewaris tunggal keluarga Wijaya." Ujar Pak Arya dengan sinis. Rahang Gema mengeras dengan cepat. "Papah ngapain d

